Romantisme Berburu Senja di Taman Pelangi Monjali

0
1911
Bangunan Induk Monjali.
Ah, Yogya. Kenapa kota ini begitu romantis?

Begitu mengesankan dan membuat nyaman hati. Ya, itulah yang bisa saya ungkapkan ketika berlibur ke Yogya. Kota ini tak sekadar memiliki Malioboro yang cantik ataupun pantai-pantai yang elok. Saya seakan terus menemukan sisi lain dari kota ini yang membuat kangen.

Salah satunya Taman Pelangi Monjali. Taman lampion yang berada di kawasan Monumen Yogya Kembali ini adalah salah satu favorit saya ketika berlibur ke Yogya. Tak perlu jauh-jauh untuk sampai ke sini, saya bisa merasakan hangatnya senja Kota Yogyakarta sambil ditemani kopi dan pemandangan menarik hati.

Pada suatu sore, saya memutuskan datang ke sini. Hanya perlu naik Transjogja trayek 2B dari pusat kota, kita bisa mencapai tempat ini. Turun di halte Monjali yang berada di seberang monumen ini, tak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk mencapainya. Dari kejauhan, aneka lampu taman yang sangat indah sudah tampak.

Kalau ingin datang ke sini dengan kendaraan pribadi, arahkan saja kendaraan ke Jl. Ring Road Utara yang memagari Kota Yogya. Taman Monjali ini terletak tak jauh dari simpang empat Jombor yang menghubungkan Kota Yogya dengan Kota Magelang. Sebuah bangunan berbentuk kerucut akan langsung terlihat dari jalan raya.

Aneka Lampion Berbentuk Satwa di Taman Pelangi Monjali.

Saya segera masuk untuk berburu senja. Saat itu, saya harus membayar tiket sebesar Rp. 20.000. Harga tiket ini merupakan harga tiket untuk weekend. Jika hari biasa, harga tiket hanya sebesar Rp. 15.000. Bagi saya, harga tiket di sini cukup murah. Dengan harga tiket tersebut, saya bisa puas berfoto di aneka taman lampion yang mengelilingi bangunan kerucut tadi.

Jika ingin menaiki wahana lain, kita harus membayar tiket lagi sebesar Rp. 10.000. Ada wahana puri hantu, aneka trampolin, junior jet, speedboat, dan yang menarik adalah helicak. Helicak merupakan salah satu transportasi jadul dengan bentuk perpaduan becak dan helikopter. Namun, di sini helicak dimodifikasi dalam berbagai bentuk. Dengan helicak ini, kita bisa berkeliling taman pelangi sambil berfoto ditemani lampion yang sangat indah.

Kalau sedang ingin bermain dengan ikan, kita juga bisa membeli pakan ikan seharga Rp. 5.000. Ikan-ikan ini berada di sebuah kolam besar yang mengelilingi bangunan kerucut tadi. Bangunan kerucut yang dimaksud merupakan Museum Yogya Kembali yang dibuka saat pagi hingga sore hari. Sementara, Taman Pelangi ini buka setelah museum tutup, yakni mulai pukul 16:30 – 23:00. Waktu yang paling pas untuk menunggu matahari terbenam saat taman ini baru buka.

Berkeliling Menggunakan Helicak.

Puas berkeliling taman, tibalah waktu untuk menikmati sang surya turun dari peraduannya. Saya memutuskan untuk duduk di bagian timur bangunan kerucut tadi sambil memakan mie instan dan kopi hangat yang saya beli di pujasera. Perlahan tapi pasti, berkas sinar jingga mulai menyala berpadu dengan warna langit yang gelap. Ditambah gemerlap lampion Taman Pelangi yang beraneka warna, sungguh pengalaman yang menyenangkan.

Tak hanya itu, ketika saya memandang kolam ikan yang memagari bangunan monumen, berkas sinar jingga itu seolah membuat pantulan bangunan tersebut menari-nari. Saya bersyukur bisa berada di taman ini. Sejenak menunaikan ibadah di mushola yang tak jauh dari kolam tadi, saya memanjatkan puji syukur kepada Tuhan atas karunia ini.

Jadi, berlibur ke Yogyakarta tak lengkap rasanya jika tanpa ke taman ini. Tak hanya bisa dinikmati oleh anak muda, namun taman ini juga bisa menjadi ajang berkumpul bersama keluarga. Tak sekadar menikmati senja, sedikit belajar sejarah dari ornamen yang berada di sekitar bangunan monumen bisa jadi ajang untuk mengenang jasa pahlawan.

Sudahkah Taman Pelangi Monjali masuk dalam daftar liburanmu?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.