Reruntuhan Gereja Santo Paulus, Jejak Portugis di Melaka

0
283
Patung pendeta Francis Xavier dengan lengan kanan yang terpotong.

Melaka merupakan salah satu wilayah yang pernah dijajah oleh bangsa Portugis. Portugis mulai menduduki Melaka dari tahun 1511 hingga 1641. Hal tersebut membuat beberapa bangunan di kota kecil ini memiliki gaya arsitektur Eropa. Salah satu bangunan peninggalan Portugis adalah Gereja Santo Paulus yang kini tinggal reruntuhannya. Gereja ini merupakan gereja tertua di Malaysia dan Asia Tenggara. Tertarik dengan kisahnya, saya pun menjadikan gereja tua ini destinasi wisata saya waktu berlibur ke Melaka.

Gereja ini dibangun oleh seorang bangsawan portugis, Duerte Coelho sebagai rasa syukur setelah pelariannya dari badai di Laut Cina Selatan. Bangunan aslinya merupakan kapel sederhana yang didedikasikan untuk Bunda Maria. Kapel ini kemudian diperbesar pada tahun 1556 dengan menambahkan lantai dua. Pada tahun 1950 ditambahkan menara lonceng di depannya. Pada tahun 1941, saat Belanda menaklukkan Melaka, gereja ini dikonsekrasi ulang untuk penggunaan gereja reformasi Belanda sebagai gereja Santo Paulus.

Batu nisan bangsawan Portugis dan Belanda.

Lokasinya tak jauh dari pusat kota, tepatnya berada di Jalan kota, Bandar Hilir, Melaka. Dari Jongker street kalian bisa berjalan lurus melewati jembatan menuju Red Square. Lalu kalian cukup mengikuti jalur merah yang melewati beberapa museum dan kalian akan menemukan tangga ke atas menuju bukit Santo Paulus. Letak reruntuhan gereja berada tepat di atas bukit Santo Paulus. Lumayan melelahkan juga menaiki anak tangga ditambah lagi cuaca Melaka yang panas. Untungnya saat hampir sampai ke bangunan bersejarah ini terdapat beberapa pedagang minuman dingin yang mampu menghilangkan dahaga.

Saat sampai kami disambut dengan patung pendeta Francis Xavier. Pantung ini didirikan pada tahun 1952 dalam rangka memeringati 400 tahun persinggahannya di Melaka. Pendeta ini dianggap sebagai sosok suci atau Santo dalam istilah agama Katolik. Meski tak melakukan penyebaran agama Kristiani secara langsung di Melaka, namun beliau telah melakukan usaha untuk mencapai kejayaan dalam slogan gospel yang diusung penjajah eropa selain gold dan glory saat menguasai Asia.

Patung pendeta Francis Xavier dengan lengan kanan yang terpotong.

Ada yang sedikit janggal dari patung ini, yaitu lengan kanannya yang terpotong. Ternyata ada cerita dibalik itu semua. Pada tahun 1914, pusat ajaran Katolik di Roma memutuskan untuk memotong lengan kanan jenazah pendeta Xevier untuk mengenang sosoknya yang berjuang menyebarkan agama hingga ke Asia. Lengan kanan yang biasa digunakan untuk membaptis jemaatnya tersebut hingga kini tersimpan dalam Gereja Jesuit, Roma Itali. Sedangkan lengan kanan patung di Melaka justru tak sengaja terpotong sehari setelah patung ini didirikan. Tangan kanannya patah setelah sebuah dahan pohon casuarina jatuh menimpa patung tersebut  dan hingga kini potongan tanggan tersebut tak ditemukan keberadaannya. Pendeta Xavier juga pernah dimakamkan di kapel ini sebelum jenazahnya dibawa ke Goa.

Kini gereja ini tak lagi digunakan sebagai tempat ibadah karena hanya tinggal puing-puingnya saja. Ketika memasuki kapel ini saya menemukan beberapa batu nisan yang disandarkan di pinggir tembok. Batu nisan tersebut bertuliskan nama-nama bangsawan eropa yang pernah disemayamkan di sana. Meski tinggal puing-puing namun bangunan tau ini masih menampakkan keindahannya. Bangunannya tinggi tanpa atap, dinding dengan cat putih yang telah mengelupas di sana-sini sehingga menampilkan batu bata merah membuat gereja yang dibangun tahun 1521 ini nampak menawan. Bagian dalam gereja cukup luas, halaman yang ditumbuhi rumput hijau pun tak kalah luas.

Musisi jalanan yang berada di belakang gereja.

Karena kini dialih fungsikan menjadi tempat wisata, jadi jangan heran bila kalian mendapati suasana yang ramai. Banyak wisatawan yang datang, baik sendiri atau bersama guide ke sini. Di pinggiran geraja juga berdiri beberapa booth milik warga sekitar yang menjual minuman dan makanan ringan. Tak hanya itu mereka juga menjual pernak-pernik kerajinan tangan yang cocok dijadikan oleh-oleh. Beberapa pelukis jalanan juga terlihat di beberapa sudut jalan dekat gereja. Di belakang gereja terdapt hiburan berupa lantunan lagu-lagu dari musisi jalanan.

Mengunjungi gereja ini berasa kembali kemasa lampau. Mengenali sejarah sebuah gereja tua yang pernah digunakan untuk beribadah ratusan jamaah. Sebuah gereja megah yang meninggalkan jejak kejayaan Portugis di Melaka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.