Sepenggal Cerita Bleisure Trip Ala ‘Purely City Traveler’ Ke London

0
2106
Free Gigs by Major Of London City

Agustus 2008, mungkin hanya 20 hari sebelum keberangkatan saya mengatakan kepada teman saya, Elisha Deny, orang Inggris yang tinggal di Bandung waktu itu, sambil mengantar dia ke Jalan Dipati Ukur, “Someday Elisha… someday Ill come to England, hanya dalam jangka hitungan hari Allah memang Maha baik, mengabulkan permintaan saya sejak lama. 2008 adalah dimana tahun saya banyak berbagai kegiatan di industri musik di Bandung, melakukan kegiatan promo untuk Mocca adalah awalnya, khususnya membuat gigs untuk genre yang diusung band-band angkatannya. Itulah kegiatan sehari-hari yang dilakukan, sebuah kelanjutan dari gerakan band-band Britpop dan yang muncul tumbuh subur di Bandung sejak tahun 1995an. Genre ini cukup kuat dan melahirkan band pop berskala nasional bahkan internasional, sebut saja Pure Saturday, sebagai band pengusung genre pop kiri dari Bandung.

Berawal dari sebuah email di inbox Hotmail saya, pemerintah Inggris lewat British Council memanggil saya untuk melakukan sebuah presentasi tentang dunia musik dan kreatif di kota Bandung dengan melakukan perjalanan ke Inggris. Wah, pasti saya gak nolak, 2 tahap presentasi pun akhirnya saya lewati, sah dan legallah saya mendapatkan visa Union Jack berstatus visa budaya dengan didapat gratis.

Saya dipanggil dalam rangka sebuah program yang digagas pemerintah Inggris lewat British Council atau pusat kebudayaan Inggris di Jakarta bertajuk International Young Creative Entrepreneur of the Year atau IYCEY, inilah program yang mebawa saya pergi kesana. Bagi saya Inggris begitu berkualitas, saya menyukai mereka sejak duduk dibangku kuliah. Bahkan sebelum dari era QUEEN atau The Police dkk. Lalu era Britpopnya, yang memunculkan band mulai dari OASIS, Blur hingga Ride.

Berawal dari dasar pemikiran itulah, saya menggagas ide tersebut sebagai bahan presentasi untuk orang-orang di British Council. Sehingga mereka yakin bahwa budaya atau kebiasaan mereka ini tumbuh, berpengaruh, dan menginspirasi terbentuknya karakter industri kreatif, khususnya bagi musisi di Asia khusunya kota Bandung era akhir 90an. Saya selalu mengganggap perjalanan itu adalah sebuah liburan sampai sekarang. Karena saat itu saya benar-benar mengerjakan apa yang saya sukai. Berkunjung ke banyak label, menonton berbagai band di beberapa bar, juga merilis 1 band Inggris di Bandung. Selain itu memungkinkan juga membawa satu band untuk perform di Bandung dan membuat report khusus yang harus dicermati sebagai tugas utama dalam bidang kebudayaan.

Saat itu, memang bukan mimpi tapi rasanya seperti mimpi. Sampai suatu ketika, kejadian tak mengenakan terjadi di awal sewaktu mau pergi, salah waktu dan terpisah dari teman-teman orang Indonesia adalah salah satu penyebanya. Kami dijadwalkan untuk terbang pukul 6 subuh. Namun ternyata tiket saya salah jam, malah jam 6 sore satu hari sebelum rombongan atau teman lainnya. Wah, jadinya memang deg-degan sepanjang jalan dari Bandung ke Jakarta.

Lalu di pesawat sampai turun di airport Heatrow, muncul perasaan tak menentu, dag dig dug panik, karena banyak yang mengatakan harga taksi di sana sangat mahal. Kebayang kan, saya gak punya teman ngobrol dan pertama kali ke negara tersebut. Tapi gak ada pilihan lain, terbanglah saya pada waktu Maghrib tersebut, menempuh 15 jam penerbangan dan tepat mendarat jam 6 maghrib waktu Inggris. Turunlah sambil deg-degan, mencari teman yang bisa saya ajak bicara.

Small Vespa Station in Hackney.

Ternyata mencari teman yang bisa diajak bicara di sana tidak mudah. Memang saya pegang panduan dari pihak council, namun saya kehabisan akal ketika melihat antrian custom yang mengular dan baru bisa keluar dari airport jam 1 malam. Panjang sekali antrian waktu itu, banyak juga orang digotong pingsan karena kecapaian terlalu lama berdiri. Setelah saya coba cari tahu, rupanya hari Senin selalu seperti itu, hari orang memulai kerja, terutama dari negara di luar Inggris, ya ya ya.

