Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, Pura Hindu Terbesar Se-Asia

0
375
Gapura di area dalam pura dengan latar pemandangan Gunung Salak.

Pura Jagatkarta terletak di kaki Gunung Salak, Bogor. Ini adalah pura Hindu terbesar di Asia Tenggara setelah Pura Besakih di Bali. Ada legenda yang menyebutkan bahwa titik dimana pura ini dibangun adalah tempat di mana Prabu Siliwangi mencapai “moksa” bersama para prajuritnya. Di bagian depan pura dibangun dua patung macan berwarna putih dan hitam, sama dengan lambang Prabu Siliwangi. Demikian pura ini didirikan sebagai bentuk penghormatan terhadap Kerajaan Padjajaran, kerajaan Hindu terakhir di tanah Parahyangan.

Akses jalan menuju Pura Jagatkarta cukup mudah dengan petunjuk arah juga jelas. Sampai di lokasi, ada area parkir yang cukup lapang. Mungkin karena hari itu bukan hari besar keagamaan dan masih pagi sehingga tidak banyak pengunjung. Ada satu pura yang bersebelahan dengan Pura Parahyangan. Jadi, di satu area, Anda bisa mengunjungi dua pura sekaligus.

Masih di pelataran parkir, ada beberapa warung berjajar menjual aneka makanan, dupa, dan kembang untuk dipersembahkan. Satu bungkus kembang dan dupa harganya Rp 10.000. Di tempat ini juga tersedia warung makan yang menyediakan menu gado-gado, rujak, mie instant, dan kopi.

Di depan salah satu patung dewa. Jangan lupa bersikap santun.

Memasuki area pura, dua patung macan akan menyambut Anda. Ada tulisan larangan untuk duduk dan memanjat patung tersebut. Tulisannya sungguh sangat besar sehingga semua pengunjung dapat membaca pantangan tersebut dengan jelas. Setelah itu, ada undakan tangga yang akan mengantarkan Anda ke area pura. Ada petugas yang mengarahkan untuk melepas alas kaki, memberikan kain kuning atau putih (bisa pilih salah satu) untuk kita lilitkan di pinggang. Bagi wanita, jika sedang datang bulan, tidak diperkenankan untuk naik.

Bagi pengunjung umum, jika tidak ada kepentingan sembahyang di hadapan para dewa juga dibatasi tidak boleh sampai atas. Berhubung ini adalah tempat ibadah, sebaiknya Anda datang dengan pakaian yang tertutup dan berlaku sopan. Informasi dari petugas, dulu tempat ini bebas saja menerima pengunjung. Seiring berjalannya waktu, umat terganggu karena suasana sembahyang mereka menjadi kurang kusyuk akibat perilaku pengunjung yang kurang sopan dan berisik. Belum lagi ada yang membuang sampah sembarangan dan sibuk berswafoto. Jadilah yang diperkenankan naik adalah mereka yang memang berniat sembahyang. Kalau saya? Hanya ikut menemani rekan saya. Sebisa mungkin saya tidak berbuat gaduh.

Menuruni puluhan anak tangga setelah selesai di area sembahyang.

Sebelum kembali mendaki tangga ke area sembahyang, petugas memerciki kami dengan air suci. Perlahan kami sampai ke puncak. Melewati gapura berukir khas Hindu, hamparan rumput hijau terbentang luas. Ada beberapa spot patung dewa dan kami pun melakukan perhentian sesuai petunjuk dari petugas. Dupa dan persembahan yang dibeli sebelum memasuki area sembahyang ini dipersembahkan kepada satu per satu dewa. Jika Anda membeli gado-gado di area parkir tadi, Anda juga bisa mempersembahkannya di sini. Jangan lupa untuk dibawa turun lagi dan Anda bisa memakannya. Suasana di area ini sungguh tenang dan khidmat. Gunung Salak sebagai latar belakang pemandangan pura menambah kesan asri. Sungguh tempat yang tepat untuk berdoa dan meditasi. Untaian doa yang saya dengar dari rekan saya sungguh indah: “..may agnes be happy, no harm come to her, may enemies of agnes be happy, no harm come to them”.

Usai berdoa dan meditasi, kami sempatkan mengambil beberapa foto di sana sambil menuju pintu keluar. Gapura tempat masuk dan tempat keluar berbeda meski bersebelahan. Sebenarnya ada tiga pintu gapura, tapi satu yang di tengah hanya dibuka pada hari besar saja. Kami kembali menuruni puluhan anak tangga menuju tempat kembali. Saat itu hampir tengah hari dan ada beberapa pengunjung lain yang datang. Setelah mengembalikan kain lilitan, kami pun beranjak pergi. Oh ya, tidak ada tiket masuk untuk memasuki tempat ini, tapi disediakan kotak donasi bagi yang ingin menyisihkan sebagian hartanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.