Serunya Jelajah Kaldera Tengger dengan Berjalan Kaki

0
1265
Perjalanan di Padang Pasir.

Hi there! Long time no see. Long time so(k) busy. Because everything was going crazy. Ahaha.

Kali ini saya akan menceritakan tentang perjalanan ke subset/bagian dari Kaldera Tengger. Apa itu Kaldera Tengger? Menurut Wikipedia, kaldera adalah fitur vulkanik yang terbentuk dari jatuhnya tanah setelah letusan vulkanik. Kata “kaldera” berasal dari bahasa Spanyol, yang artinya wajan. Sementara Tengger adalah nama sesuatu, yang merujuk pada salah satu puncak gunung dan juga nama sebuah suku. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada para ahli geologi maupun para ahli antropologi, izinkan saya menyederhanakan arti Kaldera Tengger adalah kawasan yang berada di sekitar gunung Bromo dan gunung-gunung sekitarnya.

Jadi intinya ini adalah cerita nge-trip ke Bromo (lagi). Sebagaimana kita ketahui bersama, Bromo telah go internasional dan menjadi destinasi wisata populer baik di kalangan turis lokal maupun mancanegara. Kabar buruknya adalah kabar baik tersebut menjadikan wisata Bromo sebagai sesuatu yang begitu mainstream. Menjelajahi Bromo terasa begitu mudah. Fasilitas lengkap. Ada ojek, ada hardtop/jeep. Penginapan melimpah ruah. Infrastruktur juga memadai.

Jalan kaki di Kaldera Tengger.

Bagi penyuka sesuatu yang antimainstream, hal-hal tersebut di atas membuat Bromo kurang menarik untuk dikunjungi kecuali sekedar untuk menggugurkan pertanyaan, ‘sudah pernah ke Bromo?’. Sehingga, pada awal tahun 2014 saya mengunjungi Bromo hanya untuk sekedar menggugurkan pertanyaan tersebut. Batin saya, cukup sekali saja ke Bromo.

Namun ternyata, kecantikan Bromo dan segala sesuatu di sana telah mencuri hati saya. Saya tidak bisa berhenti merindukannya. Saya ingin kembali dan kembali lagi untuk menikmati hijaunya rumput di padang Savana. Menikmati dramatisnya padang pasir. Menikmati dingin hawa dan lembutnya angin yang bertiup. Menunggu sunrise yang mempesona. Semuanya membuat saya rindu.

Menikmati angin di padang Savana.

Waktu itu saya kedatangan tamu spesial, kakak kelas saya yang merupakan orang asli Brebes. Namanya Mbak Maya. Rasanya tidak afdhol kalau tidak mengunjungi ikon Jawa Timur. Yaitu Bromo!

Meski tepat seminggu sebelumnya, saya baru saja mengunjungi Bromo bersama rombongan, itu sama sekali tidak mengurangi keseruan nge-trip ke Bromo kali ini. Justru, kunjungan bersama rombongan tersebut membawa saya pada satu kesimpulan yang luar biasa (ngawurnya). Bahwa kawasan wisata Bromo yang terdiri dari Penanjakan tempat memburu sunrise, kawah Bromo, pasir berbisik, dan padang Savana adalah kawasan yang luasnya hanya sekitar 4 (empat) km² sehingga dapat dijelajahi dengan berjalan kaki cukup dalam waktu siang sampai sore!

Bromo merupakan satu-satunya kawasan wisata yang menyajikan kawah gunung berapi aktif. Bromo juga terkenal sunrise-nya yang menawan di Penanjakan. Serta padang Savana-nya yang hijau dan padang pasirnya yang mempesona. Selain itu juga terdapat bukit Mentigen dan Seruni Point sebagai tempat berburu sunrise.

Maka, saya menyampaikan pada mbak Maya, bahwa rencana kami ngetrip ke Bromo kali ini adalah menjelajahi kawasan wisata Bromo dengan jalan kaki. Biar antimainstream. Mbak Maya setulus hati sepenuh jiwa percaya pada analisis wilayah yang saya sampaikan. Kami berangkat betul-betul modal dengkul. Tiada membawa persiapan apapun. Kombinasi kepercayaan diri yang berlebihan dan kebodohan yang nyata. Karena faktanya jarak dari loket masuk kawasan wisata Bromo  menuju Penanjakan adalah 21 km! Sedangkan ke padang Savana adalah 8 (delapan) kilometer!

Di sekitar loket masuk ada banyak tukang ojek yang menawarkan jasanya. Tarif ojek mulai 25 ribu rupiah untuk satu tujuan. Rencana awal, kami akan jalan kaki menuju Savana, namun beberapa tukang ojek terus merapat ke kami sambil memelas. Akhirnya kami luluh dan menerima tawaran tersebut. Kami diantar tukang ojek sampai di padang Savana. Lalu untuk kembali ke pemukiman, kami akan tetap berjalan kaki, meski para Bapak Ojek terlihat begitu khawatir meninggalkan kami.

Sampailah kami di padang Savana sekitar pukul 1 siang. Matahari bersinar terik. Tapi angin yang bertiup membawa udara dingin nan lembut membelai pipi. Suasana di sana sangat menyenangkan dan menenangkan. Ingin rasanya menghentikan waktu agar kami bisa berlama-lama. Namun apa daya, pukul 2:48 sore kami memutuskan untuk kembali ke pemukiman. Masih dengan keyakinan bahwa jarak yang akan kami tempuh tidaklah jauh sehingga bisa sambil berfoto ria.

Menatap Bromo dan Gunung Batok.

Kami berjalan dan menikmati pemandangan sambil tak henti bersyukur. Kami juga menikmati keanggunan bunga Verbena Brasiliensis Vell. Meski matahari semakin condong dan jarak pemukiman masih jauh, kami sama sekali tidak merasa khawatir. Di tengah kesantaian kami dalam perjalanan pulang, saya mengajak mbak Maya untuk melewati ujung bukit yang jalannya menjadi sedikit menanjak. Namun tiba-tiba, di belakang kami muncul tiga orang laki-laki macam teknisi listrik. Saya dan Mbak Maya menjadi was-was dan sedikit tegang. Mana ada tukang listrik di tempat seperti ini? Kami pun mempercepat langkah. Tapi tau-tau, mereka sudah di belakang kami! 😱😱😱

Menghampiri si cantik Verbena Brasilienses Vell.

Mereka bukannya mendahului kami. Tapi malah membersamai kami. Mereka bertiga adalah insan BMKG (saya lupa istilahnya). Seorang bertugas di Bromo, seorang bertugas di Kelud, dan seorang bertugas di Arjuna. Merekalah yang sebetulnya menjelajah. Mereka mulai penjelajahan Kaldera Tengger dari jam 9 pagi tadi. Dari mereka, kami jadi tahu nama kawasan gunung Bromo dan gunung-gunung di sekitarnya disebut Kaldera Tengger. Kurang afdhol ke Bromo kalau belum berkeliling dengan jalan kaki, begitu kata mereka.

Setelah beberapa waktu mengobrol dengan mereka, sampailah kami dimarahi oleh mereka bertiga. Saat itulah kami baru menyadari betapa nekad dan ngawur-nya kami. Pergi ke tempat sejauh dan seluas itu tanpa persiapan. Insane! Dan betapa kami harus berterima kasih pada mereka bertiga. Mereka seolah dikirim Tuhan untuk menjaga kami. Yeah, every journey has its -specially sweet- story. Love it!

Benar, we are never too far to our destination. Enjoy the journey and we will arrive eventually. 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.