Sensasi Alam Pedesaan Jawa Kuno di Restoran Kampoeng Mataraman

0
379
Tempat swafoto.

Tak ada habisnya jika menelusuri wisata di Provinsi Yogyakarta, apalagi soal destinasi kulinernya yang melimpah ruah. Salah satu yang patut dicoba adalah Kampoeng Mataraman ini.

Berlokasi di Ringroad Selatan Desa Panggungharjo, Kabupaten Bantul, atau sekitar setengah jam dari pusat Kota Yogyakarta, Kampoeng Mataraman menawarkan sensasi kuliner dengan cara lain. Kita akan disuguhkan pemandangan areal persawahan hijau dan bangunan resto yang terbuat dari kayu menyerupai Kerajaan Mataram Islam Kuno.

Kampoeng Mataraman memiliki lahan yang luas sehingga cocok untuk acara keluarga, kumpul bareng teman kelas, atau berduaan bersama si dia. Lahan parkirnya juga tak kalah luas dengan area bangunannya. Jadi jangan khawatir parkir akan meluber ke bahu jalan utama. Di sini juga ada banyak pendopo khas yang bisa dibuat tempat duduk atau tempat menyantap makanan dan minuman, untuk acara, dan untuk berswafoto.

Salah satu pesanan yang saya pesan.

Di depan pendopo utama terdapat kerajinan patung yang terbuat dari jerami dan kayu. Ada pula jembatan bambu dan genangan air dengan teratai di atasnya. Semuanya menambah kesan bahwa kita sedang menjelajahi masa lampau.

Saya segera memesan minuman berupa es jeruk manis dan aneka gorengan. Sebenarnya ada banyak sekali anek minuman yang tersedia di Kampoeng Mataraman seperti wedang uwuh atau rempah-rempah, bir mataraman (tidak mengandung alkohol), teh poci, teh sere, dan masih banyak lagi. Harga minumannya sendiri mulai dari Rp 5.000. Sangat pas di kantong mahasiswa, kan?

Tak hanya minuman dan cemilan, makanan berat juga tersedia dengan gaya prasmanan. Kita bisa bebas memilih lauk makanan khas Jawa yang menggoda lidah. Harga dari semua hidangan  pun masih dalam tahap wajar bila dibandingkan warung samping jalan raya yang kadang harganya tidak manusiawi.

Mushola bergaya kuno.

Puas dengan kuliner, saatnya menunaikan ibadah sholat Maghrib. Di sana tersedia mushola yang terlihat seperti di zaman kerajaan Islam, yakni surau kecil yang terbuat dari kayu. Jadi terasa khusyu sholatnya. Selepas sholat, saya dan rekan-rekan kembali ke meja makan lesehan. Oh ya, Kampoeng Mataraman menyediakan tempat makan berkonsep lesehan dan tempat duduk biasa. Tinggal pilih saja sesuai selera dan jumlah orang yang datang. Kalau banyak mending duduk secara lesehan saja karena tempatnya cukup luas jadi bisa muat banyak orang.

Di Kampoeng Mataraman ini juga bisa pesan tempat secara reservasi. Jadi, jangan heran jika tiba-tiba kita disuruh pindah ke pendopo lain karena ada salah satu pendopo yang sudah dipesan keluarga atau perusahaan.

Perlu diketahui bahwa Kampoeng Mataraman ini bekerjasama dengan Pemerintah Desa (Pemdes). Oleh karena itu, lahan yang dipakai adalah lahan desa. Konsep mereka juga didukung oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dan seringkali bekerjasama dengan Bumdes di seluruh Indonesia.

Salah satu pendopo untuk makan.

Setiap seminggu sekali, ada saja desa yang mengadakan acara di Kampoeng Mataraman. Wajar saja mengingat tempat ini bekerjasama dengan Pemdes. Terbilang unik karena selain menguntungkan pengusaha atau pendirinya, tempat ini juga berkontribusi untuk menghidupkan perekonomian desa. Desa-desa jadi termotivasi untuk terus berinovasi dalam memajukan perekonomiannya.

Setelah puas makan dan minum, jangan lupa membayar di kasir. Tempat kasir Kampoeng Mataraman sudah agak modern lengkap dengan mesin kasir kekinian. Pelayannya juga sangat modern meskipun mereka memakai pakaian sederhana ala wong deso. Jangan salah lho! Pelayanannya tak kalah dengan hotel berbintang sekalipun.

Kalau bosan nongkrong di kafe modern, sesekali mampir ke resto-resto menarik dan unik yang secara tidak langsung membantu meningkatkan perekonomian penduduk lokal seperti Kampoeng Mataraman. Jadi kalau kalian berkunjung ke Yogyakarta, jangan lupa untuk mengunjungi destinasi kuliner ini ya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.