Seram Tapi Seru Menemukan “Tujuh Bidadari” di Jember

0
475
Bidadari 4.

Kabupaten Jember yang memiliki gunung dan garis pantai menyimpan keindahan alam hingga limit tak terhingga. Kini Jember memang telah tumbuh menjadi salah satu kota destinasi wisata yang tak boleh dilewatkan. Maka, ketika saya mendapat tugas pengawasan lapangan ke Kabupaten Jember, dengan senang hati saya terima dan penuh sukarela. Sekali dayung dua pulau bisa terlampaui.

Usai pengawasan lapangan Kerangka Sampel Area (KSA), saya bersama lima orang bapak-bapak yang bertugas KSA di wilayah itu, segera meluncur ke wisata terkini dan sedang sangat viral serta menjadi buruan baik kawula muda maupun yang sudah tidak muda lagi. Hehe. Kami meluncur ke Air Terjun Tujuh Bidadari yang berada di Gardu Utara, Rowosari, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Air Terjun Tujuh Bidadari merupakan salah satu air terjun di kaki Gunung Raung dan berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Jember. Dalam perjalanan ke sana, kita akan melewati hamparan sawah bagai samudera berwarna hijau berkombinasi dengan barisan bukit yang warnanya bergradasi dari kelabu hingga samar bersatu dengan langit.

Sebelum tiba di lokasi.

Setelah melewati jalan yang berliku, sampailah kita di gerbang wisata. Begitu tiba, kita akan disambut dengan segarnya aroma pohon pinus khas pegunungan. Di area parkir terdapat bangku-bangku kayu untuk istirahat sejenak melepas lelah. Juga ada ayunan yang akan membuat kita lebih releks. Selain itu juga masih ada tangga kayu yang beratap payung, cocok untuk mejeng sebelum bayah kuyup menyusuri sungai mencari sang bidadari. Tarifnya hanya Rp5000 per orang dan kita sudah bisa menikmati segala pesona keindahan alam dan merasakan sensasi perburuan si cantik Tujuh Bidadari.

Air terjun Tujuh Bidadari bisa dibilang sebuah kompleks air terjun. Ada tujuh air terjun cantik (bagai bidadari?) yang bervariasi ketinggiannya. Letaknya di tengah-tengah bukit dan kita akan menyusuri sungai serta berjalan di tepian tebing untuk bertemu dengan bidadari-bidadari tersebut. Air sungainya sangat jernih dan terasa sangat segar.

Di perjalanan.

Dari spot tangga kayu beratap payung tadi kita akan memulai penyusuran. Kita akan berjalan di jalan tanah kurang lebih 500 meter sebelum kita mulai menuruni tangga alami ke jalur utama penyusuran. Di tengah-tengah perjalanan ini ada rumah kayu yang bisa difungsikan untuk istirahat sejenak. Di sini juga ada toilet.

Setelah menuruni tangga alami itu, dimulailah petualangan seru menyusuri sungai yang beraliran cukup deras. Melewati batu-batu sungai yang licin. Jadi jika ingin bertemu dengan sang bidadari, siapkan kesehatan yang prima dan juga peralatan pelindung air.

Kiri kanan adalah tebing yang garang namun eksotis. Menyusuri sungai di bawah tebing rasanya benar-benar sesuatu yang tak bisa saya lupakan. Berada di bawah tebing ini juga memberi kesan jauh dari apapun, sehingga serasa seram agak menakutkan. Namun gemericik air dan sejuknya udara memberi ketenangan. Selain medan yang menantang, menyusuri sungai di sini akan mendapatkan kombinasi berbagai perasaan yang tak ada duanya. Hehe.

Bidadari 6.

Selama perjalanan penyusuran, kita akan bertemu dengan ‘bidadari-bidadari’ (baca: air terjun) yang memesona. ‘Goal’ dari penyusuran ini adalah bertemu dengan ‘bidadari’ ke-tujuh di ujung penyusuran, ‘bidadari’ yana paling besar, paling eksotis, dan paling cantik. Selama penyusuran, kita juga akan beberapa kali melewati batang pohon yang berfungsi sebagai jembatan. Rasanya benar-benar menyeramkan dan mendebarkan namun juga menyenangkan.

Satu demi satu ‘bidadari’ kita jumpa. Rasanya sungguh berbeda dengan wisata air terjun pada umumnya yang hanya terdiri dari satu saja air terjun. Di sini, ada rasa penasaran yang terjawab setiap kali bertemu dengan satu air terjun. Dan ada keseruan tersendiri ketika kita berbeda hitungan soal urutan air terjun. Karena bukan hanya satu, sehinga kami berenam berbeda hitungan soal jumlah air terjun yang sudah kami lewati. Hehehe.

Karena kami datang menjelang sore, kami tak bisa sampai ke bidadari ketujuh, sebab hari sudah hampir gelap. Apalagi ada saya yang perempuan. Jadi setelah sampai pada bidadari ke-enam kami memutuskan untuk kembali. Kami hanya melihat bidadari ketujuh dari kejauhan saja. Namun meski begitu, perburuan ‘bidadari’ pada sore hari itu telah menjawab rasa penasaran saya. Kapan giliran Sobat Travelblog mencoba petualangan seru ini?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.