Wisata Edukasi Penyu di Penangakaran Penyu Pulau Kelapa Dua Kepulauan Seribu

0
801
Pantai di dekat tempat penangkaran penyu.

Tak lengkap rasanya jika berwisata ke Kepulauan Seribu tanpa mengunjungi tempat penangkaran penyu. Penyu adalah hewan langka yang dilindungi dengan berbagai keistimewaan mulai dari mata sampai cangkangnya. Berbeda dengan kura-kura yang mudah dijumpai di berbagai wilayah karena jumlahnya banyak, penyu adalah hewan langka di dunia yang patut untuk dikembangbiakkan dan dilindungi dari upaya pemburuan liar. Konon, banyak penyu diburu untuk obat herbal di China sehingga keberadaan penyu perlu untuk terus dipelihara dan dijaga dengan baik.

Melihat penyu dari jarak dekat sangat sulit dilakukan jika tidak mengunjungi tempat penangkarannya langsung. Di sebuah pulau di gugusan Kepulauan Seribu, ada sebuah pulau khusus untuk penangkaran penyu di sana, pulau itu bernama Pulau Kelapa Dua. Jika kalian sudah akrab dengan Jakarta maka tidak asing mendengar nama Kelapa Dua karena tempat itu namanya sama persis dengan daerah di Jakarta Barat. Barangkali namanya terinspirasi dari Pulau Kelapa Dua. Sesuai namanya, di sana banyak sekali pohon kelapa menjulang tinggi. Pohon kelapa itu akan menyambut kedatangan kita ke pulau kecil itu.

Depan ruang penangkaran penyu yang cukup ramai.

Sebelum masuk ke tempat penangkaran, kita harus membayar uang masuk sebesar lima ribu rupiah, harga ini bisa saja naik karena antusiasme wisatawan yang tinggi. Karena saya bersama rombongan open trip maka saya kira akan gratis ternyata bayar juga. Awalnya, Pulau Kelapa Dua bukan destinasi penyedia trip namun karena berbagai alasan maka destinasi diubah ke Pulau Kelapa Dua. Tak apalah, 5 ribu rupiah untuk wisata edukasi penyu.

Penyu yang sudah dewasa.

Begitu masuk ke ruang berukuran kecil, kita akan disambut penyu-penyu kecil yang jumlahnya sangat banyak. Ada yang berukuran sedang sampai besar. Penyu-penyu itu diperhatikan secara khusus. Sayangnya hanya penyu sisik yang dilindungi di sana. Penyu dengan sebutan latin Eretmochelys imbricate ini memiliki tubuh bersisik berwarna hitam dan putih. Banyak pengunjung yang rela antri untuk berfoto sambil memegang penyu besar. Saya tidak tega melihat penyu-penyu itu dipegang-pegang namun kata petugas tidak masalah asalkan tidak lama-lama megangnya. Saya takut ketika dipegang, penyu itu jatuh apalagi penyu adalah hewan yang dilindungi di dunia.

Sayangnya lagi, bulan Agustus bukanlah waktunya penyu untuk menetas. Sehingga kami tidak bisa melihat atau melepaskan penyu-penyu kecil ke lautan lepas. Padahal sebelum ke sana, saya sudah ada bayangan untuk melepaskan penyu-penyu itu ke habitat aslinya seperti layaknya di berita-berita yang saya tonton. Sayang sekali, saya hanya puas dengan melihat penyu unyu-unyu itu.

Hutan bakau di samping tempat penangkaran penyu.

Setelah puas dengan penyu, kita akan disambut hutan bakau dengan jembatan kayu khasnya. Di sana kita bisa berfoto-foto atau berpura-pura menanam mangrove lalu klik, terbitlah foto pencitraan tersebut di media sosial. Di sebelah hutan mangrove terdapat kuburan warga. Agak seram juga jika ke sana di waktu sepi. Untungnya, saya ke sana bersama rombongan dan bertepatan dengan hari libur jadi tidak sepi-sepi amat.

Setelah puas di hutan bakau, waktunya mantai. Pantai di Pulau Kelapa Dua memang menawan karena pasirnya putih dan airnya sangat jernih. Namun saya tidak diperbolehkan untuk berenang karena tujuan utama kami hanya melihat penyu. Tentu saja durasi kami di pulau yang dihuni beberapa nelayan itu hanya kurang dari tiga jam. Tapi saya sangat puas ketika bisa melihat gerombolan bulu babi di sekitar pantai. Bulu babi itu sangat terlihat dengan jelas. Namun kita perlu berhati-hati di sekitar pantai karena karang-karang di sana sangat tajam. Selain itu cuaca musim kemarau yang panas membuatku menyesal tidak membawa payung atau topi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.