Tradisi Ramadan Berbagi Bubur Samin asal Solo

0
751
(sumber: thejakartapost.com)

Untuk warga solo mungkin sudah tidak asing lagi jika setiap bulan Ramadan tiba Masjid Darussalam ini selalu ramai membagi-bagikan bubur samin. Agak membingungkan memang jika Tradisi Bubur Samin atau Membagikan Bubur Samin awalnya dari kota Solo, tepatnya di Masjid Darussalam. Mengingat, asal muasal bubur samin sendiri berasal dari Banjar, Kalimantan bahkan resepnya sendiri lekat sekali dengan kuliner khas negeri Arab. Biasanya pada pukul 11 pagi, belakang Masjid Darussalam sudah dipadati panitia untuk menyiapkan bahan dan mulai memasak bubur samin untuk lebih dari 1.100 porsi bubur untuk disantap buka puasa. Mengapa bisa bubur khas Banjar bisa dibudayakan di Solo?

Mengutip dari artikel Heri Priyatmoko yang juga seorang dosen sejarah dan penulis buku “Sejarah Wisata Kuliner Solo, belum ada data tertulis kapan orang Banjar bermigrasi pertama kali ke Solo. Namun, sejarah m encatat jika Pakubuwono X memiliki pertemanan yang cukup erat dengan saudagar Banjar, Syukur Marlim. Beliau seorang penggosok dan pedagang berlian terkaya dari Banjar di era 1900-an. Cerita ini pun dapat menjadi acuan kecil jika orang Banjar mulai menginjakan kaki di tanah Solo di penghujung abad ke 19 ke abad 20. Ada pula sejarah mengatakan jika ada tokoh masyarakat yang lahir di Martapura pada tahun 1907 dan mulai berdagang di Jayengan Solo setelah belajar dari Pondok Pesantren Darussalam Martapura pada tahun 1925. Maka dapat disimpulkan jika jejak-jejak perkenalan bubur samin pun diawali pada abad ke 20 dan dibudayakan langsung oleh perantau Banjar.

(sumber: suaramasjid.com)

Menyantap bubur samin di Masjid Darussalam, Solo ini sudah berlangsung sejak 1965 dan biasanya menjadi hidangan buka puasa. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Takmir Masjid Darussalam, HM Rosyidi Muchdlor, dilansir dari BBC Indonesia. Awalnya bubur samin disajikan bagi yang berbuka puasa di Masjid Darussalam, hingga pada tahun 1980-an, tidak hanya jamaah Masjid Darussalam yang menyantap bubur samin namun seluruh masyarakat terdekat dapat menyantap bubur samin. Dari tahun ke tahun, jumlah warga yang ikut menyantap bubur samin semakin melonjak bahkan hingga masyarakat dari Yogyakarta tak ketinggalan ingin mengicip bubur khas Banjar ini, hingga pada akhirnya panitia pun membuat kebijakan jika bubur samin dapat dibawa ke rumah dengan catatan, warga membawa wadah sendiri. Biasanya, warga mulai mengantre pada saat bada ashar hingga menjelang maghrib. Rosyidi pun mengungkapkan jika tradisi ini merupakan akulturasi budaya yang juga merupakan bentuk kepedulian untuk berbagi tanpa memandang agama dan status sosial. Anggaran yang dianggarkan untuk tradisi ini pun cukup fantastis, panitia pun menganggar sekitar 85 juta rupiah untuk membuat bubur samin sepanjang bulan Ramadan. Dana yang didapat pun dari swadaya para jamaah yang tersebar di mana-mana, mulai dari Malang, Tulungagung, Majenang, hingga Singapura.

(sumber: thejakartapost.com)

Bahan untuk membuat bubur samin yang menggugah selera ini diantaranya beras yang kira-kira menghabiskan 45kilogram beras untuk 1000 porsi bubur samin kemudian susu, daging sapi, rempah-rempah, bawang Bombay, bawang daun, santan, sayuran dan tak lupa minyak samin yang membuat bubur menjadi lebih nikmat. Bubur ini pun biasanya disajikan dengan telur rebus, kurma, dan tak lupa kopi susu hangat. Bubur hangat menggugah selera ini pun biasanya sudah disajikan hangat-hangat sesaat sebelum berbuka puasa tiba.

 

 

Penulis: Nadia Khalishah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.