Sedih sekali rasanya, pulsa habis, hanya bisa mengabari via SMS ke keluarga, ke teman di Inggris,dan Istri untuk memberi tahu bahwa saya udah sampai dengan selamat. Walaupun setelah keluar dari Heatrow dengan hati dongkol, antrian panjang menyebabkan koper sulit dicari, dan sulitnya mendapatkan Tube (kereta) menuju kota, akhirnya saya hanya bengong dan mau bertanya sepertinya di sana tidak seperti di Singapura atau Indonesia. Tak banyak information center, dan petugas yang melayani, mungkin karena sudah terlalu larut malam juga.

Sampai ketika saya diam dan mikir “gimana saya caranya menuju kota” seseorang menghampiri saya sambil mengatakan “Moslem? Moslem?” Rupanya seorang supir taksi gelap atau biasa disebut black cab mau menampung saya untuk menuju kota. Plong rasanya, ada juga jalan keluar dan berusaha menuju North Humberland St, hotel rujukan dari British Council. 40 menit baru saya menikmati suasana bangunan tua sepanjang perjalanan, kaget juga ketika hotel di North Humberland Avenue tersebut sudah tutup. Untungnya si pak supir masih mau mengantar dan mencari hotel lain.

Berkelilinglah kami, hampir 2 jam kami berkeliling sialnya tidak ada satupun hotel yang kosong. Sampai si supir marah, dan saya kembali kebingungan “kamu maunya apa sih? bayar agak mahal gak apa-apa yang penting jelas” ujarnya, “…saya ingin tahu dan jelas ini mau ke mana?” dengan nada membentak, waduh saya langsung ciut…

Akhirnya dapatlah sebuah hotel yang bentuknya seperti bangunan di film Oliver Twins dengan rate cukup tinggi. Ya bagaimana lagi, itu pun sepertinya satu-satunya. Belasan penginapan fully booked, hotel dengan kamar kecil pun dihargai sebesar 3,5 jt perhari. Mau tidak mau, harus mau, sambil kembali deg-degan apakah saldo kartu kredit saya cukup. Belum berhenti sampai di situ, di kamar pun saya malah jet lag, sulit tidur sekaligus kaget. Membuka layar laptop blank karena jatuh di front office sambil berpikir, “…jadi 3,5jt untuk tidak bisa tidur” sulit banget untuk diterima sepetinya.

Menunggu waktu sampai akhirnya pada jam 6 pagi, saya memutuskan untuk berangkat menuju hotel di daerah Travalgar Square-North Humberland untuk melakukan cross check. Sebuah hotel kecil dengan kamar sangat sekali yang disediakan oleh pihak British Council, “tidak apa-apa…” pikir saya. Saya tidak mikir-mikir lagi, yang penting saya cepat pindah dari hotel jutaan itu. Sampai sekarang saya juga lupa nama hotel mahal itu. Agak kesal juga menyewa sebuah kamar seharga 3,5 juta dan hanya ditempati beberapa jam saja.

Sekitar 2 jam saya menunggu di bilangan Travalgar Square, akhirnya ada seseorang memanggil, “euy keur naon?” rasanya lega mendengar bahasa Sunda di pusat kota London. Sementara yang namanya Travagal Square adalah sebuah lapangan yang sangat besar tempat banyak orang berkumpul, di dekatnya pun ada sebum tulisan Benjamin Franklin sewaktu tingat di Inggris, juga tempat dibangunnya British National Museum. Ternyata beberapa daerah ini adalah daerah lama di Inggris, dan bangunan tua nya pun banyak sekali.

Abbey Road…finally we meet

Akhirnya, setelah bertemu teman dari Bandung kita coba untuk mengontak beberapa teman yang belajar di sana, membeli Sim Card, juga mencoba untuk sedikit melokal, dan berhenti di beberapa taman. Meskipun belum berani terlalu jauh untuk berjalan ke arah Picadilly Circus, sampai menjelang sore kami terus berada di daerah tersebut, menyempatkan diri mengunjungi British National Museum untuk mengisi waktu. Program dari British Council berjalan satu hari setelah itu jadi kami mempunyai waktu satu hari untuk beristirahat.

Sore pun datang, kami melihat banyak sekali anak muda berkerumun, beberapa ada yang terlihat menyemprot sebuah cairan di trotoar dan tempat menyebrang, lalu timbul sebuah logo bertuliskan Chemical Brothers, “…agak aneh? ngapain mereka ini yah?” temen saya bergurau, “ahh etamah iseng we meureun asa euweuh nanaon.”  Tapi semakin banyak orang datang dari berbagai penjuru, betul ada sebuah panggung dadakan. Saya berpikir, “ahh paling band biasa baru persiapan gini.”

