Vihara Dharma Bhakti, Tempat Bersejarah yang Instagramable

0
1001
Salah Satu Spot dengan Cahaya Alami.

Wisata di Jakarta tidak melulu tentang art exhibition. Semakin berkembangnya zaman, teknologi pun semakin berkembang. Pemahaman dan kepekaan seseorang terhadap tradisi dan sejarah semakin menipis. Media sosial, Mall, dan berbagai tempat kekinian lainnya merupakan instrumen yang lebih melekat. Sehingga tempat-tempat yang menurut masyarakat atau generasi sekarang tidak menarik itu semakin ditinggalkan, salah satunya ada di bilangan Glodok, Jakarta Barat.

Kawasan Glodok berada di Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Sejak zaman Belanda, wilayah Glodok sudah terkenal sebagai wilayah pecinan terbesar di Batavia. Mayoritas masyarakat Glodok merupakan keturunan tionghoa. Kondisi demografi yang ada menjadikan Kawasan Glodok menjadi salah satu kawasan yang unik. Hal ini terkait dari sejarahnya sendiri dan juga tradisi yang terus diturunkan sampai generasi sekarang. Keunikan kawasan Glodok menjadi daya tarik tersendiri sehingga mengundang orang untuk mendatanginya.

Salah satu Vihara / Klenteng yang bisa ditemukan di area Glodok ini adalah Vihara Kim Tek Ie atau yang lebih dikenal dengan Vihara Dharma Bhakti yang berada di sudut jalan antara Jl. Kemenangan 3 dan Jl. Kemenangan Raya, yang juga menjadi salah satu Vihara tertua di Kota Jakarta. Meskipun Vihara ini pernah terbakar pada tahun 2015 lalu, tapi bangunannya masih sangat kokoh berdiri, meski pada beberapa bagian bangunan terlihat sedikit menghitam akibat kebakaran tersebut.

Pintu Gerbang Vihara Dharma Bhakti.

Vihara Dharma Bhakti didirikan pada tahun 1650 dengan nama Kwan Im Teng dengan luas Vihara kurang lebih 3.200 m2. Sebelum kebakaran pada tahun 2015, sempat santer diberitakan juga bahwa pada tahun 1740 Vihara ini terbakar dan menjadi saksi bisu atas peristiwa pembantaian etnis Tionghoa oleh tentara Kolonial VOC di tahun 1740, lalu Vihara ini diperbaharui dan namanya pun diubah menjadi Kim Tek Ie.

Di bawah pengelolaan dari lembaga Dewan Vihara Indonesia (DEWI) di tahun 1965, terjadi tindakan pemutusan akar ke-tionghoa-an dengan masyarakat Indonesia, sehingga tempat yang memiliki nama Tionghoa ini dianjurkan untuk menyembunyikan unsur-unsur Taois yang ada dan menonjolkan sifat Buddhis dari klenteng, lalu nama Kim Tek Ie diubah menjadi Vihara Dharma Bhakti yang bila diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia berarti Klenteng Keutamaan Emas.

Warisan yang ditinggalkan didukung dengan adanya orang yang menjaga warisan tersebut. Pengelola selalu mengkondisikan Vihara ini agar selalu bisa digunakan untuk prosesi ritual, sehingga ritual yang menghubungkan manusia dengan dewa tidak terganggu oleh hal apapun.

Area Resepsionis.

Saat masuk ke Vihara ini kami akan disambut dengan gerbang masuk yang bertuliskan nama Vihara Dharma Bhakti ini. Bagi pengunjung yang datang tidak untuk beribadah ada semacam meja resepsionis yang dijaga oleh satpam, hal ini bertujuan untuk melaporkan perihal kunjungan kita ke Vihara ini.

Setiap orang diterima secara terbuka di Vihara ini dan menjadikan tempat ibadah yang banyak dikunjungi, juga menjadi salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan mancanegara.

Bangunan arsitektur dan pendukungnya sangatlah kuat, sehingga hal ini tentunya juga bisa dimanfaatkan untuk menjadi objek foto yang menarik. Bukan hanya bagian depan dari bangunan, bagian interior pun tak kalah menarik untuk menjadi objek dalam berfoto. Pada beberapa tempat di Vihara ini, pengunjung diwajibkan untuk membuka alas kaki dan ada larangan untuk mengambil gambar. Namun, masih banyak lokasi yang dapat dijadikan sebagai objek untuk berfoto.

Banyak Wisatawan Asing yang Berkunjung.

Kehadiran dari jendela yang terbuka selain bisa membuat meneruskan cahaya luar untuk masuk ke dalam dan menerangi ruangan, tapi juga bisa membuat Vihara ini menjadi lebih instagramable dan bagus untuk berfoto. Sehingga kualitas ruang yang terbentuk dan pencahayaan yang tercipta menghasilkan perpaduan yang sangat baik.

Vihara Dharma Bhakti yang kami kunjungi merupakan tempat yang memiliki sejarah yang kuat. Warisan terbesar selain bangunan dan benda fisik lainnya, yaitu tradisi, kebiasaan yang dilakukan terus diturunkan, dan dihargai keberadaannya karena merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang terlibat dan memiliki ikatan dengan warisan yang ada dan dapat dimanfaatkan untuk menjadi salah satu lokasi wisata yang unik serta memiliki daya tarik tersendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.