Puro Pakualaman: Istana yang Terlupakan di Yogyakarta

0
82
Pendapa Puro Pakualaman.

Sebagai Kota Budaya, tentu saja Yogyakarta masih mempertahankan tradisi budaya yang mudah ditemukan di sana. Terdapat juga berbagai wisata budaya dan sejarah yang beragam, namun beberapa di antaranya masih belum terekspos. Salah satu wisata sejarah dan budaya yang belum terkespos itu adalah Puro Pakualaman.

Selama ini banyak wisatawan lokal maupun mancanegara hanya mengetahui bahwa terdapat satu istana di Yogyakarta, yaitu Keraton Yogyakarta. Kebanyakan tidak menyadari bahwa terdapat istana atau kadipaten lain di kota ini. Meski Puro Pakualaman bukanlah sebuah kerajaan yang berkedudukan setara dengan Keraton Yogyakarta, bukan berarti tempat tersebut tak layak untuk dikunjungi.

Mengapa Puro Pakualaman layak untuk dikunjungi? Jawabannya sederhana, karena tempat tersebut adalah kompleks bangunan bersejarah yang menggambarkan Yogyakarta di masa lalu. Di sisi lain, kurangnya informasi yang mewartakan keberadaan bangunan bersejarah ini menjadikannya sebagai salah satu wisata anti-mainstream di Yogyakarta.

Suasana Pendopo Pakualaman.

Untuk menikmati kemegahan Puro Pakualaman dan melihat berbagai koleksi yang tersaji di museumnya. Pengunjung pun tidak akan dikenakan biaya masuk untuk menikmati semua itu. Namun, guna membantu biaya perawatan koleksi, pengunjung diharapkan mengisi kotak yang terdapat di sebelah pintu masuk museum seikhlasnya.

Jika Keraton Yogyakarta dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwana, maka Puro Pakualaman dipimpin oleh GPA (Gusti Pangeran Adipati) Paku Alam. Berbeda dengan Keraton Yogyakarta yang menghadap kearah Gunung Merapi atau arah utara, istana kecil ini menghadap ke arah selatan. Hal ini menjadi simbol penghormatan terhadap Keraton Yogyakarta yang lebih dahulu berdiri.

Perbedaan signifikan lain antara dua kerajaan ini  adalah Puro Pakualaman tidak memiliki singgasana raja. Meski berbeda dengan Keraton Yogyakarta, istana kecil ini memiliki beberapa kesamaaan. Antara lain, terdapat masjid, alun-alun, dan pasar. Khusus untuk alun-alunnya tidak terdapat beringin kurung (beringin yang diberi pagar) seperti yang ada pada kraton Yogyakarta. Kalau beringin biasa sih tetap ada.

Jika dilihat dari luar pintu gerbang, Puro Pakualaman nampak biasa-biasa saja. Namun, kesan pertama ketika saya memasuki kompleksnya berubah seketika dan langsung membuat saya terlena sesaat. Bagaimana tidak? Ketika saya memasuki kawasan istana, terlihat kemegahan dan keindahan sebuah taman dengan air mancur dan meriam yang menghadap ke arah pintu gerbang.

Pintu Gerbang Puro Pakualaman.

Kebetulan pada saat saya berkunjung, cuaca sedang bersahabat. Dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan, saya berkeliling di kompleks Puro Pakualaman. Di sebelah timur pintu gerbang terdapat Museum Pakualaman. Di dalam museum terdapat banyak koleksi berupa, koleksi senjata, kereta kuda, foto-foto tentang Puro Pakualaman, silsilah Adipati Paku Alam, dan dokumen perjanjian.

Jika kalian memasuki museumnya, kalian bisa belajar banyak hal lho! Selain belajar di Museum Pakualaman, kalian juga bisa berjalan-jalan menikmati keindahan arsitektur pendopo. Di kompleks Pakualaman juga terdapat bangunan-bangunan unik lain. Salah satunya adalah Gedung Maerakaca. Sesuai namanya, bangunan ini memiliki ornamen dari kaca warna-warni yang menghiasi setiap pilar. Di bagian depan Gedung Maerakaca terdapat taman yang biasa digunakan keluarga Puro Pakualaman untuk menyeduh teh atau sekedar bersantai.

Akses menuju Puro Pakualaman terbilang mudah karena berada di jalan utama, tepatnya di Jalan Sultan Agung, Kelurahan Purwokinanti, Kecamatan Pakualaman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Destinasi wisata lainnya yang terletak dekat dengan kompleks Pakualaman adalah Museum Biologi UGM dan Museum Sasmitaloka.

Oh ya, di setiap tempat wisata pastilah ada larangan yang harus dipatuhi oleh pengunjung. Di Puro Pakualaman sendiri larangan yang harus dipatuhi adalah tidak berkata kotor, tidak membuang sampah sembarangan, dan tidak boleh menginjak rumput taman. Sebagai wisatawan yang baik, tidak ada salahnya untuk mematuhi peraturan yang telah ada. Bagaimana? kalian tertarik untuk mengunjungi  istana kecil ini? Kalau begitu atur jadwal dan jangan lupa untuk memasukkannya dalam itinerary kalian!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.