Wisata Buku di Kampung Buku Jogja 2019

0
428
Penjualan buku-buku.

Kota Yogyakarta terkenal sebagai kota wisata, sebutannya kota gudeg. Tapi, beberapa sebutan lain untuk Yogya, salah satunya adalah kota pelajar. Sebutan ini disebabkan karena banyaknya universitas atau perguruan tinggi di kota ini, sehingga setiap tahunnya selalu ada ribuan penghuni baru.

Di sisi lain, pariwisata kota Yogyakarta pun berkembang menjadi banyak bidang. Karena kota ini adalah kota pelajar, maka wisata pendidikan pun cukup berkembang. Banyak sarana dan objek wisata yang sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mencari ilmu. Salah satunya adalah wisata buku dan budaya.

Nah, tulisan ini merupakan ulasan salah satu festival buku besar di Yogyakarta. Selain sebagai sarana ilmu, festival ini juga menjadi sebuah area wisata bagi wisatawan dari luar kota yang senang membaca buku dan tertarik dengan budaya literasi di Yogyakarta. Selamat datang di Kampung Buku Yogyakarta 2019!

Ulasan, Buku, dan Daya Tarik.
Promo dan obral buku.

Kampung Buku Jogja (KBJ) merupakan sebuah festival buku yang sangat massal. KBJ bahkan berlangsung dari tanggal 2-5 september 2019, dari pukul 09:00-21:00. Banyak sekali penerbit yang berpartisipasi, mulai dari penerbit besar, penerbit populer, sampai penerbit independen. Selain itu, ada juga beberapa penjual buku lawas sampai dokumen langka dari zaman kolonial Belanda!

Senin sore, pada 2 September 2019, merupakan hari pertama penyelenggaraan KBJ berlangsung. Jalanan menuju Universitas Gadjah Mada, tempat berlangsungnya KBJ, cukup padat. Sekitar pukul 15:00 saya sampai dan nampaknya sudah mulai penuh pengunjung. Saya pun masuk ke gedung PKKH. Ternyata sedang ada forum berlangsung, yang menjadi pembicaranya adalah Ayu Utami, sastrawan terkenal penulis novel Saman. Suasananya cukup ramai, karena ternyata bukan hanya pameran buku saja, tapi ada forum, talkshow, ada penjualan makanan, dan kegiatan lainnya.

Ternyata, banyak juga orang luar kota yang datang ke KBJ, ada yang dari wilayah Jawa Tengah bahkan sampai Jawa Timur. Dibandingkan dengan festival buku lain di Indonesia, festival ini bukanlah yang terbesar. Tapi, talkshow, forum, dan penulis yang hadir sangat banyak. Itulah yang menjadi salah satu daya tarik dari KBJ.

Selain itu, banyaknya penerbit menjadi daya tarik lain dari KBJ. Bahkan, penerbit independen juga menawarkan buku-buku yang tidak kalah menarik dibanding penerbit besar. Pengunjung benar-benar diberi pilihan buku, dari tema serius sampai yang ringan. Dari mulai karya ilmiah sampai kumpulan puisi.

Kartu pos zaman Belanda yang bergambar “Hotel Preanger” tahun 1880.

Hal yang menarik bagi saya adalah penjual buku dan dokumen lawas. Saya melihat lihat buku berbahasa Belanda, koran berbahasa melayu, sampai kartu pos zaman kolonial Belanda. Saya tertarik sekali dengan kartu kartu posnya, yang ternyata dijual dengan harga Rp5.000 saja! Saya langsung membeli beberapa kartu pos dengan gambar unik dan juga klasik.

Kampung Buku Jogja 2019 menawarkan festival buku yang sangat berbeda dengan festival pada umumnya. Mulai dari forum dengan sastrawan sampai penjualan dokumen lawas, merupakan ide yang sangat menarik. Pengunjung atau bahkan wisatawan yang senang dengan buku tampaknya sangat menikmati KBJ 2019.

Walaupun begitu, masih ada beberapa sisi yang perlu diperhatikan dalam KBJ 2019, terutama soal fasilitas dan sarana yang digunakan. Misalnya, ketika malam hari, tidak semua sisi terbuka gedung memiliki penerangan yang cukup. Lalu kondisi parkiran motor pun terasa kurang tertata dengan baik, yang mengakibatkan pengunjung cukup kerepotan untuk mencari tempat parkir. Namun, secara keseluruhan, KBJ 2019 sangat baik dan menarik!

Tertarik mengunjungi KBJ? Tunggu penyelenggaraan selanjutnya di tahun 2020, ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.