Random Escape ke Guci Tegal

0
875
Taman Wisata Air Panas Guci.

Hidup di ibukota tidak selamanya menyenangkan. Rutinitas pekerjaan yang selalu menanti setiap hari ditambah kemacetan Jakarta yang tiada henti kadang membuat saya pusing tujuh keliling. Ketika Jumat datang, hiruk pikuk ibu kota membuat saya memutuskan untuk melipir sebentar selama akhir pekan. “Short escape”, kata mereka. Kabur selama 2 hari 1 malam rasanya sudah cukup untuk menghilangkan penat. Lebih baik daripada diam di rumah saja kan?

Keinginan liburan sudah menggebu-gebu, namun destinasi wisatanya malah belum saya tentukan. Liburan singkat gini, enaknya ke mana ya?, pikir saya. Waktu itu saya cuma terpikir ingin ke wilayah yang udaranya sejuk, bisa rileks, tidak terlalu jauh, dan kalau bisa sedikit menantang. Hahaha, lucu ya? Entah mengapa saat itu saya terpikir untuk mengunjungi Wisata Air Panas Guci di Kabupaten Tegal!

Yup, keputusan saya untuk berlibur ke Tegal benar-benar spontan tanpa itinerary sama sekali. Bermodal handphone di tangan, saya segera mencari tiket kereta melalui sebuah website penyedia tiket. Gak ada angin gak ada hujan, jadilah saya random escape ke Guci Tegal.

Naik Mobil Bak!

Naik mobil bak terbuka lebih menantang!

Angin hangat menyambut kedatangan saya di Stasiun Tegal setelah saya menempuh perjalanan selama 4 jam. Maklum, stasiun Tegal terletak tidak jauh dari bibir pantai Laut Jawa. Keluar dari stasiun, saya segera mencari angkot untuk membawa saya menuju Pasar Tuwel di Kecamatan Bojong. Dari Pasar Tuwel, sebenarnya saya bisa kembali menggunakan angkot untuk menuju Wisata Air Panas Guci. Namun agar perjalanan ini terasa sedikit lebih menantang, saya memutuskan untuk menggunakan kendaraan yang tidak biasa: mobil bak terbuka!

Ya, masyarakat yang tinggal di wilayah pedesaan kaki Gunung Slamet sebenarnya sudah terbiasa menggunakan mobil bak terbuka sebagai kendaraan umum. Jadilah saya menaiki mobil bak bersama ibu-ibu yang membawa sayur mayur dari pasar. Tidak ada alas bokong apalagi kursi. Namun sebagai gantinya, semilir angin sejuk dan pemandangan hijaunya kebun sayur akan menemanimu sepanjang perjalanan. Lebih worthed dibanding naik angkot kan?

Enaknya berendam di kolam air panas!

Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk sampai di area wisata Guci. Di sini, udara yang cukup dingin sangat terasa di kulit. Maklum, wisata air panas yang berlokasi di Desa Guci Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal ini terletak di kaki Gunung Slamet dengan ketinggian 1.050 Mdpl. Suasananya cukup ramai, banyak terlihat toko pedagang buah, sayuran, maupun oleh-oleh yang berjejer rapi di sisi kanan-kiri jalan.

Taman Wisata Air Panas Guci Tegal tidak hanya memiliki pemandian air panas, namun juga berbagai fasilitas wisata lainnya seperti wisata hutan, lapangan tenis, lapangan sepak bola, camping ground, hingga hotel dan villa. Khusus untuk pemandian air panas, wisatawan dapat memilih dua jenis tempat pemandian: terbuka dan tertutup. Untuk menikmati pemandian terbuka wisatawan tidak dikenakan biaya retribusi alias gratis. Namun saya lebih memilih untuk memasuki pemandian yang tertutup. Harga tiket masuknya pun cukup murah, hanya 7.000 rupiah.

Maaf ya kelinci!

Kolam pemandian di Wisata Air Panas Guci Tegal mirip seperti kolam renang pada umumnya. Terdapat beberapa kolam dengan ukuran yang bervariasi. Terdapat pula fasilitas lain seperti kamar bilas, kamar ganti, toilet, hingga kantin. Namun yang membedakan, tentu saja suhu airnya yang hangat yang mengalir langsung dari mata air Gunung Slamet. Airnya pun jernih dan tidak berbau belerang sama sekali. Berendam di kolam Guci seketika membuat badan dan pikiran saya menjadi rileks dan nyaman. Jika pengunjung merasa air di kolam utama kurang panas, ada kolam yang lebih kecil namun memiliki air yang suhunya lebih panas lho! Saking panasnya, biasanya kolam ini digunakan wisatawan untuk sekedar merendam kaki.

Puas berendam air panas, perut saya pun keroncongan. Hmm, saatnya makan siang! Saya ingin mencicipi kuliner setempat sebelum kembali ke Kota Tegal. Perhatian saya tertuju pada sebuah warung makan yang menyediakan sate kelinci. Sebagai seseorang yang menyukai kelinci sebagai hewan peliharaan sebenarnya saya cukup ogah untuk menikmati dagingnya. Kan kasihan, pikir saya. Namun rasa penasaran, haus akan “tantangan”, sekaligus perut yang kelaparan menyapu bersih perasaaan kasihan. Dengan ditemani sepiring nasi dan jeruk hangat, seporsi sate kelinci pun dihidangkan. Ternyata…enak juga!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.