Yogyakarta, Kota Kenangan Sejuta Umat

0
1804
Gerbang Utama stasiun Tugu, Jogja.

Sudah tak asing lagi jika berbicara tentang Jogjakarta. Kota budaya yang menyimpan banyak sejarah dan kenangan masa lalu. Tak hayal jika kota ini menyandang gelar “Kota Istimewa”. Banyak dari mereka yang beramai-ramai ingin mengunjungi kota ini, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua sekalipun. Kota ini memang cocok dikunjungi oleh semua kalangan. Dengan segala kearifan lokal yang dimilikinya, para pengunjung merasa nyaman dan senang berada dikota ini, akupun demikian.

Di sepanjang jalan Malioboro, tepatnya di titik 0 kilometer, banyak kaum muda yang sedang asyik duduk melingkar sambil mendengarkan alunan gitar akustik dari penyanyi jalanan. Banyak juga pedagang kaki lima yang berkeliling menjajakan dagangannya. Biasanya, para pedagang itu menjajakan kopi sachet, minuman botol, rokok eceran dan juga pulsa. Jika pedagang itu sedia pulsa, ditaruhlah kertas yang dibalut mika diatas barang dagangannya bertuliskan “sedia pulsa”. Aku kagum dengan pemandangan ini. Romantis bukan? Sangat romantis.

Nol kilometer, Malioboro Jogja.

Berseberangan dengan Malioboro, terlihat pemandangan para penumpang keluar masuk gerbong. Disanalah letak stasiun Tugu. Stasiun dengan kapasitas penumpang terbanyak ini, menyediakan berbagai macam rute tujuan. Rute Jogja-Jakarta, Jogja-Semarang, Jogja-Bandung, dan masih banyak rute lainnya. Sebab itulah, stasiun ini tak pernah sepi dari para calon penumpang. Aku pernah sekali naik kereta di stasiun ini dengan tujuan Jogja-Bandung. Kereta itu bernama “Gajah Wong”. Tau artinya? “Gajah” adalah hewan besar berkaki empat dengan belalai panjang, sedangkan “Wong” adalah bahasa jawanya orang. Jadi kalau diartikan, “Gajah Wong” adalah “Gajah Manusia”. Aku tidak mengetahui maksud nama itu, mungkin hanya sekedar nama. Atau mungkin nama itu mengandung filosofi. Entahlah!

Aku terus berjalan, sibuk menangkap gambar dengan smartphone yang aku punya. Menurutku, ini adalah momen yang harus diabadikan. Sesekali, aku duduk ditempat duduk yang telah di sediakan oleh pengelola Malioboro. Dari kejauhan, tampak seorang kakek di temani istrinya sedang bernyanyi memakai alat pengeras suara dengan mata terpejam. Sekali lagi, dengan mata terpejam. Mereka duduk didekat tiang lampu jalanan. Mereka menaruh asa dihadapan para pejalan kaki agar menyisihkan sedikit uang, atau kata lain seikhlasnya untuk diberikan kepada mereka.

Benar, mereka adalah sepasang pengamen. Aku malu melihatnya, malu karena aku yang tanpa keterbatasan sering mengeluh dalam menjalani hidup. Padahal, mereka yang notabenenya mempunyai keterbatasan fisik, tak pernah mengeluh sedikitpun. Mereka tetap semangat menjalaninya, bagaimapun cara yang dilakukan, termasuk bernyanyi dengan mata terpejam. Semoga Tuhan menyertai mereka.

Jl. Malioboro, Jogja.

Aku berdiri, lanjut melangkahkan kaki setelah duduk sejenak. Jam tangan menunjukkan pukul 21.00 WIB, itu artinya hari sudah mulai malam. Namun disini, semakin malam malah semakin ramai saja. Aku berjalan tanpa tujuan memang. Karena dengan aku berjalan tanpa tujuan, aku dapat menentukan tujuan. Haha

Inilah Jogjakarta. Kota kenangan sejuta umat. Kota rujukan sebagai destinasi wisata yang wajib dikunjungi oleh mereka para wisatawan. Kota romantis yang cocok untuk bercumbu mesra dengan dinginnya angin malam. Kota yang cocok buat kalian untuk menyendiri, mengenang semua kenangan ketika masih bersama pasangan. Jadi, aku saranin agar kalian yang baru saja putus untuk mampir ke kota ini. Karena kota ini bukanlah kota duo sejoli, melainkan kota kenangan sejuta umat. Kalian tidak bakal merasa sepi kok, aku jamin Jogja pasti menemani sepi kalian. Selamat bermesraan dengan Jogjakarta ya! =)

Sekali lagi aku katakan, YOGYAKARTA. KOTA KENANGAN SEJUTA UMAT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.