Taman Prasasti: Setitik Eropa di Tengah Kota Jakarta

0
748
Taman Prasasti Jakarta
Nisan berbentuk malaikat yang menjadi tengara makam-makam di Taman Prasasti.

Apa yang ada di pikiran kita jika kita mendengar kata Jakarta?

Mungkin yang terlintas di benak kita pertama kali adalah ibukota Indonesia, bangunan beton yang tinggi, atau bahkan kemacetan yang katanya luar biasa.

Namun, di balik banyak kesan tersebut, Jakarta sejatinya menyimpan kisah sejarah panjang yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Jika kita ingat pelajaran sejarah dulu, Jakarta pernah bernama Batavia. Nama ini diberikan oleh orang Belanda dan dipakai sejak tahun 1621 hingga 1942. Selama Belanda berada di Batavia, mereka banyak membangun bangunan, mulai dari gedung pemerintahan, sekolah, rumah sakit, hingga pemakaman. Tapi, tidak semua bangunan itu bertahan sampai masa kini. Salah satunya yang tersisa adalah Taman Prasasti.

Taman Prasasti lokasinya mudah dijangkau, tepatnya di Jalan Tanah Abang I. Jika menggunakan transportasi publik, kita bisa turun di Halte Busway Harmoni, atau Stasiun Tanah Abang dan melanjutkan perjalanan naik ojol sedikit. Taman Prasasti buka setiap hari Selasa hingga Minggu, dari pukul 09:00-15:00.

Ada apa di Taman Prasasti?

Taman Prasasti dulunya adalah sebuah pemakaman warga Kristen pada zaman Belanda yang bernama Pemakaman Jahe Kober. Tidak diketahui secara persis asal usul nama Jahe Kober tersebut.

Eits, tapi jangan takut dulu. Meski dulunya adalah makam, kini Taman Prasasti telah berganti fungsi menjadi museum. Tidak ada lagi tulang belulang jenazah di sini. Yang tersisa hanyalah nisan-nisan dan prasasti yang dirawat.

Taman Prasasti Jakarta
Patung seorang wanita berdiri di atas sebuah makam.

Ide untuk mengalihfungsikan makam menjadi museum ini muncul sebab seiring waktu kota Jakarta bertumbuh semakin padat. Lokasi pemakaman pun dekat dengan rumah penduduk sehingga tidak mungkin lagi dilakukan persiapan. Akhirnya pada tanggal 9 Juli 1977, Pemakaman Jahe Kober resmi dialihfungsikan sebagai Museum Taman Prasasti.

Nah, nisan-nisan dan prasasti inilah yang menjadikan kunjungan kita ke Taman Prasasti jadi menarik. Para orang Eropa dahulu mendandani makam anggota keluarga yang mereka kasihi dengan cantik. Ada yang membuat puisi di batu nisannya, ada yang membuat sosok malaikat, atau ada pula yang berupa tugu batu besar. Bentuk makam seperti ini tidak umum kita jumpai di Indonesia saat ini, bukan? Makam-makam ini didesain dengan gaya Eropa. Nisan-nisannya dibuat dari batu alam, marmer, dan perunggu.

Salah satu makam orang yang cukup terkenal di sini adalah makam Olivia Raffles yang merupakan istri dari Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris yang memerintah Jawa pada tahun 1811-1816. Makam Olivia dapat kita temukan di sayap kiri pemakaman. Dan, persis di sebelahnya, terbaring juga makam milik John Casper Leyden, sahabat karib dari Raffles.

Selain orang Belanda, di sini juga terdapat makam beberapa orang Indonesia. Salah satunya adalah Soe Hok Gie, seorang aktivis mahasiswa yang hidup pada dekade 1960-an. Soe Hok Gie meninggal dunia dalam perjalanannya mendaki Mahameru. Prasasti makamnya masih dapat kita saksikan di sini.

Taman Prasasti Jakarta
Seorang pengunjung mengambil gambar di Taman Prasasti.

Sebagai sebuah museum, Taman Prasasti memberi kita banyak wawasan sejarah. Kita dapat menyambanginya layaknya kita datang ke museum biasa. Kita boleh memotret menggunakan kamera selama itu untuk dokumentasi pribadi. Dan, jika kita bingung mengenai kisah di balik makam-makam tersebut, silakan tanyakan langsung kepada petugas. Mereka dengan senang hati akan memberi kita informasi yang detail.

Mengunjungi makam-makam ini selain menambah pengetahuan sejarah juga sedikit banyak memberikan kita gambaran akan bagaimana masa lalu itu pernah terjadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.