Satu Hari Wisata Jeju Bersama Keluarga

0
135
Pemandangan dari atas gerbang Songeup Folk ViIllage.

Jeju, pulau terbesar di Korea Selatan ini menyimpan keindahan yang dapat membuat siapapun terpukau saat menjejakkan kaki di sana. Dengan cuaca hangat sepanjang tahun, mengunjungi Jeju pada musim apapun akan terasa cukup nyaman. Adanya kebijakan bebas visa kunjungan untuk warga negara Indonesia (tidak berlaku untuk kunjungan/masuk Jeju melalui Korea Selatan), semakin memudahkan kita untuk mengunjungi Pulau Jeju. Tinggal menyesuaikan harga tiket pesawat dan waktu luang saja.

Kami melakukan perjalanan ke Jeju pada akhir Januari saat musim dingin belum berakhir, sehingga kami tetap membutuhkan baju hangat agar badan kami yang terbiasa dengan iklim tropis tidak kedinginan. Kami hanya memiliki waktu satu hari di pulau Jeju dan memutuskan untuk menjelajah bagian timur pulau.  Pesawat kami tiba pukul 10.30 pagi waktu Jeju. Setelah melalui proses imigrasi, klaim bagasi, dan mengambil mi-fi yang kami rental di pintu keluar bandara, kami pun memulai perjalanan.

Gimnyeong dan Woljeongri Beach
Stones and Windmills.

Kedua pantai ini mirip dan keduanya terletak masih di  bagian utara pulau Jeju. Area pantai yang tidak terlalu luas, ombak yang tenang, angin yang semilir, dan pasir putih yang cantik menjadikan kedua pantai ini tempat bermain yang cocok untuk keluarga dengan anak kecil seperti kami. Jarak tempuh dari Gimnyeong Beach ke Woljeongri Beach hanya kurang dari 5 menit perjalanan dengan menggunakan mobil.

Suasana Gimnyeong Beach lebih tenang, sedangkan Woljeongri Beach lebih ramai dengan deretan kafe dan restoran menghadap ke pantai. Terdapat banyak sekali windmill di sekitar kedua pantai ini, menambah keindahan pemandangan dari pantai tempat kami bermain. Ada juga tumpukan bebatuan yang disusun oleh pasangan yang datang ke sini. Mereka kembali di lain waktu untuk melihat apakah tumpukan batu yang mereka susun masih seperti saat mereka membuatnya.

Makan Siang di Uribong Sikdang
Menyantap masakan lokal Uribong Sikdang.

Waktu menunjukkan pukul 1 siang waktu Jeju. Lepas lelah bermain di pantai, kami menuju Uribong Sikdang yang terletak tepat di kaki Sunrise Peak yang tersohor. Restoran ini adalah restoran muslim-friendly, meskipun belum tersertifikasi halal secara resmi. Mereka hanya menyajikan masakan seafood  dan memiliki tempat khusus untuk shalat, lengkap dengan sajadah dan mukena. Untuk mengambil wudhu pun disediakan sandal khusus.

Menu seafood yang mereka miliki sangat beragam, dari mulai grilled mackarel, bubur abalon, seafood hotpot, dan masih banyak menu lain yang dengan melihat gambarnya saja sudah cukup membuat perut kami kelaparan. Selain menu porsian, ada juga menu paket untuk yang datang berdua atau bertiga seperti kami, meskipun pada umumnya restoran di Korea Selatan selalu menghidangkan menu utama bersama side dishes yang cukup banyak.

Seongsan Ilchulbong (Sunrise Peak)
Teropong di gardu pandang Seongsan Ilchulbong.

Setelah puas menyantap hidangan lokal di Uribong Sikdang, saatnya membakar lemak perut dengan sedikit hiking menuju Seongsan Ilchulbong. Seongsan Ilchulbong bukan kawah gunung berapi biasa, melainkan kawah yang muncul dari erupsi hidrovulkanik puncak gunung yang menyembul dari permukaan laut. Karena itulah Seongsan Ilchulbong ini juga dinobatkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO.

