Roti Buaya, Roti Nikmat Khas Betawi Dengan Sejuta Makna

0
1970
(sumber: flickr.com/Syafiq Irsyadi)

Siapa sih yang tidak kenal dengan Roti Buaya yang sering dijumpai di pernikahan adat Betawi. Pada saat acara pernikahan berlangsung, sepasang Roti Buaya besar dipampangkan. Roti Buaya berukuran panjang sekitar satu lengan orang dewasa disandingkan dengan Roti Buaya yang posturnya lebih kecil. Kemudian Roti Buaya dibagi-bagikan kepada tamu atau kerabat seusai acara. Konon Roti Buaya ini melambangkan kesetiaan dalam rumah tangga. Maka jangan keliru dengan makna “Buaya Darat” yaitu lambang tidak setia. Sesungguhnya buaya di adat Betawi memiliki makna atau filosofi yang dalam.

Berbeda dengan zaman dahulu Roti Buaya tidak memiliki rasa, Roti Buaya kini dibuat sedemikian rupa agar nikmat untuk dijadikan kudapan dengan berbagai macam rasa. Mungkin tidak asing dengan Roti Buaya rasa coklat, keju, ataupun berbagai macam selai. Belum lagi teksturnya yang jauh lebih lembut dibandingkan dengan Roti Buaya zaman dahulu yang memang disengaja dibuat keras, bahkan konon katanya, semakin keras tekstur Roti Buaya, semakin bagus kualitas dari Roti Buaya tersebut. Seiring berjalannya waktu, Roti Buaya kini tidak hanya dijadikan sebagai simbolis dalam upacara pernikahan adat Betawi, namun Roti Buaya kini dibuat dalam ukuran kecil layaknya roti biasa sebagai kudapan penunda lapar. Rasa nikmat roti lembut berisi aneka rasa manis membuat Roti Buaya mungil menjadi kudapan favorit yang tidak hanya dinikmati pada saat resepsi pernikahan, namun kini Roti Buaya dapat dinikmati di mana pun. Hanya saja Roti Buaya untuk keperluan pernikahan biasanya tidak bisa dibeli langsung atau harus dipesan terlebih dahulu. Karena biasanya Roti Buaya baru akan dibuat setelah dipesan terlebih dahulu.

(sumber: flickr/family mukti)

Lalu mengapa harus buaya? Buaya telah dianggap sebagai hewan suci oleh masyarakat Betawi. Seekor buaya hanya memiliki satu pasangan selama hidupnya, maka jangan heran jika buaya sejak dulu dijadikan symbol kesetiaan oleh masyarakat Betawi. Kebiasaan pernikahan adat Betawi yang memberi Roti Buaya sebagai simbolis pun tidak hanya sebatas pemberian Roti Buaya dari pengantin pria ke pengantin perempuan, namun Roti Buaya pun dibawa oleh pengantin dan ditaruh di kamar pengantin dan dibiarkan membusuk dan dimakan belatung. Hal tersebut merupakan filosofi dari sebuah pernikahan yang suci akan erat dan hanya maut dan raga yang habis dimakan belatung yang dapat memisahkan. Seiring dengan pergeseran zaman, kebiasaan pernikahan Betawi pun berubah, begitu juga dengan Roti Buaya itu sendiri. Jika dahulu Roti Buaya dibiarkan membusuk di kamar pengantin, kini Roti Buaya dibagikan kepada masyarakat Betawi yang lajang sesaat setelah pesta pernikahan usai. Dengan harapan, masyarakat betawi yang lajang sesegera mungkin menikah atau menemukan pasangan sehidup semati.

Konon, simbol pernikahan Roti Buaya pada adat Betawi berawal dari datangnya bangsa Eropa ke Indonesia. Saat itu bangsa Eropa memiliki kebiasaan untuk memberi bunga sebagai lambang cinta kepada pasangan. Masyarakat Betawi pun akhirnya memiliki cara sendiri untuk mengekspresikan simbol cinta dengan memberi Roti Buaya, yang Buayanya sendiri pun sudah diyakini oleh leluhur masyarakat Betawi sebagai hewan suci. Pernikahan Betawi zaman dahulu memberikan Roti Betawi bertekstur keras dan tidak memiliki rasa, semakin keras Roti Buaya, semakin baik kualitasnya dan semakin tahan lama Roti Buaya tersebut. Karena buaya pun dianggap sebagai hewan suci, maka pada saat itu tidak ada kebiasaan membagi-bagi Roti Buaya, bahkan Roti Buaya pun tidak untuk dimakan karena hal tersebut dianggap keliru jika dilakukan.

 

Penulis: Nadia Khalishah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.