Ziarah Sunan Sendang Duwur, Alternatif Wisata Religi di Lamongan

0
1282
Pemandangan Daerah Makam Sunan Sendang.

Kabupaten Lamongan memang terkenal dengan wisata religinya. Salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi adalah makam Sunan Drajat, seorang wali yang memiliki peran dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa yang masuk dalam deretan Wali Songo. Selain makam Sunan Drajat, ternyata ada pula seorang wali yang makamnya tidak jauh dari Makam Sunan Drajat, yaitu Sunan Sendang Duwur. Sama seperti para wali lainnya, Sunan Sendang Duwur ini juga memiliki peran yang banyak dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, khususnya di area Lamongan dan Tuban.

Bila kalian sedang melakukan perjalanan ziarah wali, kalian bisa mampir ke sini juga. Makam ini hanya berjarak 5 km dari Makam Sunan Drajat, kira-kira hanya akan memakan waktu 20 menit perjalanan. Lokasinya tepat berada di atas Bukit Amitunon, Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Perjalanan menuju makam ini akan sangat mengasyikkan karena melewati bukit kapur seperti bukit Jaddih di Madura.

Nama asli dari Sunan Sendang Duwur adalah Raden Noer Rahman, putra dari Abdul Kohar Bin Malik Sultan Abdul Yazid yang berasal dari Baghdad, Irak. Beliau lahir pada tahun 1320 dan wafat pada tahun 1585. Gelar Sunan Sendang Duwur berasal dari pemberian Sunan Drajat.

 

Kisah beliau yang terkenal adalah kemampuannya yang bisa memindahkan masjid dari Mantingan, Jepara, ke Desa Sendang Duwur hanya dalam waktu satu malam. Dikisahkan bahwa dulu Sunan Sendang ingin memiliki masjid yang akan digunakan sebagai tempat untuk menyebarkan Islam, namun keinginannya itu terkendala karena tidak memiliki bahan untuk membangunnya. Atas perintah Sunan Drajat, Sunan Sendang pergi ke Mantingan, Jepara, untuk menanyakan masjid milik Mbok Rondho Mantingan sebutan dari Ratu Kalinyamat, putri Sultan Trenggono dari Kerajaan Demak.

Ratu Kalinyamat lantas tidak langsung mengiyakan permintaan Sunan Sendang, beliau berkata, “Aku tidak akan menjual masjid ini, tapi suamiku berpesan siapa saja yang mampu memboyong masjid ini seketika dalam keadaan utuh tanpa bantuan orang lain dalam satu malam. Masjid ini akan aku berikan secara cuma-cuma”. Pada akhirnya, atas izin Allah, Sunan Sendang mampu memindahkan masjid tersebut dalam waktu satu malam, dan sampai sekarang masjid tersebut masih ada dan terawat. Masjid yang berumur lebih dari 470 tahun itu berada di samping komplek Makam Sunan Sendang.

Gaya arsitekturnya sangat berkarakter dengan tonggak-tonggak kayu dan ukiran-ukiran khas Jepara. Beberapa bagian telah diganti karena usianya telah tua, namun bahan asli masih disimpan di lokasi tersebut. Beberapa barang peninggalan yang berusia ratusan tahun dan masih utuh diantaranya adalah mimbar, gentong air dan bedug kulit.

Interior Masjid Sunan Sendang.

Komplek makam Sunan Sendang sendiri memiliki gaya arsitektur perpaduan antara budaya Hindu dan Islam. Gerbang halaman memiliki bentuk seperti candi bentar di Bali, sedangkan pintu masuk berupa gapura berbentuk paduraksa. Letaknya yang berada di daratan tinggi membuatnya memiliki pemandangan yang sangat indah. Dari sini dapat terlihat pemandangan rumah-rumah dan pepohonan hijau nan rimbun, dan yang paling menonjol adalah kubah masjid berwarna biru yang letaknya tak jauh dari makam.

Makam Sunan Sendang sendiri berada di bangunan paling atas. Setelah masuk area makam ikutilah alur jalan hingga mentok. Nanti akan ada tangga naik menuju bangunan seperti rumah. Disanalah letak makam Sunan Sendang. Akan ada seorang juru kunci yang menyambut saat sampai atas. Bila sedang ramai, kalian harus mengantri dulu untuk ke atas, mnunggu peziarah yang lain selesai berdoa dan turun.

Bagi yang berminat untuk melakukan wisata religi ke Lamongan, bisa mampir ke Sunan Sendang. Selain bisa berziarah, kalian juga akan menemui banyak pemandangan indah di sini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.