Sensasi Perjalanan Naik Railbus Batara Kresna

0
1982
Railbus Batara Kresna di Stasiun Wonogiri.

Jika kita bertandang ke Kota Solo, selain keraton dan pasar-pasar yang legendaris, ada satu spot yang terbilang unik, yaitu rel kereta api yang membentang di Jalan Raya Slamet Riyadi. Rel ini posisinya sejajar dan menyatu dengan aspal jalan raya, tanpa pagar pembatas. Dan, rel ini masih aktif! Setiap harinya ada dua kali perjalanan kereta api pulang pergi.

Berbekal rasa penasaran ingin menjajal bagaimana rasanya naik kereta di atas jalan raya, saya lalu menyambangi Stasiun Purwosari. Dari stasiun ini, ada layanan kereta api atau railbus Batara Kresna yang berangkat ke Wonogiri. Tarifnya cuma 4 ribu ripiah saja. Setahun sebelumnya, saya memang sudah pernah menjajal naik kereta tapi. Tapi, kala itu rangkaian kereta yang dipakai adalah versi diesel non-ac, bukan railbus yang biasanya melayani trayek ini.

Railbus Batara Kresna punya dua jadwal berangkat pulang pergi. Kereta pertama bertolak dari Purwosari jam 6 pagi. Kereta kedua jam 10 pagi. Saya naik kereta yang kedua.

Penampakan muka Railbus Batara Kresna.

Dari tampilan luarnya, railbus Batara Kresna berbeda dari kereta lain pada umumnya. Satu rangkaian railbus hanya terdiri dari dua kereta. Moncongnya agak melancip, menyerupai bentukan kereta cepat. Tapi, soal kecepatan jangan ditanya. Laju konstannya hanya sekitar 30 kilometer per jam saja.

Sejarah jalur Solo-Wonogiri
Stasiun Sukoharjo, salah satu stasiun yang disinggahi Batara Kresna. Stasiun ini sepi penumpang.

Jalur yang membentang dari Solo menuju Wonogiri terbagi menjadi beberapa bagian. Dari Stasiun Purwosari hingga Solo Kota, rel membentang melalui jalan Slamet Riyadi. Pada zaman Belanda dulu, jalur ini beroperasi pada tahun 1892, namun rutenya hanya sampai ke Stasiun Solo Jebres via Benteng Vastenburg. Tapi, lokomotif yang digunakan bukanlah lokomotif uap, melainkan trem yang ditarik kuda.

Interior Railbus Batara Kresna.

Hingga suatu ketika, terjadi wabah yang menjangkiti kuda-kuda. Trem pun tak bisa melaju. Setelah itu, perusahaan pun menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) untuk mendatangkan lokomotif uap.

Tahun 1920, jalur eks trem kuda itu diperpanjang hingga ke Wonogiri, dan tahun 1923, jalurnya diperpanjang lagi sampai ke Baturetno. Tapi, jalur menuju Baturetno tidak bertahan lama. Tahun 1978, jalur tersebut ditutup lantaran pembangunan Waduk Gajah Mungkur. Praktis Stasiun Wonogiri menjadi stasiun terminus di lintasan ini.

Rel yang dilalui Batara Kresna selepas Stasiun Solo Kota menuju Stasiun Sukoharjo.

Sepanjang perjalanan sejarahnya, jalur Solo-Wonogiri digunakan sebagai angkutan penumpang dan juga barang. Kereta-kereta banyak mengangkut batu gamping dari Wonogiri untuk keperluan pabrik-pabrik gula. Tapi, seiring waktu berlalu dan pamor pabrik gula meredup, frekuensi angkutan barang via kereta pun makin berkurang. Demikian juga dengan arus penumpang. Di dekade 1970-an, kendaraan roda karet mulai menjamur. Penumpang pun banyak beralih ke moda transportasi lain karena waktu tempuhnya yang lebih singkat.

Pasca ditinggal penumpang dan angkutan barang, jalur Solo-Wonogiri sempat mati suri. Pernah pula diaktifkan kembali untuk mengangkut kereta feeder. Tapi, tidak bisa maksimal. Jenis rel yang lawas mengakibatkan kereta ini hanya bisa dilalui lokomotif ringan dengan rangkaian pendek dan kecepatan terbatas.

Merugi, namun tetap beroperasi

Tahun 2015, PT. Kereta Api Indonesia (KAI) akhirnya melaunching layanan kereta api Batara Kresna yang wara-wiri di lintasan Purwosari-Wonogiri.

Tiket perjalanan Railbus Batara Kresna, empat ribu rupiah saja.

Hadirnya railbus Batara Kresna merupakan salah satu upaya PT. KAI untuk melestarikan jalur lawas yang masih cukup baik, sekaligus memberikan lebih banyak opsi kepada warga di antara dua kota untuk bepergian. Tarif seharga 4 ribu rupiah yang dibanderol agaknya merupakan tarif yang amat terjangkau. Dengan harga tiket semurah itu, kita bisa menikmati perjalanan selama lebih kurang 1 jam 45 menit.

Penampakan samping Railbus Batara Kresna.

Kereta yang saya naiki bertolak pukul 10 pagi, menyusuri jalan Slamet Riyadi dengan laju yang lambat. “Teeettt….teeettt”, masinis terus menerus membunyikan klakson supaya kendaraan lainnya menghindar.

Rel di pinggir Jalan Raya Slamet Riyadi yang masih aktif dan dilalui oleh Railbus Batara Kresna.

Selepas Stasiun Solo Kota, kereta membelah area persawahan nan hijau dan juga melintasi jembatan sungai legendaris, Bengawan Solo. Kira-kira satu jam setengah kemudian, tibalah saya di Stasiun Wonogiri. Lima belas menit kemudian, saya kembali bertolak ke Purwosari menggunakan kereta yang sama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.