Tugu Khatulistiwa Parigi Moutong, Telur Ayam dapat Berdiri di Sini!

0
358
Pemandangan di sekitar Tugu Khatulistiwa Parigi Moutong
Pemandangan di sekitar Tugu Khatulistiwa Parigi Moutong

Panas. Merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan suasana ketika saya dan teman-teman Sanjayo tiba di Tugu Khatulistiwa Parigi Moutong. Debu beterbangan, matahari seakan sangat dekat dengan kepala. Mata kami refleks mengaktifkan mode perlindungan dengan cara sedikit dicipitkan.

Hawa panas memang telah menjadi ciri khas wilayah yang dilewati oleh garis khatulistiwa – sebuah garis khayal yang membentang di tengah-tengah planet bumi dan membaginya menjadi dua bagian – belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Kabar baiknya, wilayah yang dilewati garis ini mempunyai keragaman hayati yang lebih banyak dibanding tempat lain. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan kami memiliki satwa endemik seperti tarsius, anoa, dan burung maleo, serta tumbuhan kayu hitam atau eboni.

Waktu itu hampir jam satu siang. Kami berteduh di bawah pohon mangga kwini – di tepi jalan Trans Sulawesi Desa Khatulistiwa Kecamatan Tinombo Selatan, Provinsi Sulawesi Tengah. Sekitar 50 meter dari tempat kami, tampak Tugu Khatulistiwa yang berdiri gagah di tengah-tengah hamparan rumput hijau.

Tugu Khatulistiwa kabupaten Parigi Moutong
Tugu Khatulistiwa kabupaten Parigi Moutong

Tugu Khatulistiwa Parigi Moutong merupakan hasil karya bakti Latihan Integrasi Taruna Dewasa (LATSITARDA) Nusantara XIII (1991-1992) yang diresmikan oleh Panglima ABRI Jendral TNI Try Sutrisno pada bulan Juli tahun 1992. Tugu ini dibangun sebagai penanda bahwa lokasi itu berada tepat di lintasan garis 0o. Namun pada kenyataannya, titik koordinat 0o yang sebenarnya bergeser sekitar 60 meter ke arah utara dari tugu. Hal ini disebabkan karena pada awal penandaannya metode dan alat yang digunakan belumlah seakurat saat ini. 

Tugu Khatulistiwa memiliki ketinggian sekitar 7 meter dengan tiang utama tugu berbentuk bulat, yang dicat senada dengan motif seragam TNI. Terdapat empat tiang lain berbentuk bambu kuning yang mengelilingi tiang utama. Di puncak tugu, miniatur peta Sulawesi Tengah bertengger indah, lengkap dengan penujuk arah mata angin yang diletakkan pada bagian yang menunjukkan lokasi Teluk Tomini.

Tak ingin menunggu lama, kami bergegas membeli telur ayam. Sudah sering kami mendengar kabar tentang telur ayam yang dapat berdiri tegak di Tugu Khatulistiwa namun baru kali ini memiliki kesempatan untuk membuktikannya secara langsung. Sebagian orang berkata bahwa hanya ‘orang-orang tertentu’ yang berhasil melakukan percobaan ini. Oke. Mari kita coba.

Untuk percobaan telur ayam ini, kami melakukannya di lokasi titik 0o yang sesungguhnya – sekitar 60 meter dari Tugu Khatulistiwa. Tempat itu dibuat seperti teras berukuran kecil. Titik 0o ditandai oleh adanya sebuah tabung dengan tinggi sekitar 15 cm yang di atasnya terdapat lempengan besi. Di lempengan besi inilah kami mecoba memberdirikan telur.

Fenomena telur ayam dapat berdiri tegak di sekitar Tugu Khatulistiwa Parigi Moutong
Fenomena telur ayam dapat berdiri tegak di sekitar Tugu Khatulistiwa Parigi Moutong

Berkali-kali percobaan kami gagal hingga satu butir telur harus menjadi korban. Pecah. Masi tersisa dua butir telur lagi. Tadi kami membeli 3 butir telur seharga lima ribu rupiah. Pantang menyerah, kami pun terus mencoba. Dan lagi-lagi gagal. Melihat kehebohan kami, seorang Bapak yang tinggal di sekitar tugu mendekat dan menawarkan untuk membantu. Tak memunggu lama, Bapak itu berhasil. Telur ayam telah berdiri tegak. Kami bersorak kegirangan. Ternyata bukan hanya di tabung dengan lempengan besi telur bisa berdiri. Di sekeliling tabung pun bisa.

Kami belum menyerah. Setelah Bapak tadi pergi, kami kembali berkutat dengan prosesi memberdirikan telur. Satu telur lagi pecah. Tiga teman saya memilih untuk beristirahat sejenak, berteduh di bawah pohon kelapa. Di atas sana, matahari bersinar semakin garang. Saya masih terus mencoba, meniru trik yang dilakukan Bapak tadi – menggunakan kedua tangan utuk menjaga keseimbangan telur, lalu melepasnya perlahan-lahan. Kata si Bapak, ketika merasakan telur seperti ditarik ke bawah, itulah saatnya melepaskan pegangan dan telur akan berdiri dengan sendirinya.

Pemandangan di sekitar Tugu Khatulistiwa Parigi Moutong
Pemandangan di sekitar Tugu Khatulistiwa Parigi Moutong

Saya pun terus mencoba, lagi dan lagi. Setelah berkali-kali mencoba, saya membenarkan pernyataan bahwa hanya orang-orang tertentulah yang berhasil melakukan hal ini. Orang-orang tertentu yang dimaksud adalah mereka yang sudah terbiasa hingga sudah paham triknya, serta mereka yang memiliki rasa sabar dan kehati-hatian penuh. Ditambahi sikap lemah lembut. Ah, saya semakin tertatang. 

Entah pada percobaan ke berapa, akhirnya saya berhasil. Telur ayam itu berdiri tepat di lempengan besi titik 0o. Oh betapa bahagianya. Kini saya telah masuk ke dalam golongan ‘orang-orang tertentu’ itu. Sabar, penuh hati-hati, dan memeliki sikap lemah lembut. 

Selepas mengabadikan momen bahagia atas prestasi memberdirikan telur di Tugu Khatulistiwa Parigi Moutong, saya dan teman-teman bergeser ke tepi pantai Desa Khatulistiwa. Di sana kami menghabiskan waktu untuk mengisi mengisi perut dan berkisah tentang banyak hal hingga sore menjelang, ditemani embusan angin pantai dan deburan gelombang Teluk Tomini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.