Wisata Menilik Jejak Sejarah Merapi 2010 di Museum Rumah Mbah Marijan

0
318
Kondisi ruang tamu dirumah mbah marijan yang sudah tinggal kenangan.

Jika kalian sedang mengagendakan berwisata di Yogyakarta khususnya di daerah Jl. Kaliurang, atau di daerah Gunung Merapi jangan lupa mengunjungi Museum Rumah Mbah Maridjan, atau biasa disebut dengan petilasan Mbah Marijan. Rumah Mbah Marijan ini terletak di Desa Kinahrejo, Kecamatan Umbulharjo, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Terletak di kaki Gunung Merapi, pada letusan tahun 2010 yang lalu, Desa Kinahrejo merupakan salah satu desa yang ludes dilahap aliran lahar dari muntahan gunung yang dulunya bernama Candrageni.

Tidak sengaja dalam perjalananku dan teman-teman menyusuri jalanan Kaliurang, kami melihat tulisan “Museum Rumah Mbah Marijan”. Tanpa pikir panjang, dan dengan rasa penasaran yang tinggi, kami pun mengikuti petunjuk arah untuk mengunjungi rumah tersebut. Untuk bisa sampai ke lokasi, terdapat pilihan transportasi, yakni naik motor dengan didampingi tour leader dari dusun setempat seharga Rp50.000 untuk 1 tour leader, menggunakan ojek motor oleh warga setempat, atau menggunakan Jeep seharga sekitar Rp600.000 per Jeep, dengan catatan, harga bisa berbeda–beda, tergantung kesepakatan pembeli dan pemilik kendaraan.

Gapura selamat datang di area petilasan mbah marijan.

Warga di desa tersebut menjelaskan kepada kami bahwa biaya tersebut digunakan untuk menambah penghasilan warga desa tersebut. Medan yang dilalui menanjak dan jalanan yang sempit. Akan lebih terasa sensasinya apabila kita menggunakan Jeep, apalagi jika berwisata grup dengan teman atau keluarga, keseruannya akan berkali lipat.

Sesampainya di Museum Rumah Mbah Marijan, hatiku pun berdecak merinding dan sontak membayangkan bagaimana dahsyatnya letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 lalu. Suasana bekas bencana sangat terasa setelah melihat rumah Mbah Marijan yang tinggal kenangan. Sesaat teringat bagaimana dulu Sang Juru Kunci Merapi tersebut terkenal hingga menjadi bintang iklan sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya karena erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010. Mbah Marijan ditemukan tak bernyawa di rumahnya dalam kondisi bersujud. Tak jarang, wisatawan asing dan lokal yang berwisata ke Merapi, mengunjungi rumah Mbah Marijan untu menyaksikan saksi bisa letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 silam.

Mobil evakuasi yang terlahap aliran lahar.

Di sana terdapat makam Mbah Maridjan, Masjid Mbah Maridjan yang sudah direnovasi, koleksi barang-barang yang terkena lahar, motor warga yang terkena lahar, mobil evakuasi yang dulu hendak menjemput Mbah Maridjan, gerabah, foto-foto bencana Merapi 2010, sejarah Merapi, dan lain sebagainya. Museum tersebut dikelola oleh warga dusun setempat dan juga adik kandung Mbah Maridjan, yakni Ibu Udi yang membuka warung di dekat lokasi tersebut berjualan jadah dan tempe. Jadah merupakan makanan khas di daerah tersebut yang terbuat dari beras ketan.

Pertama kali masuk, kalian akan melihat gapura selamat datang dan masjid di atas pasir yang berada di samping rumah Mbah Marijan. Memasuki lokasi museum, tepat di samping kiri merupakan rumah Mbah Marijan. Mataku langsung tertuju dengan benda-benda yang dulunya terjebak lahar. Mulai dari gamelan Mbah Marijan yang masih utuh, kemudian disampingnya terdapat motor Pak Asih warga setempat yang ikut tertimbun lahar dingin. Masih berada dalam satu lokasi dengan motor, terdapat mobil evakuasi yang rusak terkena erupsi. Mobil tersebut merupakan mobil yang hendak menjemput Mbah Marijan dan warga setempat, akan tetapi mereka tidak bersedia untuk turun ke posko hingga semuanya tersapu lahar termasuk relawan dan wartawan yang menjemput.

Makam mbah marijan.

Pada dinding rumah, terdapat foto-foto setelah letusan didaerah Kinahrejo. Foto tersebut merupakan saksi bisu erupsi Merapi 2010. Pada bagian tengah terdapat kursi ruang tamu dan macam-macam gerabah yang tertimbun lahar. Tak jauh dari tempat koleksi atau museum rumah Mbah Marijan, tepat di sampingnya terdapat petilasan Mbah Marijan. Petilasan tersebut merupakan titik ditemukannya Mbah Marijan setelah erupsi dan saat ini menjadi makam dari jasad Mbah Marijan. Dalam ruangan makam tersebut juga terdapat foto Mbah Marijan. Beberapa pegunjung dapat menyekar ke makam tersebut untuk mengirim doa kepada Mbah Marijan. Beliau merupakan sosok yang terkenal dengan kesetiaanya terhadap Merapi sebagai guru kunci atau sang penjaga Gunung Merapi.

Begitulah cerita pengalamanku berkunjung ke rumah Mbah Marijan yang sudah tinggal kenangan. Tempat ini sangat direkomendasikan untuk dikunjungi, apalagi bagi kalian yang tertarik melihat sejarah akan suatu hal. Sejarah letusan Gunung Merapi juga dijelaskan di sana.

Selain itu, jangan lupa juga untuk mencicipi jadah yang dijual oleh Ibu Udin, adik Mbah Marijan. Kalian juga bisa bertanya–tanya lebih lanjut kepada beliau, atau warga setempat, atau tour leader yang ada. Untuk memasuki kawasan ini, kalian tidak ditarik biaya kunjungan alias gratis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.