Sepenggal Kisah Pabrik Gong Tertua di Jawa Barat

0
456
Gong Factory Bogor.

Di era globalisasi seperti sekarang ini, berbagai budaya asing yang masuk ke Indonesia semakin lama semakin menggerus budaya di dalam negeri. Masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda seakan lupa dan meninggalkan budaya nenek moyangnya sendiri. Berkurangnya peminat budaya dalam negeri tidak menyurutkan Krisna (31) dalam meneruskan usaha keluarganya selama 7 generasi di industri pembuatan alat musik tradisional gong yang bernama Gong Factory.

Ketika saya sedang melihat-lihat berbagai gong yang dipajang di dalam Galeri Gong Factory, rasa penasaran saya semakin memuncak karena mendengar sayup-sayup bunyi pukulan berirama yang ternyata berasal dari pabrik tempat pembuatan gong. Ketika masuk ke dalam pabrik, saya melihat dengan takjub proses pembuatan gong yang masih dikerjakan secara tradisional. Ingin menyudahi rasa penasaran yang semakin menjadi-jadi, saya pun memutuskan untuk sedikit mewawancarai pemilik dari Gong Factory, Krisna, yang kebetulan juga sedang berada di dalam pabrik gong tertua di Jawa Barat ini.

Berdiri sejak kurang lebih 400 tahun yang lalu, Gong Factory masih menjaga keeksisannya hingga kini, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pabrik gong ini berada di Jalan Pancasan No. 17 Bogor Barat, dan kini mencatatkan rekor sebagai pabrik gong satu-satunya di Jawa Barat. Krisna sebagai generasi ke-7 baru diwariskan untuk mengelola Gong Factory selama beberapa tahun ini, yang sebelumnya dikelola oleh sang kakek. Haji Sukarna sebagai generasi ke-6, yang sebelumnya pula dikelola oleh ayah dan kakek dari Haji Sukarna sebagai generasi pertama hingga generasi ke-5.

Pak Andi (66) seorang pekerja senior di Gong Factory.

Ketika ditanya mengenai awal mula berdirinya pabrik gong ini, Krisna mengaku kurang tahu dengan pasti. Namun uniknya, satu hal yang dapat dipastikan dari Krisna adalah, dari awal pabrik gong ini berdiri hingga sekarang, pabrik yang hampir berusia 4 abad itu belum pernah berpindah lokasi. “Kalau ditanya soal sejarah Gong Factory ini sebetulnya saya kurang tau pasti, tetapi yang saya tau pasti adalah dari awal usaha gong ini berdiri sampai sekarang, pabrik gong ini tidak pernah berpindah. Selalu disini tempatnya”, ujarnya.

Hampir seluruh jenis gong dan gamelan sudah pernah dan masih diproduksi di pabrik penuh sejarah tersebut. Mulai dari Gamelan Sunda, Gamelan Lampung, Gamelan Aceh, Gamelan Sulawesi, dan jenis-jenis gong dan gamelan lainnya. Proses pembuatan yang dilakukan pun masih tradisional dan mempertahankan tradisi yang sudah turun temurun dilakukan selama 7 generasi. Berbeda dengan pemilik di generasi sebelumnya yang pembelinya mayoritas berasal dari luar negeri, pembeli gong di tahun-tahun terakhir ini lebih banyak dari daerah-daerah di Indonesia yang sudah berlangganan sejak dahulu dan mempunyai alat musik tradisional gamelannya sendiri, seperti dari daerah Lampung, Aceh, Sulawesi, dan Sumba.

Krisna mengaku, bahan baku untuk membuat gong adalah timah putih dan tembaga merah, dengan perbandingan rasio 1:3. Sebanyak satu kilogram untuk timah putih serta tiga kilogram untuk tembaga merah. Rasio bahan baku harus sesuai, jika tidak maka berbagai resiko seperti gagal produksi sampai kualitas gong yang rendah akan terjadi kepada gong yang diproduksi.

Meski sudah berpengalaman ratusan tahun, berbagai kendala terkadang masih saja terjadi di Gong Factory ini. “Kendalanya biasanya dari harga bahan baku, karena harga bahan baku semakin lama semakin mahal dan tidak pernah turun harganya. Untuk sekarang-sekarang ini, harganya sedang sering naik. Kendala juga sering kami dapati dari tenaga kerja nya yang terbatas. Tenaga kerja kami sangat sedikit, hanya sekitar 12 orang. Karena tidak mudah untuk para pelamar kerja pabrik gong untuk bisa langsung kerja disini. Karena untuk membuat sebuah gong itu diperlukan keahlian khusus”, ujar Krisna.

