Taman Suropati, Spot Hijau Nan Teduh di Pusat Jakarta

1
1366
Santai sejenak di Taman Suropati.

Jakarta sering diidentikkan dengan kota yang gersang, macet, dan semerawut. Tapi, kalau kita bertandang sejenak ke Taman Suropati, segala imaji buruk tentang Jakarta itu seolah sirna ditelan hijau dan teduhnya pepohonan yang ditata rapi.

Di hari Sabtu siang, saya menyempatkan diri singgah ke Taman Suropati. Ini adalah kunjungan yang ketiga selama saya tinggal di Jakarta. Agak berbeda dengan sore atau pagi hari, suasana taman di siang hari lebih lengang. Tak banyak orang yang beraktivitas untuk berolahraga ataupun sekadar duduk-duduk. Pun para penjual makanan tidak tampak di sekeliling taman.

Rumah burung.
Bermain biola bersama.

Selama hampir tiga tahun tinggal di Jakarta, buat saya Taman Suropati adalah taman terbaik. Lokasinya mudah di akses, berada di Menteng, Jakarta Pusat. Pepohonannya rimbun. Rumputnya hijau rapi. Bunga-bunganya mekar merona. Kursi tamannya dalam kondisi baik. Oleh karena itu, Taman Suropati tak cuma jadi sekadar taman, ia jadi sebuah ruang publik yang digemari oleh banyak orang untuk melakukan berbagai aktivitas. Salah satunya adalah aktivitas bermain biola bersama.

Taman Suropati dalam Linimasa

Taman Suropati sejatinya bukanlah taman yang baru berdiri. Ia sudah ada sejak Jakarta masih bernama Batavia. Dahulu Taman Suropati bernama Burgermeester Bisschopplein, sebuah nama yang diambil dari nama walikota saat itu, G.J Bisshop (1916-1920).

Bunga-bunga cantik.
“Hutan” Taman Suropati.

Jika kita menilik kembali bagaimana Belanda menata Batavia kala itu, didapati bahwa pemerintah kolonial memiliki cita-cita untuk menjadikan Batavia sebagai kota yang mirip dengan kota-kota di Eropa. Maka dibangunlah kota dalam bentuk blok yang masing-masingnya terpisah oleh kanal, benteng, ataupun parit. Selain itu, pemerintah pun tak luput memasukkan taman sebagai bagian dari pembangunan. Tujuannya selain sebagai ruang hijau, juga untuk menambah nilai estetika kota.

Pada era 1900-an, kawasan Menteng merupakan kawasan yang elite. Bahkan hingga kini pun kawasan di sekitaran Taman Suropati merupakan kawasan yang diisi oleh bangunan penting (rumah duta besar AS berada tepat di sebelah taman ini). Kala itu pemerintah Belanda menggeser pusat pemerintahan ke daerah Weltevreeden, atau kini dikenal sebagai Gambir. Kota Tua Batavia yang letaknya dekat dengan Sunda Kelapa dirasa tidak lagi memadai untuk menopang lokasi pemerintahan.

Hijau merona.

Setelah Indonesia merdeka dan Batavia berganti nama menjadi Jakarta, nama Burgermeester Bisschopplein pun diubah menggunakan bahasa Indonesia. Nama yang dipilih adalah “Suropati”. Mengapa Suropati? Jawabannya: karena Suropati adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang disahkan melalui surat keputusan Presiden No. 106/Tk/1975.

Ruang hijau di tengah kota

Keberadaan Taman Suropati di tengah belantara beton Jakarta ibarat sebuah oasis di tengah padang gurun. Spot yang hijau dan teduh ini menjadi loka favorit untuk banyak orang, dari segala lapisan masyarakat untuk menikmati suasana kota yang lebih sejuk. Ada komunitas membaca yang menggelar lapak berisi buku-buku yang bisa dibaca secara cuma-cuma. Ada komunitas pemain biola yang berlatih di bawah rimbunnya pepohonan. Ada orang-orang yang berolahraga dengan berlari mengitari taman. Dan, ada pula yang sekadar duduk-duduk menikmati semilir angin.

Keasran Taman Suropati tambah terasa dengan hadirnya burung-burung. Ada burung gereja, juga burung dara. Pengelola taman mendirikan beberapa rumah burung yang terbuat dari kayu di sudut-sudut taman. Dan, jika kita berjalan ke sisi taman yang berdekatan dengan halte busway, kita akan mendapati sebuah bangunan dengan menara tinggi menjulang. Menara tersebut adalah Gereja “GPIB Paulus”.

Gereja GPIB Paulus.

Meski kehadiran Taman Suropati telah memberikan kesan Jakarta yang lebih hijau, Jakarta belum boleh berbangga diri. Kehadiran ruang terbuka hijau di ibu kota belum sesuai target. Pada tahun 2018 lalu, Jakarta baru memiliki ruang terbuka hijau kurang dari 10% dari total luas wilayahnya. Padahal target idealnya adalah 30%.

Ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah. Satu Taman Suropati memberikan berjuta manfaat dan kesan untuk warga kota. Kelak, alangkah hijau dan baiknya jika ada “Taman Suropati-Taman Suropati” lainnya di berbagai pelosok kota.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.