Tambak Boyong, “Pulau” Bakau di Ujung Daratan Gresik

0
489
Salah satu anak sungai Bengawan Solo yang dilewati saat menuju Mengare.

Tambak Boyong adalah sebuah daerah yang berada di tepi pulau Jawa tepatnya di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Tambak Boyong sebenarnya adalah nama sebuah wilayah perkampungan yang merupakan bagian dari Desa Tanjung Widoro, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik. Kampung ini terpisah dari perkampungan penduduk dan berada di tengah-tengah hamparan tambak di ujung Pulau Jawa serta menghadap Laut Jawa. Kampung tersebut hanya terdiri dari sekitar 20 rumah tangga, berdasarkan pengamatan dan perkiraan kami saat itu.

Tambak Boyong terdiri dari dua “tambak” dan “boyong”. Tambak berarti tempat memelihara atau berternak ikan dan boyong yang berarti pindah. Karena itu, Tambak Boyong secara harfiah berarti pindah ke tambak. Menurut cerita, Kampung Tambak Boyong ada karena para penjaga tambak atau yang disebut pandega memilih menetap di dekat tambak-tambak mereka, dibanding harus bolak-balik ke rumah yang cukup jauh jaraknya. Hal paling menarik dari kampung ini adalah meski tak ada listrik, justru di sana sudah ada sekolah dasar, dan di lokasi ini juga terdapat Benteng Belanda yang sudah hancur diterpa ombak, namun sisa-sisanya masih ada.

Penduduk Tambak Boyong sebenarnya adalah orang asli Mengare. Namun, sebagian juga ada yang berasal dari Desa Sungon Legowo. Mengare adalah nama suatu daerah yang juga terpisah jauh dari daerah lainnya. Jadi, Mengare adalah semacam pulau, namun tak terpisahkan oleh air. Untuk ke Mengare, diperlukan perjalanan sekitar 10 km dari jalur utama atau pantura, di Mengare sendiri terdapat tiga desa secara administratif, yaitu Kramat, Watuagung, dan Tanjung Widoro.

Untuk menuju Tambak Boyong, jika menggunakan kendaraan umum, satu-satunya cara adalah dengan naik bus Armada Sakti dari Terminal Wilangun (Surabaya) jurusan Paciran. Turun sebelum Jembatan Sembayat, bilang saja akan ke Mengare.

Setelah turun di pertigaan, selanjutnya harus naik ojek. Karena jarak perjalanan menuju Mengare sekitar 10 km dari jalan raya, dan tidak ada lagi angkutan umum. Tarif ojek tergantung kesepakatan, namun umumnya adalah Rp20.000 untuk jarak sejauh itu.

Pantai di Tambak Boyong.

Jika penasaran mengunjungi Tambak Boyong, pastikan berangkat sepagi mungkin, karena jika siang hari baru tiba di Sembayat, akan sangat kesulitan kembali saat sore tiba.

Setelah memasuki jalur Mengare, akses menuju Tambak Boyong dapat ditempuh dari tiga arah. Pertama adalah dari Mengare, tepatnya dari Desa Tanjung Widoro. Dari Tanjung Widoro menyeberang sungai yang merupakan anak sungai Bengawan Solo dengan perahu dengan tarif Rp2.000 per orang. Luar biasa murah sekali, bukan?

Kemudian, jalur yang kedua adalah melalui Desa Sungon Legowo atau Desa Tanjung Randuboto, Kecamatan Sidayu. Dari kedua tempat ini tak perlu menyeberangi sungai, cukup mengikuti jalan pematang tambak yang seru dan mendebarkan. Namun, jangan salah, pemandangan di sekelilingnya adalah hutan bakau yang horor namun eksotis. Dijamin, bisa menghasilkan foto-foto yang epik. Jalanan di tengah hamparan yang begitu juga memberi sensasi yang menyenangkan. Disamping pengalaman baru bertemu dengan orang-orang baru dan pengetahuan-pengetahuan yang baru, itulah makna yang diajarkan oleh perjalanan.

Perjalanan ke Tambak Boyong.

Dan yang paling seru adalah jalur ketiga, yaitu melalui Mengare itu sendiri. Di Mengare ada semacam pelabuhan tempat kapal-kapal dan perahu para nelayan bersandar. Dari pelabuhan inilah kita bisa menuju Tambak Boyong yang ada di seberang sungai yang merupakan anak sungai Bengawan Solo, yang apabila dari Tanjung Widoro, kita menyeberangi sungai tersebut dengan tarif yang sangat murah.

Dengan perahu ini, kita melewati hilir atau ujung dari anak sungai Bengawan Solo di laut. Tarif perahu motor yang mengantar ke Tambak Boyong adalah Rp50.000 setiap kali pemberangkatan dengan maksimal jumlah penumpang sekitar 10 orang, dengan lama perjalanan tidak sampai 15 menit.

Memasuki wilayah Tambak Boyong melalui perahu, dari Mengare serasa memasuki pulau atau daratan yang baru. Serasa bukan menginjakkan kaki di tanah Jawa. Padahal sesungguhnya Tambak Boyong adalah bagian dari tanah Jawa.

Sekilas pemandangan di salah satu rumah pandega.

Pantai di Tambak Boyong berpasir putih. Tidak seperti garis pantai di sepanjang wilayah Gresik pada umumnya yang berupa bakau atau batu cadas, kecuali di Daerah Wisata Pantai Pasir Putih Dalegan, Panceng.

Selain pasir putihnya, Tambak Boyong juga memiliki hutan bakau yang cukup luas. Hutan bakau ini masih alami dan bukan hutan bakau buatan atau semacam konservasi. Berada di sini sangat menenangkan sembari mendengar nyanyian burung-burung. Benar-benar seperti liburan di sebuah pulau antah berantah. Kombinasi hutan bakau dan pantai pasir putih ini mengingatkan saya tentang pantai Laut Selatan yang pernah saya kunjungi di Cilacap, Jawa Tengah, sekitar tahun 2009 silam.

Tambak Boyong sejauh ini masih tetaplah perkampungan para pandega. Para pandega yang tinggal di sana, biasanya setiap hari Jumat pulang ke kampung mereka di Mengare atau ke Sungon Legowo untuk mengambil bekal seminggu ke depan. Tambak Boyong tidak dijadikan wilayah khusus wisata karena aksesnya yang begitu jauh dari jalur utama. Namun, meskipun harus dituju dengan perjalanan yang cukup jauh, rasanya sangat sepadan bisa mengunjungi Tambak Boyong, daratan di ujung pulau Jawa ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.