Road Trip di Malang, dari Balekambang hingga Paralayang

0
1132
Pura di Pantai Balekambang.

Perjalanan road trip kala itu berawal dari keinginanku dan beberapa temanku mengeksplor beberapa pantai di Malang. Karena pantai-pantai di Malang cukup jauh untuk dijangkau menggunakan kendaraan umum, maka kami memutuskan untuk menyewa mobil di sana. Berawal dari stasiun Gubeng Baru, kami menaiki kereta Mutiara Selatan menuju stasiun Malang. Saat itu kereta berangkat pukul 07.20 pagi. Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya sampailah kami di stasiun Malang.

Di stasiun, kami menghubungi pihak rental kendaraan yang sudah kami booking. Namun, ternyata sopir yang mengantarkan mobil terlambat sekitar 2 jam. Sehingga rencana kami pun juga mundur sekitar 2 jam. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya sopir sampai stasiun sekitar pukul 11.30. Kemudian, mobil kami ambil alih dan hal pertama yang kami lakukan adalah mencari makan karena perut kami sudah tidak terkondisikan.

Kami mencoba salah satu soto yang cukup ramai pengunjung di Malang saat itu. Tak berapa lama setelah makan, kami langsung berunding mengenai perubahan itinerary karena hari sudah siang menjelang sore. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari pantai dengan akses yang mudah dan parkiran yang tidak terlalu jauh dengan pantai. Kami pun akhirnya menemukan sebuah pantai dengan akses pantai yang tidak jauh dari parkiran, yaitu Pantai Balekambang dari sebuah blog pribadi. Kemudian, kami langsung menuju ke sana dari Malang kota sekitar pukul 13.00 dengan bantuan google maps tentunya. Dengan lalu lintas yang tidak macet dan kecepatan yang biasa saja, kami tiba di pantai Balekambang sekitar pukul 15.00 sore. Ternyata keterlambatan mobil memang suatu takdir yang tepat, karena kami tiba di pantai dalam situasi yang tidak terlalu terik. Memang setiap peristiwa pasti ada hikmahnya.

Garis pantai yang panjang.

Hal yang menarik dari Pantai Balekambang adalah garis pantai yang panjang dan terdapat pura di ujung barat pantai dan agak menjorok ke laut. Seperti di Tanah Lot Bali saja rasanya. Pengunjung bisa mengunjungi pura melewati jembatan yang telah disediakan. Selain itu, terdapat pula wahana flying fox yang terbentang dari pura hingga daratan pantai. Di dekat pura, terdapat aliran sungai yang nantinya akan bermuara di laut. Di bagian sini, terdapat banyak wisatawan yang bermain air. Pasir di Pantai Balekambang termasuk pantai berpasir putih. Tak hanya itu, pantai ini masih terawat, bersih dan asri.

Kegiatan yang kami lakukan di sana adalah bermain air, berfoto, dan melihat orang-orang. Sambil menunggu matahari berada di ufuk barat. Berlama-lama di pantai ini tidak membosankan. Ombak bergulung saling menyusul dan teriakan ibu-ibu mengingatkan anaknya untuk berhati-hati merupakan paduan yang pas di sore itu. Sayangnya, karena seorang temanku hendak menghubungi dosen terkait tugas kuliah, dan kebetulan di pantai itu susah sinyal dari jaringan yang kami pakai, akhirnya sebelum menyaksikan matahari terbenam, kami pun meninggalkan Pantai Balekambang menuju kota Malang lagi.

Di tengah perjalanan, kami bernyanyi dan bercerita banyak hal. Seorang temanku tampak sibuk mencari sinyal. Dan beberapa saat kemudian dia pun meminta izin untuk istirahat sebentar untuk mengerjakan tugas dadakan sebelum melanjutkan perjalanan. Karena membutuhkan sinyal juga untuk mengerjakan tugas, akhirnya kami memutuskan untuk mencari Indomaret point di dekat Universitas Brawijaya. Sampai di sana, sekitar pukul 19.00 malam. Di Indomaret point, kami membeli snack dan sekalian makan malam sambil menunggu teman kami mengerjakan tugas. Selain itu, kami juga mengisi daya baterai handphone dan kamera di sana.

Kerlap kerlip lampu kota dari Paralayang.

Sekitar pukul 22.00 malam, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Paralayang Gunung Banyak untuk memandang lampu-lampu di kota Malang. Kami memutuskan pergi di malam hari karena menghindari kemacetan. Mengingat saat itu juga sedang musim liburan karena tanggal merah. Perjalanan kami ke paralayang pun lancar dan tidak macet. Sesaat sebelum sampai parkiran, karena udara di luar mobil yang dingin, kaca mobil yang kami tumpangi berembun. Kami pun langsung membuka kaca mobil sedikit untuk menyesuaikan udara di luar mobil. Pelajaran fisika pun ada hikmahnya. Hahaha.

Pemandangan pada pukul 05.00 pagi.

Sesampainya di parkiran, kami pun keluar mobil dan terkejut dengan udara malam itu. Angin yang berhembus kencang juga menambah dinginnya malam itu. Tak berapa lama setelah itu, setelah berfoto sebentar dan memandang indahnya lampu kota, kami memutuskan untuk membeli bakso di sana. Bakso yang tadinya panas pun dengan cepat mendingin karena udara yang begitu dingin. Setelah itu, kami duduk berdempetan sambil menikmati dingin dan malam di paralayang sebelum kami kembali ke Malang kota. Sekitar pukul 05.00 pagi, kami kembali ke Malang kota. Mampir di salah satu masjid untuk sholat kemudian kembali ke stasiun. Setelah bertemu dengan sopir yang kemarin mengantar mobil, kami pun kembali ke Surabaya dengan kereta sekitar pukul 10.00.

Perjalanan semacam ini memang tidak selamanya berjalan sesuai rencana yang sudah disusun, namun perjalanan seperti inilah justru menjadi kenangan yang tak terlupakan. Kemampuan problem solving pun dipertaruhkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.