Sate Komo yang Menggoda di Warung Rawon Nikmat, Malang

0
604
Menu Andalan Warung Rawon Nikmat.

Kalau sedang di Malang, saya jarang sekali makan di warung selain jajan bakso. Alasannya adalah karena ibu saya sudah memasak makanan untuk saya dan sekeluarga. Tapi, kalau sedang lapar dan kebetulan baru berjalan-jalan, saya pasti langsung menuju Warung Bu Zuhriah yang bernama Warung Rawon Nikmat.

Warung ini letaknya tak jauh dari Alun-Alun Kota Malang. Hanya sekitar 300 m dari alun-alun, warung yang berada di Jl. Kauman tersebut menjadi ikon kuliner Kota Malang. Berdiri sejak tahun 1975, Warung Rawon Nikmat telah banyak didatangi oleh banyak tokoh nasional. Salah satunya mantan Presiden RI ke-4, K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Letak warung ini memang bersebelahan dengan kantor PCNU Kota Malang. Jadi, jika ada acara di kantor tersebut, maka banyak tokoh-tokoh nasional yang makan di sini, menikmati sajian khas dari Bu Zuhriah, sang pemilik warung. Tentu, singgahnya tokoh-tokoh tersebut disebabkan rasa makanan yang disajikan sangat istimewa.

Proses Pembakaran Sate Komo.

Sebenarnya, menu utama dari warung ini adalah nasi rawon. Namun, karena saya memiliki penyakit GERD dan berpantang untuk makan rawon, saya harus puas menyantap sayur sop saja. Meski begitu, saya selalu menyempatkan membeli menu andalan lain dari warung ini, yakni Sate Komo.

Sate Komo sendiri merupakan sate daging sapi yang dibumbui dengan bumbu khusus dan maserasi (pemeraman) sehingga menyuguhkan cita rasa yang khas. Bu Zuhriah menggunakan daging segar sebagai bahan dasar pembuatan sate komo ini. Beliau tidak menggunakan daging beku, lantaran akan mempengaruhi tekstur dan cita rasa sate komo yang akan diolah.

Ada dua varian rasa sate komo yang dijual oleh Bu Zuhriah. Pertama adalah sate komo yang menggunakan bumbu merah dengan rasa yang manis dan sedikit pedas. Varian kedua adalah sate komo dengan bumbu santan kelapa dengan rasa yang cenderung asin dan gurih. Kedua varian tersebut sama-sama dijual dengan harga Rp. 10.000 per tusuknya.

Sate Komo dan Daging Rawon yang Menggoda.

Ketika saya makan di sana, kedua varian sate komo ini benar-benar banyak peminatnya. Baru saja saya ambil masing-masing satu buah, tiba-tiba ada beberapa pembeli yang memborong sate-sate tersebut. Putra-putri Bu Zuhriah yang membantu beliau sering kewalahan dalam melayani pembeli, terutama yang sangat menginginkan sate komo.

Bagi saya, kelebihan dari sate komo ini adalah irisan dagingnya yang sangat besar. Untuk ukuran saya, makan satu tusuk sate itu sudah kenyang. Tekstur daging yang empuk membuat saya ketagihan dan biasanya saya membeli beberapa tusuk lagi untuk dibawa pulang. Bumbu merah ataupun bumbu gurih sangat terasa. Saat salah seorang putra Bu Zuhriah membakar sate komo ini di depan warung, bau harumnya langsung tercium.

Suasana Warung Ibu Zuriah Kecil Namun Banyak Peminatnya.

Dalam satu hari, ada sekitar ratusan pembeli yang menyesaki warung Bu Zuhriah yang cukup kecil. Apalagi, jika jam makan tiba, bisa-bisa saya tidak kebagian tempat makan dan harus makan di luar. Tapi itu tak masalah. Asal saya masih kebagian sate komo, makan di warung ini tetaplah nikmat. Pembeli semakin membeludak ketika Minggu pagi, lantaran ada pengajian di Kantor NU dan kebaktian di sebuah Gereja di dekat warung itu. Para jamaah dari dua kegiatan itu biasanya akan langsung datang ke warung Bu Zuhriah.

Selain menu sate komo, ada juga daging rawon dan beberapa gorengan yang juga enak untuk disantap. Pisang goreng Bu Zuhriah menurut saya juga enak. Saya juga senang dengan nasi soto dan nasi bali telor, jika bosan dengan sayur sop. Harga kedua menu tersebut juga murah, sekitar Rp. 7.000 –  Rp. 8.000 saja per porsinya. Bu Zuhriah juga menjual nasi pecel yang juga enak untuk disantap. Jadi, ada banyak pilihan menu jika mampir ke warung Bu Zuhriah ini. Jika ingin datang ke sini, warung ini buka setiap hari mulai pukul 06:00-15:00.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.