Di pintu masuk terdapat beberapa patung khas Jeju yang disebut Dolhareubang yang berarti “Kakek Batu”. Jalur mendaki berbeda dengan jalur untuk turun. Masing-masing memiliki pagar yang kokoh sehingga meskipun cukup sempit, kedua jalur aman untuk dilewati berbagai kalangan usia. Di sepanjang pendakian juga terdapat beberapa gardu pandang yang dilengkapi dengan teropong dan kursi untuk beristirahat.

Setelah mendaki sekitar 30 menit, lebih lama dari waktu mendaki pada umumnya karena kami membawa anak berusia 3 tahun, sampailah kami di puncak dengan ketinggian 180 mdpl. Pemandangan dari puncak kawah sangat mengagumkan. Pemukiman rapi di satu sisi dan laut yang mengelilingi sisi lainnya. Rasanya tak akan bosan berlama-lama menghabiskan waktu di puncak. Sayangnya angin di puncak berhembus sangat kencang dan cukup dingin sehingga kami memutuskan untuk turun.

Ujung jalur turun dari puncak bertemu dengan jalur untuk melihat pertunjukan Haenyeo (women sea divers) pada pukul 1 dan 3 siang saat cuaca memungkinkan. Haenyeo juga dinobatkan sebagai intangible cultural heritage oleh UNESCO, karena kemampuan mereka yang mampu menyelam tanpa oksigen untuk menangkap fresh seafood pada kedalaman hingga 20 meter. Tidak main-main, usia mereka juga rata-rate di atas 60 tahun!

Seongeup Folk Village
Pemandangan dari atas gerbang Songeup Folk ViIllage.

Pukul 4 sore kami melanjutkan perjalanan ke Seongeup Folk Village, suatu desa yang digunakan sebagai latar film drama “Dae Jang Geum” yang menceritakan tentang seorang tabib wanita yang jenius pada masa kerajaan Joseon. Di desa ini penduduknya masih menggunakan rumah-rumah tradisional. Pemerintah memang melarang untuk memodifikasi bagian luar rumah. Atap rumah yang terbuat dari jalinan ilalang pun selalu diganti setiap tahunnya.

Pengunjung diperbolehkan untuk memasuki beberapa “rumah contoh” yang masih mempunyai peralatan-peralatan tradisional di dalamnya. Guide yang ditunjuk oleh pemerintah lokal menjelaskan sejarah dan bagaimana cara menggunakan peralatan-peralatan tradisional tersebut.

Di bagian depan pintu masuk desa terdapat gerbang besar yang memiliki anak tangga untuk mengarahkan ke atas gerbang. Kami dapat melihat pemandangan sekeliling desa yang masih asri dari atas gerbang tersebut.

Sumokwon Indoor Theme Park
Food Truck di halaman luar Sumokwon Indoor Theme Park.

Hari hampir gelap ketika kami sampai di Sumokwon Indoor Theme Park. Saat memasuki area Sumokwon Indoor Theme Park kami disambut dengan sederetan food truck yang bersiap untuk membuka jualannya saat hari gelap. Di halaman luar terdapat berbagai miniatur dan karakter yang di dalamnya diberi lampu sehingga saat memasuki gelap, lampu lampu tersebut menyala dan menyajikan pemandangan yang magis.

Memasuki bagian dalam Sumokwon Indoor Theme Park, kami memilih untuk mengambil paket terusan yang terdiri dari Ice Sculpture, VR Box, dan 3D Trick Art. Ada pula pilihan paket untuk membuat cokelat Jeju dan ice cream.

Setelah menjelajah, perut kami mulai lapar dan kembali kami menjelajah makanan Jeju. Kami mencoba beberapa makanan di food truck dengan latar belakang area pinus yang disulap menjadi area romantis lengkap dengan bangku dan meja kayu serta lampu-lampu kecil di sekelilingnya.

Jeju meninggalkan pengalaman yang tak terlupakan bagi kami. Dalam hati kecil kami berkata untuk kembali di lain waktu dan menjelajah sisi lain pulau yang belum sempat kami kunjungi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.