Salah satu proses pembuatan gong di pabrik

Dilihat dari sulitnya mempunyai keahlian membuat gong, maka tak heran jika tidak hanya pemilik yang beregenerasi, uniknya, pekerja yang bekerja di Gong Factory pun juga turun-temurun dari generasi ke generasi. Para pekerja yang berada di pabrik rata-rata adalah anak dari para pekerja senior yang sudah lebih dulu menjadi pekerja di Gong Factory ini. Hal ini biasanya dikarenakan anak-anak dari para pekerja sering melihat bapak atau kakeknya bekerja di Gong Factory.

Seiring berjalannya waktu, warisan ilmu membuat gong yang dimiliki bapak dan kakeknya pun diwariskan kepada anak-anaknya. Jiwa mengabdi kepada pabrik yang tinggi bahkan membuat beberapa pekerja senior yang sudah bekerja selama puluhan tahun sudah merasakan dikepalai oleh 2-3 pemilik yang berbeda.

Saya pun dikenalkan oleh Andi (66), salah satu pekerja senior yang masih bekerja di Gong Factory sejak ia masih muda hingga sekarang. Andi mengaku, untuk menjadi seorang ahli dalam membuat gong, ia diajari oleh Kakek dari Krisna (Haji Sukarna; pemilik Gong Factory generasi ke-6). “Saya belajar membuat gong dari jamannya Pak Krisna masih kecil, dulu Kakeknya masih muda. Nah saya belajar dari beliau. Bertahun-tahun saya belajar sampai akhirnya sudah ahli membuat gong sampai sekarang,” ujar Andi. Adapun karena usia Andi yang sudah semakin menua, beberapa tahun terakhir ini ia dipindahkan tugas dari pengrajin gong menjadi bagian penjualan.

Salah satu gong hasil dari Gong Factory.

Sudah 35 tahun mengabdi di Gong Factory ini membuat Andi merasakan begitu banyak pengalaman suka maupun duka, meskipun ia mengaku jauh lebih banyak pengalaman suka yang ia rasakan daripada duka. Sering bertemu dengan tamu penting dan warga asing menjadi pengalaman yang paling berkesan baginya. “Suka nya itu saya jadi bisa ketemu banyak orang penting, ketemu bule-bule. Dulu dari perusahaan minyak asing semuanya beli gong kesini, seperti Caltex dan Freeport, sering beli gong kesini. Tapi mungkin karena tenaga kerja asing sudah berkurang jadinya sudah mulai jarang beli gong kesini. Saya juga tidak tahu pasti. Dulu kalau hari sabtu-minggu, bule-bule suka banyak ke pabrik, mereka mau beli sekaligus mau lihat cara pembuatannya” ujarnya sambil mengenang masa-masa indahnya di Gong Factory.

Sudah melayani ribuan pembeli dari berbagai penjuru dunia membuat Andi paham betul mengapa banyak yang memesan gong ke Gong Factory. Menurutnya, kualitasnya yang sudah dijaga dari sekitar 400 tahun yang lalu merupakan faktor utama banyaknya pelanggan yang sudah menjadi pelanggan tetap di Gong Factory. Selain itu, harga yang dijual di Gong Factory jauh lebih murah dari toko-toko antik lainnya. Andi pun menceritakan sedikit pengalaman customernya yang hampir salah membeli gong. “Pernah ada satu customer yang cerita sama saya, dia hampir mau beli gong yang berdiameter 20 cm seharga 4 juta, padahal di Gong Factory ini kita jual seharga 500 ribu. Jadi beda jauh harga yang kita jual disini dan di tempat lain. Kualitas pun juga pasti berbeda”.

Selain itu, gong yang dihasilkan di Gong Factory berasal dari bahan baku kualitas nomor 1, dan tidak dicampur dengan bahan baku lain yang kualitas rendah. Gong yang dijual berasal dari bahan perunggu, yaitu timah dan tembaga dan tidak ada campuran lainnya. Semua pekerjaan pun dibuat secara tradisional dan homemade, tidak memakai mesin sedikitpun.

Menghabiskan waktu ke waktu di Gong Factory selama 35 tahun hingga diusianya yang menginjak kepala enam. Membuat Andi mempunyai harapan yang besar kepada pabrik gong tempat ia bekerja selama ini. Andi pribadi mengaku bahwa sampai tua nanti masih ingin mendedikasikan dirinya untuk Gong Factory. Ia pun berharap Gong Factory tidak akan tergerus derasnya globalisasi. Serta terus eksis sebagai pabrik gong tertua dan terbaik di Jawa Barat, bahkan Indonesia, hingga generasi-generasi selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.