Travelling, Toleransi, dan Perkenalan Budaya.

0
332
Wisata religi untuk memahami nilai toleransi.

Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan, yaitu, benarkah orang yang intoleran adalah orang yang jarang piknik?

Seorang penulis pernah bilang, bahwa semakin jauh seseorang menjelajah maka ia akan lebih maju dari orang kebanyakan. Ungkapannya sangat masuk akal, karena bagaimana mungkin manusia mengetahui dunia itu bulat tanpa mengitarinya? Bagaimana mungkin benua Amerika ditemukan tanpa penjelajahan Christoper Colombus? Bicara soal penjelajahan adalah juga berbicara soal berkenalan dengan orang lain, budaya lain, bangsa lain, suku lain, ras lain, dan agama lain. Traveling menuntut kita untuk berkenalan lebih dalam, tidak hanya sekedar mengetahui lewat ensiklopedia.

Toleransi agama juga berawal dari sebuah perkenalan sederhana. Bagaimana mungkin kamu bisa menerima perbedaan tanpa berkenalan dengan kelompok masyarakat yang berbeda denganmu? Itu hal yang mustahil. Nah, hari ini traveling hanya dipahami sebagai “paket tour 4 hari 3 malam” atau “keliling kota dan berbelanja dengan gembira”. Padahal, traveling adalah cara berkenalan paling ampuh, terutama dengan budaya dan adat istiadat yang belum kita kenal.

Toleransi Ala Traveller
Relief di Gereja dan Candi Hati Kudus Yesus, Yogyakarta.

Indonesia punya lebih dari 17 ribu pulau dan lebih dari 1300 suku. Kita tidak akan habis jika mengelilingi semua pulau dan mempelajari semua budaya dalam suku suku di Indonesia. Sehingga, seorang traveler akhirnya tidak hanya sekedar mendapatkan “foto cantik di pantai keren”, tapi kita memiliki kesempatan besar untuk mengenal kekayaan budaya di Indonesia. Tidak semua orang bisa berkenalan secara langsung dengan budaya budaya lokal di Indonesia, yang jumlahnya ribuan itu. Disinilah letak keistimewaan seorang traveler.

Sebelumnya saya memiliki sebuah cerita. Pada bulan April 2018, saya menjelajahi kawasan utara pulau Jawa. Dari Jepara, menuju Lasem, dan berakhir di pulau indah Karimunjawa. Dari perjalanan itu, saya mengalami berbagai macam perkenalan dengan tradisi beberapa agama. Sampailah saya di sebuah kota bernama Jepara, kurang lebih waktu itu sudah malam. Keesokan paginya saya harus ke pelabuhan untuk mengejar jadwal kapal. Permasalahannya, uang saya tidak cukup untuk menginap di hotel atau penginapan.

Pengalaman Menginap di Mesjid
Masjid Agung Jepara.

Saya sempat ikut menginap di pelataran Masjid Agung Jepara, lalu berdiskusi dengan pemuda masjid setempat tentang pemaknaan tradisi agama Islam di Jepara. Saya yang beragama Kristen begitu senang bisa berdialog dengan santri santri di Jepara, luar biasanya lagi saya diperbolehkan menginap di pelataran masjid selama satu malam. Maklum saja, uang saya untuk menjelajah sangat terbatas.

Keramahan dan dialog lintas kepercayaan yang saya alami adalah pengalaman luar biasa. Saya jadi mengerti bagaimana orang lain yang agamanya berbeda dengan saya menjalani dan memaknai kepercayaannya. Saya juga terkesan bagaimana keramahan dan penerimaan pemuda masjid di Jepara kepada traveler kere seperti saya. Pengalaman ini hanyalah salah satu kisah dari perjalanan yang saya lakukan di berbagai daerah di Indonesia. Hanya karena traveling, saya bisa menjelajahi pura indah di daerah Karangasem, Bali. Bisa menjelajahi klenteng klenteng kuno di Lasem, Jawa Tengah. Bisa mengagumi arsitektur Candi Hati Kudus Yesus di Yogyakarta. Bisa menjelajahi Masjid Cut Meutia di Jakarta, yang memiliki arsitektur Eropa. Bisa mengamati tradisi kepercayaan Sunda Wiwitan di desa-desa Jawa Barat. Masih banyak lagi pengalaman menyenangkan ketika berkenalan dengan agama dan budaya di Nusantara.

Traveling adalah sebuah cara yang ampuh untuk berkenalan dengan Indonesia dan kekayaan budayanya. Traveling membuka pemikiran dan pemahaman kita tentang budaya lain, termasuk juga tentang agama. Agama adalah isu sensitif bagi sebagian orang, tapi bagi traveler, keberagaman agama di Indonesia adalah sebuah hal yang menarik untuk dijelajahi dan dipahami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.