Sehari Mengenal Gunung Gede

0
313
Keramaian di pos Kandang Badak.

Suata kala aku dan grup pendakianku menginginkan pengalaman mendaki yang berbeda. Mendaki tanpa membawa beban berat. Pasti enak bisa berjalan dengan cepat, bahu tidak capek menahan beban berat, dan masih banyak imajinasi positif lainnya yang terlintas dalam diskusi kami. Sering terdengar istilah diantara para pendaki yaitu tek-tok. Tek-tok adalah cara mendaki yang hanya ditempuh dalam 1 hari untuk naik sampai puncak lalu turun kembali ke basecamp di bawah. Beban utama yang dibawa hanya makanan dan minuman.

Kami putuskan mengusung konsep ini untuk mewujudkan keinginan kami. Untuk gunung yang didaki, kami tentukan Gunung Gede. Pemilihan ini didasarkan pada reputasi Gunung Gede yang terkenal dengan gunung yang santai dan tidak terlalu tinggi. Selain itu, Gunung Gede juga sering dipakai untuk kegiatan olahraga hash yang konsepnya menyerupai konsep tek-tok. Fakta-fakta ini menguatkan keputusan kami memilih Gunung Gede. Pendakian dipilih melalui jalur Cibodas.

Perjalanan kami mulai dari pos pendaftaran jam 9 pagi. Kami mendaki berempat dengan masing-masing membawa tas kecil. Track awal sangat santai. Lurus dengan susunan bebatuan yang landai, tidak membuat kaki sakit. Perjalanan diteruskan dan tak lama menjumpai jembatan kayu yang sangat panjang dan lebar.

Jembatan awal pendakian.

Jembatan ini seperti menyambut para pengunjung. Sekaligus jembatan ini berkata, “Bersiaplah untuk memulai pendakian sebenarnya setelah ini!”. Tidak lama setelah selesai melewati jembatan ini, anak tangga siap menyambut. Medan pendakian di Gunung Gede itu seperti anak tangga yang sangat panjang dan jalurnya zig-zag perlahan naik. Karena beban yang kami bawa tidak berat, mental kami menanggapi situasi ini santai saja. Langkah demi langkah kami jalani perlahan tapi pasti.

Bisa aku katakan jalur pendakian Gede itu sangat ramai. Kalian akan selalu berpapasan dengan orang lain. Kala itu aku berpapasan dengan banyak orang yang melakukan olahraga hash. Baik yang muda sampai sudah tua, semuanya ada. Aku salut dengan mereka yang sudah usia tua tetapi tetap memiliki daya juang tinggi tidak mau dikalahkan oleh usia. Jangan lupa untuk sempatkan meninggalkan senyum kepada mereka yang kalian lewati. Vegetasi di sini rapat. Jadi, selama pendakian udara yang kalian terasa sejuk dan dingin. Dikarenakan tema pendakian kami adalah santai, sekalinya istirahat kami ambil jangka waktunya lama. Bersenda-gurau, mengambil fotogila namun tetap sopan, membuat video parodi kami lakukan semuanya.

Hal baru kutemukan dari pengalaman mendaki gunung di Jawa Barat dan Jawa Timur. Perbedaan mencolok antara gunung yang ada di Jawa Barat dibandingkan dengan gunung yang ada di Jawa Timur adalah sumber airnya. Di Gunung Gede sumber airnya sangat banyak. Kalian akan menjumpai air terjun, dan aliran air seperti sungai kecil selama pendakian. Selain itu, pengalaman menantangnya adalah melewati jalan di balik derasnya air terjun. Berhati-hatilah ketika berjalan karena pijakan kaki kalian adalah batu licin dengan penyeimbang pegangan tangan adalah tali di kiri dan kanan kalian. Tidak hanya Gunung Gede, dari artikel yang aku baca, gunung lainnya di Jawa Barat juga memiliki sumber air yang melimpah. Hal ini berbeda dengan gunung di Jawa Timur yang rata-rata mata airnya tidak melimpah.

Suasana berkabut ketika menuju puncak.

Akhirnya kami sampai di pos terakhir sebelum puncak, yaitu Kandang Badak. Benar-benar ramai sekali waktu itu. Sejauh mata memandang hanya ada tenda dan manusia. Tidak ada lahan kosong. Kami sempat bersyukur tidak membuat rencana mendirikan tenda di situ. Lahan seadanya kami tempati di dekat penanda lahan Kandang Badak untuk berisitrahat sejenak makan siang. Menu kami kala itu adalah ransum. Pertama kalinya bagi kami untuk memakan ransum. Meskipun bentuknya yang tidak indah, ternyata rasanya enak sekali menyerupai makanan aslinya. Praktis untuk dibawa karena tidak memakan banyak tempat dan praktis dalam pengolahan, cukup ditambah air panas. Pilihan yang sangat tepat untuk membawa ransum kala itu.

