Singgah di Rumah H.O.S Tjokroaminoto Surabaya, Tempat Kos Soekarno Muda

0
589
Foto dari Para Penghuni Rumah.

Setiap saya transit kereta dari Yogyakarta ke Malang di Surabaya, saya selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi bangunan bersejarah di kota ini. Tak perlu jauh-jauh, bangunan tersebut kebanyakan berada di sekitar pusat kota dan dekat dengan stasiun.

Salah satunya adalah rumah H.O.S Tjokroaminoto yang terletak di Jl. Peneleh Surabaya. Saya datang ke sini pada suatu siang selepas turun dari Kereta Api Sri Tanjung di Stasiun Gubeng. Masih ada cukup waktu untuk mampir sebentar ke sini sebelum menyambung dengan Kereta Api Penataran. Terlebih, letak museum ini tak jauh dari kompleks Tugu Pahlawan dan Stasiun Surabaya Kota (Semut) yang akan menjadi tempat saya naik Kereta Penataran di sore hari.

Pengemudi ojek online yang saya pesan menurunkan saya di Gang Peneleh VII. Di depan gang ini, telah tampak tulisan mengenai lokasi bangunan yang akan saya datangi. Saya pun memasuki gang tersebut dan mendapati banyak rumah kuno. Mulanya, saya menemukan sebuah rumah kuno yang berfungsi sebagai toko buku.

Tampak Depan Rumah.

Nah, tak jauh dari toko tersebut, rumah H.O.S Tjokroaminoto pun saya temukan. Rumah joglo ini tak terlalu besar. Bercat putih dengan pinggiran hijau, ia nampak masih kokoh dengan jendela dan pintu dari kayu. Beberapa lampu kuno menghiasi beranda rumah tersebut.

Saya disambut baik oleh seorang petugas jaga yang meminta saya untuk mengisi buku tamu. Tak ada tiket masuk yang harus saya bayar. Selepas mengisi buku tamu, saya segera menuju ruang tengah rumah ini. Jajaran foto dan tulisan mengenai Sarekat Islam pun memenuhi dinding di ruangan seukuran 2×2 meter tersebut. Aneka buku sejarah pun tertata rapi yang bisa dibaca pengunjung di sini.

Sarekat Islam (SI) sendiri merupakan perkumpulan yang dipimpin oleh H.O.S Tjikroaminoto, sang empunya rumah ini. Selain Boedi Oetomo, SI juga merupakan salah satu organisasi pergerakan nasional penting. Anggotanya sangat banyak yang kebanyakan berasal dari pedagang batik dan buruh. SI bermula dari Sarekat Dagang Islam (SDI), perkumpulan pedagang batik di kota-kota besar.

Maka dari itu, ketokohan dari H.O.S Tjokroamoinoto sangat dikagumi pada zamannya. Tak hanya itu, beliau juga menjadi bapak asuh bagi beberapa tokoh pergerakan. Diantaranya adalah Ir. Soekarno, Semaoen, Muso, S.M. Kertosuwiryo, Tan Malaka, dan Alimin. Mereka semua dijuluki sebagai anak kos Gang Peneleh.

Kondisi Kamar Kos di Loteng.

Tokoh-tokoh tersebut pada masa mudanya pernah kos di rumah ini. Tempatnya, berada di loteng yang terletak di bagian sisi belakang rumah ini. Saya diberi kesempatan oleh petugas jaga untuk naik melihat bekas kamar mereka.

Dari tangga kecil yang cukup curam, saya perlahan naik. Kaki saya harus benar-benar melangkah dengan hati-hati agar tidak tergelincir, kedua tangan saya juga harus memegang pegangan tangga. Sesampainya di atas, perasaan saya campur aduk. Antara haru, bangga, dan juga sedih.

Saya haru dan bisa melihat tokoh-tokoh tersebut yang memiliki daya juang tinggi dalam bertahan hidup di ruangan sempit dan gelap. Ya, mereka hanya beralaskan tikar dan beratapkan gedheg untuk tidur. Penerangan berupa lampu templek pun menjadi teman di kala malam menjelang. Masing-masing dari mereka mendapat satu buah lemari kecil yang kemungkinan sebagai tempat menyimpan baju atau perlengkapan lain. Sebuah kaca kecil pun tergantung di tembok kamar.

Deretan Foto yang Menceritakan Sejarah.

Namun, saya juga sedih karena mereka memilih jalan yang berbeda. Ada yang berjuang secara konstitusional yang dijalani oleh Ir. Soekarno. Ada pula yang memilih jalan lain sehingga mereka pun dijuluki sebagai pemberontak. Hitam putihnya perjalanan hidup mereka selepas tidak lagi tinggal di Kos Gang Peneleh ini, jejak kehidupan mereka masih tersimpan rapi di sini. Tersimpan dalam lini masa yang digambarkan secara berutan dari tahun 1910-an hingga tahun 1934, saat H.O.S Tjokroaminoto wafat.

Masih ada satu ruangan lagi yang belum saya jelajahi, yakni kamar milik H.O.S Tjokroaminoto dan sang istri. Di sana ada sebuah ranjang berkelambu putih dan lemari pakaian. Foto H.O.S Tjokroaminoto dan sang istri pun terpajang dengan cantik. Sebelum saya meninggalkan rumah ini, saya masih terkesima dengan deretan meja dan kursi di ruang tamu. Deretan tempat duduk klasik yang menggambarkan betapa hidupnya ruang diskusi para penghuninya saat pergerakan nasional negeri ini.

Dengan berharganya nilai sejarah di museum ini, sayang rasanya jika berjalan-jalan ke Surabaya namun tidak singgah ke sini. Jangan sampai sebagai bangsa yang besar, kita lupa akan sejarah bangsa sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.