Tukad Badung Sungai Ala Cheonggyocheon Korea

0
2799
Tukad Badung malam hari.

Beberapa kali ke Bali, hampir tidak pernah singgah di Denpasar karena menurut saya Denpasar itu kurang “Bali” dan juga tak terlalu banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi. Masih terlalu “kota” menurut saya. Baru minggu kemarin setelah sekian kalinya mengunjungi Bali, saya menyempatkan diri untuk singgah di Denpasar, Ibukota Bali. Bukan karena iseng semata, tapi mampir di kantor tempat saya bekerja yang cabangnya berada di Bali. Kemudian dua orang teman menawarkan untuk menemani jalan-jalan di kota tuanya Denpasar dan sayapun setuju.

Perjalanan di mulai pukul 4 sore. Perjalanan yang direncanakan akan banyak jalan kakinya ini tiba-tiba harus berubah rencana karena bersamaan dengan Presiden RI yang sedang meresmikan Pasar Seni Kumbasari yang baru saja terbakar beberapa bulan lalu. Sehingga kami pun putar arah dan memutuskan untuk mengunjungi salah satu sungai di Denpasar yang sedang menjadi ikon baru kota ini, yang kebetulan letaknya di samping Pasar Seni Kumbasari. Ya tak apa lah, presiden melewati jalan yang ada diatas kami, sedangkan kami berada di sungai yang ada dibawah jalan raya itu.

Tukad Badung sore hari.

Pasti banyak dari kalian pernah tahu sungai Cheonggyecheon yang ada di Korea? Sungai yang dijadikan tempat untuk nongkrong juga berfoto ini resmi dibuka untuk publik pada tahun 2005. Kalau kata orang, belum ke Korea kalau belum ke Cheonggyecheon. Makin lama sungai ini makin terkenal dan  kerap kali dijadikan contoh untuk pengolahan sungai di tengah kota. Nah, Denpasar pun memiliki sungai yang penataannya tak beda jauh dari sungai Cheonggyecheon ini. Namanya Tukad Badung.

Tukad Badung menjelang malam hari.

Tukad sendiri dalam Bahasa Bali artinya adalah sungai. Terletak di sebelah Pasar Seni Kumbasari dan Pasar Badung yang ada di Denpasar dan diresmikan pada tahun 2017. Sungai ini dibangun berkelok-kelok lengkap dengan jogging track (yang juga bisa digunakan sebagai track bersepatu roda). Oh iya, karena bentukan sungai yang mirip dengan sungai yang di Korea, geotag tempat ini pun juga ada yang muncul Tukad Korea.

Menariknya, terdapat banyak petugas di sebelah kanan dan kiri sungai yang bertugas menyaring atau mengambil sampah plastik yang ada yang disana. Sehingga sungai yang tak begitu dalam ini sangat bersih sekali dan bebas dari sampah plastik. Para petugas sangat cekatan dalam mengontrol kebersihan sungai sehingga bisa dipastikan tak akan ada sampah plastik yang mengapung di sungai. Di sepanjang sungai ini terdapat tempat duduk dan tempat bersantai untuk menikmati sore atau malam hari. Tak usah khawatir, tempat ini bebas nyamuk kok.

Lukisan wanita Bali jaman dulu, dilukis dengan kopi.

Terdapat pula lukisan wanita Bali jaman dahulu yang dilukis dari kopi. Lukisan ini terdapat di dinding yang ada di pinggiran sungai. Meskipun terletak tak jauh dari jalan raya, sungai ini tak terlalu terasa bisingnya. Malah gemericik air yang lebih sering terdengar. Uniknya lagi, banyak dari pengunjung yang memanfaatkan sungai ini untuk memancing. Entah sungai ini memiliki ikan atau tidak, yang jelas banyak sekali pemancing di pinggir sungai ini.

Tukad Badung dari atas.

Melihat sungai ini, saya pun membayangkan bagaimana jadinya kalau setiap sungai yang ada di Indonesia dirawat dan bersih seperti ini? Pasti akan menjadi hal yang sangat menguntungkan bukan? Kita bisa memiliki sungai yang fungsinya dinormalisasi, pun begitu kita juga akan terbiasa melihat sungai yang bersih dan tanpa sampah. Pasti menyenangkan.

Ah melihat sungai bersih begini, siapa sih yang nggak ingin ngopi di pinggir kali cantik dan bersih ini? Mau ngopi bareng nggak?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.