Trip dari Jogja ke Gunung Andong ‘Under 100K’, Begini Caranya

0
222
Pemandangan Puncak Gunung Andong.

Alam pegunungan seringkali menjadi destinasi andalan wisatawan. Sebagai gugusan kepulauan, Indonesia memiliki beberapa gunung dengan keunikan masing-masing. Bentang alam pegunungan menawarkan ragam spot alami. Mulai dari puncak, sunset dan sunrise, hutan, view landscape, hingga keramahan penduduk beserta budayanya.

Tak heran jika Teman Traveler mau “membayar mahal” untuk bisa menaklukkan sebuah gunung. Pendaki dituntut memiliki kesehatan jiwa dan raga, waktu, serta aliran dana. Pun kepedulian terhadap sesama, ketangkasan, dan komunikasi yang baik dengan orang lain.

Jajaran gunung di Indonesia wajib dijelajahi dengan gembira. Namun sebagai pemula, Teman Traveler bisa memilih gunung dengan ketinggian minimalis. Saya pun memilih Gunung Andong sebagai objek pertama pendakian. Lokasinya berada di Kecamatan Ngablak dan Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Bentang gunung dengan ketinggian 1730 mdpl ini sudah memiliki jalur pendakian yang aman dan nyaman.

Berfoto di Gerbang Jalur Pendakian Via Sawit.

Berikut itinerary terbaru yang singkat namun lengkap untuk melakukan liburan murah meriah.

Transportasi Mudah dan Murah

Berangkat Pukul 13.00 WIB dari Jalan Magelang KM 5 Yogyakarta, saya beserta 3 teman melajukan sepeda motor dengan kecepatan standar. Perjalanan memakan waktu sekira 2,5 jam. Kami sampai di basecamp Sawit pukul 15.30 WIB.

Sementara estimasi biaya bahan bakar untuk satu motor adalah Rp 25.000 (PP). Jika 4 orang dengan 2 motor maka total biaya menjadi Rp 50.000.

Registrasi Gunung Andong via Sawit

Pendaftaran pendaki dilakukan di kawasan basecamp. Total retribusi untuk 4 orang dengan 2 motor adalah Rp 58.000. Pun sudah termasuk parkir kendaraan dengan penjagaan ketat. Kendaraan bisa diletakkan di sekitar pemukiman warga yang disediakan khusus bagi pendaki. Jangan khawatir, kendaraan akan aman.

Memulai Pendakian

Setelah menjalankan ibadah harian, kami segera berjalan ke arah puncak. Seperti biasa, kami saling sapa dengan pendaki lain dan bertukar cerita. Sesekali mengabadikan momen melalui gawai.

Teman logistik perjalanan kami buat sederhana. Selama berjalan hingga puncak kami hanya menghabiskan sekitar 2000 ml air mineral (4 orang). Sementara itu kami memilih untuk tidak membawa camilan. Nah, permen sebagai penggantinya. Untuk teman perjalanan ini tak lebih dari Rp 20.000.

Pos Satu Jalur Sawit.
Pesta Makan Malam di Puncak

Adzan magrib membawa kami sampai di 500 meter sebelum puncak. Kerlap-kerlip lampu menjadi hamparan cahaya yang indah. Pun dinginnya angin pegunungan mulai menusuk ke tulang. Kami tetap melanjutkan perjalanan sembari merapatkan jaket.

Ratusan tenda dan cahaya senter menandakan bahwa puncak sudah dekat. Bersyukur, kegiatan hiking empat perempuan ini berjalan aman dan nyaman. Finally, puncak sudah ditapak oleh kaki. Rombongan kecil kami segera mencari celah lokasi pendirian tenda. Agak sulit menemukan tanah datar kala akhir pekan seperti ini. Namun bagi kami, tidak masalah jika harus tidur di tanah yang kurang rata.

Pemilihan tenda perlu diperhatikan. Cuaca di gunung memang tak menentu, kadangkala badai atau hujan menampakkan diri. Sebaiknya memilih tenda double layer dengan kisaran sewa Rp 45.000/kap 4. Nah untuk sleeping bag, pilih yang nyaman, harga sewa hanya Rp 8.000/lembar.

Cacing di perut mulai berdendang pertanda tangan terampil harus beraksi. Seperangkat kompor dan nesting dengan harga sewa Rp 15.000 kami siapkan. Dua bungkus mie instan disinyalir menjadi santapan nikmat di dalam tenda. Drama panas mengolah mie dan kopi memecahkan tawa kami. Logistik malam hanya memerlukan budget Rp 20.000. Sementara rombongan tenda sebelah bernyanyi bersama ditemani alunan gitar. Kami pun ikut larut dalam sajian romantis malam syahdu.

Sarapan Ditemani Sunrise Indah

Kami bangun pagi berkawan dengan udara dingin. Suara percakapan pendaki lain mulai menusuk telinga. Usai berperang, kami berhasil melepaskan diri dari kungkungan sleeping bag. Membuka lembaran pintu tenda kemudian membuka menu sarapan, jelly yang kami buat semalam.

Selepas memanjakan perut, kami berjalan menyusuri puncak. Membelah lautan manusia dan jajaran tenda. Semburat oranye kekuningan nampak menyilaukan mata. Sungguh, anugerah terindah tiap kali berada di ketinggian. Kamera dan gawai beradu mengabadikan pesonanya. Sementara pendaki berlenggok membuat jejak terbaik untuk dikenang nantinya.

Suasana Pagi.
Makan Siang di Jalan

Mentari mulai naik, saatnya kami berpamitan pada sajian alam Gunung Andong. Berkemas dan mengumpulkan sampah sembari bercanda menjadi pengalaman berharga. Tak lupa bertegur sapa dengan pendaki lain, menjalin silaturahim. Asyik!

Untuk turun, kami memilih jalur baru yang disinyalir lebih ekstrim. Benar saja, salah satu rombongan kami beberapa kali tergelincir. Tak apa, tangan-tangan perkasa bahu-membahu demi keamanan bersama.

Bersyukur ekspedisi empat perempuan ini berjalan lancar dan aman. Usai beristirahat di basecamp, kami sepakat untuk pulang. Tak perlu lagi menyiapkan Google Maps karena penunjuk jalan arah Jogja ada di mana-mana.

Perjalanan dilalui dengan santai sembari berdendang. Namun perut kami meminta jatah. Sejauh mata memandang agak sulit berjumpa dengan warung makan. Yang ada hanya hamparan kebun sayur, area sawah, dan hembusan udara pegunungan.

Melewati Kota Magelang, kami menemukan soto seger. Tanpa basa-basi, mesin kendaraan diistirahatkan. Kami berhamburan memesan kuliner lokal berkuah nikmat tersebut. Kenyang dan puas. Energi kembali full charged. Harganya cuma Rp 65.000 untuk 4 orang.

Total budget traveling dari Yogyakarta menuju Gunung Andong PP sekitar Rp 310.000. So, dibagi empat dengan hasil Rp 77.500 per orang. Gimana, murah meriah bukan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.