Sore menuju waktu maghrib kami memutuskan untuk duduk saja di depan hotel, sampai satu waktu terdengar sebuah sayup-sayup yang suara bunyi musik elektronik muncul tiba-tiba, berkali kali saya dengarkan, saya masih ingat berkata, “kela kela asa wawuh leu nada naanjis leu mah Chemical Brothers siah!”, teman saya yang belajar di sana mengatakan “aahh lain ah maenya maen di lapangan, jis bener siah ieuuuu”

Kami bertiga waktu itu langsung berlalri dari jalan Northumberland ke arah Travalgar Square. Ternyata betul Chemical Brothers live di depan mata, bersama lightingnya yang terkenal itu. Chemical Brothers adalah sebuah band electronik di era britpop dan salah satu band yang mengenalkan elektronik musik ke scene musik Indonesia. Ribuan orang berjoget mulai dari anak kecil, pasangan yang membawa bayi, sampai orang yang belanja sambil lewat. Bahkan, nenek-nenek yang juga kebetulan lewat atau ada di sana pun berjoget bersama dari ujung Travalgar Square sampai melebar ke jalan.

Sesampainya di sana, ternyata ada sebuah festival di Travalgar Square ini. Ribuan orang datang dari berbagai penjuru Inggris. Rupanya, Chemical Brothers adalah salah satu line-up acara yang diseleggarakan oleh pihak kota London tersebut. Acara ini pun gratis untuk penduduk kota London. Barulah muncul perasaan senang bagi saya, ini surprise yang luar biasa, dan jarang-jarang band elektronik sebesar Chemical Brothers perform di tempat umum. Dari situlah saya merasa, ya ini adalah sebuah liburan, tidak terasa beban apapun sepertinya.

Free Gigs by Major Of London City.

Lupa sudah jam-jam mencekam di awal mendarat. Acara tersebut berlangsung sampai pukul 1 malam, kami bertiga pun memutuskan untuk pulang. Teman saya pun menawarkan untuk menginap di tempatnya daripada di hotel, kami memutuskan untuk “hayu ahhhh.” , yang kediamannya bertempat di Selatan London Hackney, daerah perbatasan.

Lama memang saya mengagumi negara Inggris, yang kita ketahui selain mempunyai kultur industri musik yang kuat. Inggris pun melahirkan berbagai musisi handal dan megaband. Hal lain dari Inggris yang saya kagumi adalah sepakbola serta industri musik yang selama ini menemani perjalan hidup saya. Skena musik bagaikan sebuah guru yang baik dan saya sangat menikmati pekerjaan di dunia tersebut.

Merilis band-band independent adalah salah satunya, dan yang akhirnya dari industri inilah saya bisa berangkat ke Inggris. Sementara sepakbola yang terinspirasi dari Inggris adalah budaya hooligan di Bandung, yang juga bagian materi presentasi saya pada British Council. Kulturnya pun hampir sama dengan di Inggris. Hanya saja status kemapanan industrinya dan sistem yang bekerjanya yang berbeda.

Pihak pemerintah Inggris menyuruh saya untuk melakukan riset dan penulisan selama satu bulan setengah. Riset pun dilakukan mulai dari menonton live dari club kesayangan seperti New Castle United, lalu menonton live band, serta menonton berbagai musisi atau band-band favorit yang baru didengarkan seperti Connan Mockasin, Let it Pier, Goldstones, beberapa Dj di Club indiepop seperti The Strawberry Grunt. Bahkan saya sampai membantu menjaga booth CD band Lawrence Arabia, ketika masih mencari peruntungan di bar-bar sana. Belasan pengalaman lain yang saya lakukan pun menarik, seperti menonton the lucky Soul di, Alter Bridge, Manic Street Preacher, Erol Alkan dan masih banyak lagi.

One Little Indian Records, sebuah label yang merilis Bjork, dengan kantornya sederhana. tidak seperti yang dibayangkan.

Saya merasa ini tetap sebuah liburan panjang. Walaupun rasanya satu setengah bulan terasa pendek, karena saya merasa jika saya seorang traveler yang suka traveling di kota-kota. Belum lagi saya bukan tipe orang yang menyukai pantai atau gunung. Selama city traveling, saya menemukan banyak koneksi, mendapat teman baru, kota pun adalah tempat yang tepat untuk tempat traveling dan melihat kebudayaan urban yang terjadi di perkotaan. Kegiatan ini saya lakukan sejak awal tahun 2000an sampai tahun kemarin, bermain sambil bekerja dan bertravel sambil bermain juga bekerja atau bleisure trip.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.