Ullen Sentalu, Museum “Feminis” di Masa Lalu

0
1602
Replika relief candi Borobudur yang sengaja dipasang miring untuk menggambarkan tentang masyarakat Jawa yang telah meninggalkan budayanya.

Sudah lama sekali ingin mengunjungi Museum Ullen Sentalu karena sering melihat teman-teman yang di Jogja memasang foto dirinya di depan “watu miring” yang ada di museum ini. Niat ingin main ke Museum Ullen Sentalu sudah ada sejak masih bekerja di kota istimewa ini, tapi keinginan tersebut baru terlaksana pada bulan Agustus 2018 setelah tidak lagi tinggal dan bekerja di Jogja. Agenda kunjungan ke museum ini dilakukan bersama teman-teman “seperjuangan” selama tinggal di Jogja. Saya dengan empat orang teman mengendarai tiga sepeda motor menuju ke daerah Pakem, Kaliurang, arah utara Jogja. Sekitar satu jam perjalanan jika naik kendaraan dari pusat kota Jogja.

Sekitar pukul 11.00 kami sampai di parkiran museum, saya melihat bangunan dengan gaya arsitektur gotik. Sepi dan mistis, itu kesan pertama yang saya rasakan ketika berdiri di parkiran dan memperhatikan suasana di sekitar bangunan museum. Berlima kami bergegas menaiki tangga menuju bangunan utama. Sesampainya di lobby kami membeli tiket masuk Rp 40.000/orang.

Uniknya dari museum ini adalah pengunjung tidak bisa langsung masuk setelah membeli tiket, apalagi jika baru saja ada grup wisatawan yang masuk. Maka pengunjung harus menunggu kurang lebih 15 menit. Tujuannya agar tidak ada penumpukan pengunjung di dalam museum. Keunikan kedua, pengunjung masuk secara berkelompok dan tiap kelompok terdiri dari maksimal 15 orang didampingi oleh pemandu yang akan menerangkan koleksi-koleksi yang ada di dalam museum karena tidak ada  label di setiap koleksinya.

Tangga menuju lobby museum.

Sebelum memulai menyusuri museum, pemandu mengingatkan agar pengunjung tidak mengambil gambar di dalam museum. Di awal perkenalan museum pula akhirnya saya tahu kenapa nama museum ini Ullen Sentalu. Ullen Sentalu merupakan kependekan dari “ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku” yang memiliki arti “Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”. Filosofi tersebut diambil dari sebuah lampu minyak yang biasa dipergunakan saat pertunjukan wayang kulit. Lalu kami mulai menyusuri ruang-ruang yang ada di museum ini.

Ada Sembilan ruang di museum ini dengan fungsi dan koleksi yang berbeda, yaitu:

·   Ruang Selamat Datang, merupakan area penyambutan tamu atau pengunjung museum.

· Ruang Seni Tari dan Gamelan, di sini kami menemukan seperangkat gamelan yang merupakan hadiah hibah dari seorang pangeran Kasultanan Yogyakarta.

· Ruang Guwa Sela Giri, ruangan bawah tanah yang memamerkan karya lukisan dokumentasi tokoh-tokoh dari Dinasti Mataram.

· Ruang Syair (Balai Sekar Kedaton), tempat di mana syair-syair yang ditulis oleh para kerabat dan teman-teman GRAj Koes Sapariyam pada tahun 1939-1947 ditampilkan. GRAj Koes Sapariyam konon dulunya lebih dikenal dengan sebutan Tineke, yang kisah cintanya tak direstui orang tuanya. Dan para kerabat serta sahabatnya banyak mengirim surat penyemangat untuknya. Namun pada akhirnya, Putri Tineke ini melepas status ningratnya untuk mengejar cinta.

Arsitektur gotik yang begitu kuat.

· Royal Room Ratu Mas, ruangan khusus yang dipersembahkan untuk permaisuri Sunan Paku Buwana X.

·  Ruang Batik Vorstendlanden, ruangan ini banyak menyimpan koleksi batik.

· Ruang Batik Pesisiran, hampir sama dengan Ruang Batik Vorstendlanden yang juga menyimpan koleksi batik.

· Ruang Putri Dambaan, yang menampilkan koleksi foto pribadi putri tunggal Mangkunegara VII, Gusti Nurul dari kecil hingga menikah. Semasa hidupnya, Gusti Nurul ini dikenal sebagai seorang putri bangsawan Jawa yang anti poligami, cerdas dan lihai menari. Bahkan ia juga pernah menari di Belanda pada tahun 1937 di pernikahan putri Juliana. Gusti Nurul pernah hendak dipersunting oleh empat tokoh terkenal, yaitu Soekarno, Sultan Hamengkubuwono IX, Sutan Sjahrir dan Kolonel GPH Djatikusumo. Namun keempatnya ditolak, dan ia memilih untuk menikah dengan seorang tentara.

Salah satu spot favorit untuk berfoto.

·  Sasana Sekar Bawana, yang berisi beberapa lukisan raja Mataram.

Diantara ruang-ruang di museum ini yang paling menarik adalah Ruang syair dan Ruang Putri Dambaan. Di ruangan ini diceritakan bagaimana “pemberontakan” yang dilakukan oleh para putri keraton pada masa itu atas nama cinta dan prinsip. Dua ruang yang dipersembahkan untuk Putri Tineke dan Gusti Nurul, dua putri kerajaan Kerajana Mataram. Putri Tineke berusaha menunjukkan bahwa setiap wanita berhak mencintai siapapun, berhak menentukan dengan siapa dia akan menghabiskan masa tuanya tanpa harus ada campur tangan orang tua dalam menentukan jodoh anak-anaknya. Selain itu wanita bukanlah manusia kelas dua yang harus takluk oleh prinsip patriarki yang begitu kuat melekat di lingkungan kerajaan. Para putri keraton yang sebelumnya dibiasakan untuk menerima jika suaminya kelak memiliki istri lebih dari satu, dan prinsip tersebut berusaha didobrak oleh Gusti Nurul yang anti dengan poligami.

Jam Buka
Senin tutup
Selasa - Jumat 08.30 - 16.00 Wib
Sabtu & Minggu 08.30 - 17.00 Wib

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.