Sejenak Menikmati Indahnya Ijen Boulevard Kota Malang

0
1588
Median Jalan di Monumen Melati.

Ketika ingin sejenak melepaskan penat dari rutinitas kerja dan sedikit membuang lelah dari segala hiruk pikuk aktivitas yang saya jalani, saya tak perlu harus keluar kota ataupun mengeluarkan banyak biaya. Saya hanya perlu singgah sebentar di sebuah jalan yang menjadi ikon Kota Malang, yaitu Jalan Ijen.

Jalan ini membelah tepat di tengah Kota Malang. Banyak orang menyebutnya sebagai Ijen Boulevard lantaran jalan ini merupakan jalan yang ramai dan lebar dengan median jalan di tengah. Boulevard atau dalam istilah bahasa Indonesia disebut sebagai adimarga bisa digunakan tak hanya bagi pengendara motor namun juga bagi pejalan kaki. Sangat beruntung saya tinggal di Kota Malang yang memiliki Ijen Boulevard sebagai salah satu boulevard terbaik di Indonesia.

Adanya Boulevard ini tak lepas dari peran seorang arsitek kenaman Belanda, Ir. Thomas Karsten. Ia yang merupakan arsitek bagi tata kota di Indonesia membangun Ijen Boulevard dengan perencaan yang sangat matang. Hasilnya pun bisa saya rasakan hingga sekarang. Ketika saya  bisa berjalan dengan suasana nyaman ditemani pohon palem di sepanjang kanan dan kiri jalan, saya sungguh menikmati fasilitas umum ini.

Pohon palem ini membatasi rumah-rumah bergaya Belanda yang hingga kini masih banyak tersebar di Jalan Ijen. Rumah-rumah ini menjadi ikon sejarah bagi Kota Malang. Hampir semua rumah di sana memiliki taman yang semakin menambah indah suasana sehingga membuat Jalan Ijen semakin menarik.

Jalan Ijen yang cukup lebar.

Untuk berjalan di Ijen Boulevard, kamu bisa dimulai dari jalan yang bersimpangan dengan Jalan Kawi. Di sini, suasana segar dan dinginnya Kota Malang sangat terasa. Di sepanjang segmen Ijen Boulevard yang pertama hingga Museum Brawijaya, tersedia trotoar yang sangat luas yang disediakan bagi pejalan kaki. Trotoar ini bisa jadi tempat fotografi yang akan menghasilkan gambar menarik.

Di depan Museum Brawijaya ada sebuah taman yang berada tepat di bawah Monumen Melati. Di tempat itu, rangkaian bunga ditata sedemikian rupa menaungi kursi taman sehingga tampak apik jika dipotret terutama di senja hingga malam hari. Ada pula air mancur yang memancarkan air di dekat taman tersebut.

Di dekat Monumen Melati berdiri megah sebuah bangunan Gereja Katolik Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel. Bangunan suci yang telah berdiri sejak zaman penjajahan ini menambah kesan eksotis di Ijen Boulevard. Di seberang gereja, berdiri kokoh Monumen Pahlawan Trip yang juga menjadi ikon Kota Malang dan simbol perlawanan rakyat Malang terhadap penjajah.

Gereja Katolik Santa Perawan Maria.

Dari di Ijen Boulevard, jalan-jalan bisa terus dilanjutkan pada segmen yang kedua yakni setelah Monumen Pahlawan Trip. Meski tidak ada median jalan yang memagarinya, namun aneka kursi tersedia dengan cukup banyak. Biasanya, kursi-kursi ini menjadi favorit warga Kota Malang yang ingin sekadar bersantai. Umumnya, mereka memarkir motor mereka di tepi jalan dan mulai menikmati kesegaran Jalan Ijen dan dinginnya Kota Malang. Berbagai aktivitas pun bisa dilakukan, mulai mengobrol, mendengarkan musik hingga membaca.

Di sepanjang jalan ini, tak hanya tersedia tempat duduk  tapi ada juga air siap minum dari beberapa keran yang terpasang. Kebersihan di sekitar taman ini juga sangat dijaga. Banyak tempat sampah yang tersedia di sana. Belum lagi, aneka lampu taman yang menghiasi  taman ini menambah syahdu suasana.

Dibandingkan pada awal perkembangannya dulu, Ijen Boulevard sudah mengalami banyak perubahan. Meski banyak sudut di Kota Malang telah penuh sesak dengan perkembangan penduduk, namun tidak demikian dengan Ijen Boulevard. Daerah ini masih memiliki ruang yang cukup besar dan dapat digunakan siapa saja yang ingin menikmati Kota Malang, yang tak hanya keindahan alamnya, namun khazanah sejarah dan budayanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.