Sate Manang Kabau, Kuliner Wajib Jika Berkunjung ke Padang

0
1956
Sate Campur.

Mencicipi kuliner khas dari daerah yang kita kunjungi menjadi hal yang wajib ketika sedang traveling. Sekalipun di kota asal kita, makanan yang sama juga dapat ditemukan namun tentu saja cita rasanya pasti berbeda. Itulah alasan saya berburu tempat sate padang yang enak, langsung di kota asalnya Padang, Sumatera Barat.

Lucunya, saya menemukan tempat makan sate padang yang enak ini justru karena ketidaksengajaan. Berawal di tengah perjalanan menuju tempat wisata saya melihat-lihat suasana kota Padang dari balik jendela mobil. Lantas saya melihat sekilas sebuah restoran dengan plang nama besar Sate Manang Kabau.

Saya langsung mengingat nama tempat tersebut dan mencari reviewnya di google maps, ternyata banyak yang review dengan bintang lima. Mereka mengatakan selain satenya yang enak, tempat juga bagus untuk foto-foto, dan asik untuk berkumpul bersama teman atau keluarga.

Sate Padang dengan Lontong Kuah Coklat.

Besoknya segera tempat ini menjadi tujuan pertama saya di pagi hari. Kapan lagi bisa sarapan Sate Padang langsung di kota Padang? Untungnya, lokasi restoran Sate Manang Kabau ini sangat mudah ditemukan. Tinggal pesan Gocar dan menuliskan tempat tujuan, kami sampai hanya dalam waktu 10 menit dari penginapan.

Selain plang tulisannya yang cukup besar sehingga dapat mudah ditemukan dari kejauhan, atapnya yang berbentuk khas Rumah Gadang menjadi ciri yang bisa kalian perhatikan ketika mencari restoran ini. Apalagi letaknya berada di pinggir jalan besar, Jl. Khatib Sulaiman No.15, Kecamatan Padang Utara, Padang.

Uniknya begitu memasuki restoran ini, saya disambut dengan ucapan “salamaik dataaang!” secara serentak dari seluruh pramusaji. Hal tersebut tentu membuat saya langsung tersenyum. Teringat ketika masuk ke restoran Jepang, pramusajinya akan menyambut dengan ucapan “selamat datang” secara lantang dalam Bahasa Jepang. Sedangkan di sini tentu disesuaikan dengan budaya lokal.

Restoran Sate Manang Kabau.

Suasana masih terlihat sepi, hanya ada satu orang pelanggan yang terlihat sedang sibuk memotret makanannya sebelum disantap. Mungkin karena memang masih pagi, dan pada hari kerja pula. Namun, karena tidak ramai saya jadi bisa menikmati suasana dengan lebih tenang dan mengambil foto tanpa rasa segan.

Restoran Sate Manang Kabau ini didesain terbuka tanpa dinding di bagian depan dan sebelah kiri sehingga tanpa penyejuk udara pun akan tetap terasa sejuk. Bagian yang tanpa dinding juga langsung mengarah ke halaman yang juga disediakan bangku dan meja jika pengunjung lebih memilih untuk makan dengan suasana taman. Saya lihat ada lampu-lampu gantung di taman tersebut, jika malam hari, tentu akan membuat suasana terlihat lebih menarik. Ada kolam ikan kecil di antara tangga menuju taman, melihat ikan koi warna-warni bisa menjadi hiburan selama menunggu pesanan datang.

Pramusaji dengan sigap dan ramah melayani kami dan memberikan daftar menu. Selain Sate Padang yang menjadi andalan mereka, di sini juga ada aneka Soto dan Teh Talua (Teh Telur). Saya memesan sate campur, yaitu sate daging, sate ayam, dan sate telur puyuh. Lontongnya dipesan terpisah dengan pilihan kuah coklat, kuah merah, dan kuah kuning. Saya memesan kuah coklat dan kuah merah. Untuk minumannya saya memesan air mineral dan teh talua tapai.

Sate Padang dengan Lontong Kuah Merah.

Tidak menunggu terlalu lama, pesanan pun datang. Awalnya saya mengira lontong dengan kuah coklat akan tampak seperti sate kacang, ternyata mirip kuah lontong biasa hanya lebih pekat warnanya. Sedangkan kuah merah, memang benar-benar berwarna merah.

Daging sate yang disajikan juga berukuran sedang, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Baik daging ayam maupun daging sapinya terasa lembut dan gurih. Untuk lontongnya, saya lebih suka kuah coklat dibanding kuah merah, karena bumbunya lebih terasa pada kuah coklat yang kental. Apalagi makannya dengan kerupuk kulit khas di sini yang disebut kerupuk jangek, terasa lebih nikmat.

Saya betul-betul menikmati Sate Padang di sini, berulang kali saya bilang ke suami yang menjadi partner traveling saya bahwa satenya enak dan suamipun menyetujuinya. Dia juga mengatakan bahwa Teh Talua Tapai-nya enak, perpaduan teh + telur + tape yang awalnya menurut kami aneh, namun ternyata cocok di lidah. Kami sepakat jika ada kesempatan lagi mengunjungi kota Padang, akan kembali lagi makan di sini.

Sate Campur.

Tiba waktunya membayar pesanan, ternyata harganya tidak terlalu mahal, namun juga tidak semurah sate yang dijual dengan gerobak di pinggir jalan. Tentu hal tersebut bisa dimaklumi mengingat tempat ini berkonsep restoran. Jumlah yang harus saya bayar untuk 13 tusuk sate, 2 porsi lontong, 1 bungkus kerupuk jangek, 2 botol air mineral, dan 1 gelas teh talua tapai, berjumlah Rp. 77.000 sudah termasuk pajak.

Bagaimana, tertarik untuk menikmati kuliner khas Padang, Sumatera Barat ini? Jangan lupa catat nama tempat dan alamatnya di dalam daftar rencana perjalanan kalian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.