Perjalanan kami lanjutkan untuk menuju puncak. Kali ini perjalanan terasa berbeda. Vegetasi semakin rapat dengan bentuk pohon yang menurut kami berbeda. Terang sinar matahari semakin susah masuk ditambah kabut yang cukup tebal mulai turun. Pendapat salah satu dari kami, suasana menujuk puncak ini seperti suasana hutan di film ‘The Forest’ yang menceritakan keseraman hutan di kaki Gunung Fuji, tempat orang melakukan bunuh diri. Tenaga kami terkuras banyak untuk menggapai puncak. Cukup lama usaha mendaki kami kali ini. Setelah mengalami istirahat yang dikatakan banyak juga, akhirnya kami mencapai vegetasi yang lebih terbuka. Puncak Gunung Gede sudah nampak di depan mata.

Sesampainya di puncak langsung kami mengambil istirahat sejenak. Puncak gede memiliki lahan yang cukup sempit. Sayangnya pada saat itu pengalaman puncak kami menjadi tidak sempurna karena kabut tebal yang tidak lekas pergi dan hujan mulai turun sedikit. Pandangan sekitar tidak bisa terlihat jelas. Tidak lupa kami sempatkan mengabadikan berfoto di tugu penanda puncak Gede 2958 mdpl. Kami sudah bahagia kala itu karena sudah bisa mencapai puncak, dan tinggal turun saja yang cenderung lebih ringan dibanding naik. Waktu sudah menunjukan menjelang sore. Sudah saatnya istirahat kami sudahi dan segera turun. Turun hingga ke Kandang Badak kembali, perjalanan seperti biasa dan cepat. Kami lanjutkan langsung tanpa berhenti mengingat tenaga masih ada. Tidak lupa aku katakan bahwa medan yang dilalui selama turun adalah menuruni anak tangga yang sangat banyak.

Vegetasi yang rapat.

Dari awalnya berjalan turun dengan tempo yang cepat, perlahan mulai berubah menjadi tempo lambat. Dari awalnya kami yang masih mengobrol satu sama lain, lama kelamaan menjadi terdiam satu sama lain. Lutut kami mulai berontak kelelahan. Aktivitas turun yang kami anggap ringan ternyata tidak sesuai kenyataan. Makin lama terasa makin berat. Terpaksa kaki ini harus diistirahatkan sebentar.

Ketika jam menunjukan 6 sore, kami sempatkan berhenti kembali di tengah jalan. Sudah menjadi aturan yang kami sepakati bersama di setiap naik gunung untuk berhenti sejenak setiap jam 6 sore waktu sempat. Setelah 15 menit berhenti, perjalanan kami lanjutkan.

Tantangan datang kembali dengan wujud yang berbeda. Sekarang tidak hanya menuruni anak tangga tetapi juga melalui medan yang tersusun atas batu yang tidak landai/rata. Kaki sering selip. Kadang merasakan menginjak batu yang tajam. Semua itu menambah beban lelah kaki. Kaki kami menjadi punya otak sendiri. Bisa berjalan sendiri ke kiri dan kanan tanpa ada kontrol secara sadar. Kondisi gelap dan capai akan lebih memudahkan kita kehilangan konsentrasi. Sesekali aku sempatkan memanggil nama temanku satu persatu untuk menjaga konsentrasi mereka. Dibalik rasa lelah itu ada kejadian lucu terekam. Karena kaki bisa berjalan sendiri tadi, dua orang temanku yang berjalan di sebelah kiri dan kanan yang cukup jauh, tiba-tiba bisa bertabrakan di tengah. Aku yang melihat dari belakang lantas tertawa.

Puncak Gunung Gede.

Sekitar jam 8 malam akhirnya kami sampai di pos pelaporan kembali. Tetapi bukan berarti perjalanan berakhir, selesainya dari situ perjalanan masih dilanjutkan sedikit lagi ke parkiran mobil di bawah. Aslinya dekat. Namun, karena kaki sudah capek sekali, yang dekat terasa menjadi sangat jauh. Kami sudah tidak memedulikan mengambil foto kenangan ketika sudah turun. Masing-masing individu sangat capek. Barang-barang segera kami letakan di mobil. Warung yang buka langsung kami hampiri. Pesan mie instan dan teh panas. Kombinasi menu makan minum terbaik untuk pemulihan energi. Selesai makan, kami ikut tidur sebentar di warung tersebut sebelum akhirnya melanjutkan perjalan kembali ke kota.

Konsep tek-tok ini memang menyimpan keseruan dan sensasi tersendiri. Kita bisa belajar mengatur muatan secara ringan. Kita bisa punya waktu mengambil dokumentasi lebih banyak karena rasa capai tidak besar. Tidak lupa pesanku adalah siapkan fisik yang optimal karena konsekuensi konsep ini adalah minim waktu istirahat.

Itu yang bisa aku simpulkan dari pengalamanku melakukan tek-tok di Gunung Gede. Pengalaman lelah yang aku alami tidak akan menjadi penghilang rasa ingin mencoba kembali konsep ini. Tunggu waktunya saja untuk melakukan kembali di gunung yang berbeda. Sampai berjumpa di artikel selanjutnya. Salam Gunung itu Guru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.