Studio Alam Gamplong: Wisata Instagramable Tersembunyi di Yogyakarta

0
170
Benteng besar dengan jembatan kayu di depannya.

Siapa yang tak mengenal Hanung Bramantyo, sutradara kondang yang selalu menarik minat publik dengan film-filmnya? Tidak hanya mereka yang menyukai dunia perfilman, tetapi juga masyarakat biasa pun selalu tertarik untuk menontonnya.

Ternyata salah satu lokasi pembuatan film-film tersebut, seperti Sultan Agung dan Bumi Manusia, dapat beralih fungsi menjadi sebuah tempat wisata. Berada di Dusun Gamplong, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman, Yogyakarta, dan biasa disebut sebagai ‘Studio Alam Gamplong’. Dilansir dari Kompas.com, setelah pengambilan film selesai, set yang telah didirikan tidak dirobohkan namun diberikan kepada Bupati Sleman, Sri Purnomo, untuk dijadikan sebagai tempat wisata baru. Tempat ini juga telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 15 Juli 2018.

Lokasi Studio Alam Gamplong tidak terlalu jauh dari pusat Kota Yogyakarta. Meskipun begitu, lokasi wisata tersebut tergolong agak tersembunyi dari keramaian kota istimewa ini. Terus mengikuti jalur ke barat, melewati Jalan Wates, maka kita akan sampai di lokasi wisata tersebut. Berbeda dengan lokasi wisata-wisata lain yang biasanya menyendiri dari lingkungan penduduk, Studio Alam Gamplong terletak di sebuah dusun dan dikelilingi rumah-rumah warga.

Bangunan seperti kota lama.

Kala itu matahari sedang terik-teriknya, menjadi sambutan saat sampai di lokasi wisata. Lahan parkir yang luas menciptakan suasana rapi dan tidak sumpek meskipun ramai pengunjung yang berlalu-lalang. Kios-kios berdiri sejajar di samping lahan parkir, menjual baju, pernak-pernik, dan juga oleh-oleh. Di luar pagar, nampak para penjual dengan gerobak bermotor menjajakan dagangan siap santapnya, seperti bakso kuah, telur gulung, dan sosis.

Karena tidak terlalu tertarik dengan dagangan-dagangan itu, ku putuskan untuk langsung memasuki tempat wisata. Untuk masuk ke wisata ini bisa dibilang tak perlu risau dengan harga tiket masuk (HTM). Silakan beri seikhlasnya. Ya, itulah yang saya dengar dari petugas pintu masuk saat menanyakan HTM. Kesan yang sangat menyenangkan, karena tentunya dapat menghemat pengeluaran.

Setelah masuk, hamparan luas rumput nan hijau membuat siapapun akan terpana. Luas, benar-benar luas! Di ujung hamparan rumput ini, berdiri kokoh bangunan besar yang terlihat seperti benteng era penjajahan. Jembatan kayu merentang di atas sungai kecil, menjadi penghubung untuk menuju bangunan benteng tersebut. Saat berada di bangunan ini memang muncul suasana dan kesan layaknya di film-film perang.

Replika keadaan perkampungan.

Suara kereta membuyarkan imajinasiku saat memotret di banteng besar. Di seberang sungai kecil ternyata terdapat kereta mini yang biasa dinaiki oleh pengunjung. Tentu tidak seperti kereta di stasiun yang berkecepatan tinggi, kereta mini di sini bergerak dengan lambat dari ujung selatan hingga ujung utara area wisata, kemudian kembali lagi.

Semakin memasuki tempat wisata ini lebih jauh, mulai terasa suasana seperti di kota lama. Bangunan-bangunan dirancang dengan elegant menjadikan para pengunjung mondar-mandir berganti gaya dan mencari spot foto yang apik untuk mengabadikan kenangan mereka, ataupun untuk diunggah di sosial media. Namun, perlu diketahui bahwa bangunan-bangunan tersebut tidak boleh dimasuki atau bahkan dipanjat. Para pengunjung hanya boleh dipersilakan untuk bersantai di bagian luar bangunan. Bagiku sendiri itu bukanlah masalah. Selagi kesan dan suasananya masih dapat membawaku seakan berada di era lama, tempat ini tetaplah keren. Para pemburu foto instagramable terlampau banyak di area wisata ini. Selain itu, para siswa yang akan melangsungkan kelulusan pun bisa menggunakan Studio Alam Gamplong sebagai spot buku tahunan mereka.

Kereta mini.

Bukan hanya berisikan bangunan-bangunan bak kota lama, Studio Alam Gamplong juga menyajikan miniatur lingkungan desa sederhana yang biasa berada di pinggiran kali dan pinggiran kota. Meskipun kesan pertama yang aku tangkap di sini adalah lingkungan ‘kumuh’, namun lama kelamaan juga akhirnya semakin mulai terasa nyata kesan estetik bangunan dan alat pendukungnya. Merancang banyak bangunan kecil yang nampak kotor agar tetap terlihat rapi, bukan hal yang mudah menurutku.

Akhir dari perjalanan di Studio Alam Gamplong ini adalah sebuah bangunan yang dikelilingi banteng besar dan tertutup pagar, mengisyaratkan bahwa pengunjung dilarang memasukinya. Namun dari balik pagar masih nampak pendopo luas yang kental dengan arsitektur Jawa.

Menuju pintu keluar, kita akan disuguhkan dengan beberapa bangunan sederhana seperti rumah. Namun bukan rumah biasa, melainkan tempat untuk makan dan juga sejenak melepas lelah. Bentuk dari bangunan ini yang mendekati gaya kejawen dan kuno, mampu membuat siapapun akan merasa tenang dan betah berlama-lama disini. Tunggu apalagi, ayo ke Studio Alam Gamplong!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.