Pulau Sebira, Sang Penjaga Utara di Kepulauan Seribu

2
565
Dermaga Pulau Sebira tempat kapal- kapal nelayan bersandar.

Berbicara tentang pulau, tidak dipungkiri lagi bahwa Indonesia memiliki beribu-ribu pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Mulai dari pulau-pulau besar seperti Kalimantan, Jawa, Sumatera, Papua, dan Sulawesi, hingga pulau-pulau kecil seperti Pulau Sebira ini. Pulau Sebira terletak di wilayah administratif Kepulauan Seribu yang memiliki karakteristik maupun keunikan yang sangat menarik. Pada kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya mengunjungi pulau yang sangat menarik ini.

Saya merupakan mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi di Jawa Barat yang bergelut di bidang kelautan. Di himpunan saya, terdapat program kerja yang bertujuan untuk mengeksplorasi sumber daya laut di pulau-pulau yang masih minim dieksplorasi maupun dikunjungi oleh wisatawan. Nama program kerja ini adalah “Ekspedisi Himiteka VI”. Ekspedisi ini baru saja dilaksanakan pada tanggal 6-11 Agustus 2019 yang bertempat di Pulau Sebira ini.

Pada tangggal 6 Agustus 2019, kami berangkat menuju Pulau Sebira melalui Pelabuhan Muara Kamal pukul 09.00 menggunakan kapal nelayan, karena kami berjumlah 40 orang yang tidak bisa menggunakan kapal cepat dari pemerintah Provinsi Jakarta, untuk menuju Pulau Sebira biasanya dapat menggunakan kapal cepat yang telah disediakan oleh pemerintah, tetapi karena kapasitas kapal cepat tersebut hanya berkisar sekitar 40 orang dan lebih mengutamakan penumpang yang berasal dari pulau tersebut, maka kami menggunakan kapal nelayan untuk menuju ke sana.

Tugu selamat datang Pulau Sebira.

Menempuh perjalanan menggunakan kapal nelayan membawa pengalaman tersendiri. Ketika menggunakan kapal cepat, estimasi waktu yang dilalui dari Jakarta (Pelabuhan Muara Angke) ke Pulau Sebira hanya sekitar 3 jam, berbeda dengan kapal nelayan yang harus dilalui dengan perjuangan, yaitu sekitar 8 jam perjalanan. Hal ini sangat mengesankan, kami yang ceria pada awal perjalanan, perlahan mulai terdiam dan kelelahan. Mungkin sudah berapa kali saya bangun-tidur, tetapi yang terlihat hanya lautan.

Pada sekitar pukul 16.00, kami diberitahu oleh ABK kapal bahwa Pulau Sebira sudah mulai dekat, karena di sekitar kami banyak terdapat tambang minyak di laut. Kami yang sudah lesu karena perjalanan berjam-jam di laut mulai kembali bersemangat. Pada pukul 17.00, dari jauh kami sudah melihat Pulau Sebira, memasuki pelabuhan, kami banyak melihat kapal-kapal nelayan bersandar di pinggir pelabuhan. Kami disambut oleh tugu besar yang bertuliskan Pulau Sebira, Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta.

Mercusuar “Sang Penjaga Utara”.

Pulau Sebira terletak di Kelurahan Pulau Harapan, Kecamatan Pulau Seribu Utara, DKI Jakarta. Pulau ini memiliki penduduk sekitar 500 jiwa yang 90% berasal dari Pulau Celebes atau Sulawesi. Pulau ini memiliki ekosistem yang masih sangat terjaga kelestariannya, berbeda dengan pulau-pulau di Kepulauan Seribu yang semakin berkurang dalam hal kelestariannya. Hal ini dikarenakan letak Pulau Sebira yang jauh dari Ibukota DKI Jakarta, sehingga menyebabkan wisatawan jarang berkunjung ke sana.

Jauh dari ibukota bukan berarti Pulau Sebira ini tertinggal dalam hal infrastruktur, di pulau ini ternyata memiliki infrastruktur yang tidak kalah seperti pulau-pulau yang lain. Pulau Sebira memiliki SD, SMSP, PAUD, RSPATRA, masjid, dan yang baru dibuat, yaitu rumah singgah untuk wisatawan. Masyarakat yang ramah juga membuat suasana lebih nyaman. Dulu, pulau ini tidak memiliki penduduk yang menempati. Lalu kemudian, pada tahun 1975, penduduk dari Pulau Genteng Besar diharuskan pindah dari pulau tersebut. Lalu penduduk tersebar ke pulau-pulau sekitar, salah satu pulau yang ditempati yaitu Pulau Sebira dan Pulau Kelapa Dua. Masyarakat memilih Pulau Sebira dikarenakan dulu banyak sumber daya ikan di wilayah tersebut.

Ekosistem terumbu karang yang masih asri dapat menjadi spot snorkling dan diving.

Banyak hal yang membuat Pulau Sebira ini unik, selain memiliki ekosistem laut yang masih sangat lestari. Pulau Sebira juga memiliki jejak sejarah dari kolonial Belanda. Pada pulau ini, terdapat menara penjaga atau mercusuar yang dibangun oleh kolonial Belanda. Karena pulau ini terletak di bagian utara Pulau Seribu dan memiliki mercusuar atau menara penjaga, maka pulau ini disebut juga sebagai “Sang Penjaga Utara”. Hal lain yang menarik dari pulau ini adalah pulau ini ternyata lebih dekat ke Provinsi Lampung daripada Provinsi DKI Jakarta. Jika kita ke Jakarta menggunakan kapal nelayan memakan waktu 8 jam maka jika ke Lampung hanya memakan waktu 4 jam.

Pulau Sebira juga terkenal dengan wisata memancing, karena di Pulau ini memiliki ekosistem yang sangat terjaga. Jika ingin ke pulau ini kita dapat menggunakan kapal cepat dari Pelabuhan Muara Angke Jakarta. Biaya untuk ke Pulau Sebira adalah Rp70.000, Rp2.000 untuk peron, dan Rp2.000 untuk asuaransi. Jadi, total biayanya adalah Rp74.000. Rute dari kapal ini adalah Pelabuhan Muara Angke-Pulau Harapan-Pulau Sebira. Jika ingin ke pulau ini jangan lupa selalu jaga kebersihan, ya!

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.