Pesona Sumenep

0
124
Pesona Sumenep.

Halo teman, perjalanan ini dimulai dari merayu satu cewek yang awalnya sudah pasti ikut, mendadak tidak jadi ikut karena demam, akhirnya dengan berbagai upaya dan rayuan, genaplah kami ber-12 berangkat dengan sepeda motor dari Perumahan Telang Asri menuju Sumenep. Selain itu ada dua teman kami yang akan bergabung namun sudah menunggu di Sumenep. Perjalanan berlangsung selama empat jam dengan waktu istirahat satu jam untuk sholat Jumat.

Walaupun berangkat secara rombongan, kami tidak menggunakan jasa travel dalam kepengurusan pemberangkatan maupun persewaan kapal. Kami memilih mandiri alias budget traveling dan menyusun itinerary terbaru perjalanan karena kebetulan ada kenalan teman yang tinggal di sana dan kerabatnya adalah pemilik perahu penyeberangan dari Sumenep ke Pulau Gili Labak.

Setibanya di Sumenep pukul 15.00, kami dijemput oleh teman yang tinggal di sana dan jalan-jalan menyusuri Sumenep yang sangat memesona. Dua destinasi yang telah kami kunjungi sebagai berikut.

Foto bersama didepan gerbang Masjid Agung Sumenep
Singgah di Masjid Agung Sumenep

Masjid ini merupakan icon Sumenep yang sangat fenomenal dan viral. Hal ini terlihat pada arsitektur bangunan yang berwarna kuning yang unik dan menarik. Masjid ini memiliki sejarah di masa pemerintahan Panembahan Somala. Bangunan ini didesain oleh seorang arsitektur bernama Lauw Piango.

Alun-alun Sumenep

Tidak jauh dari Masjid Agung Kabupaten Sumenep, terdapat alun-alun yang kebetulan saat itu tidak terlalu banyak pengunjung karena hari Jumat. Sehingga sambil menunggu penjemputan dari teman kami yang tinggal di Sumenep, nongkrong adalah pilihan tepat untuk melepas kelelahan selama perjalanan. Hingga teman tiba untuk menjemput, selanjutnya kami istirahat, dan menginap di rumah teman kami untuk perjalanan besok pagi menuju Pulau Gili Labak.

Menuju Pulau Gili Labak

Perjalanan dari penginapan dimulai pukul 05:00 menuju dermaga kapal untuk persiapan keberangkatan, kapal yang kami gunakan bukan kapal besar melainkan kapal nelayan dengan penggerak mesin diesel. Harga sewa 1 kapal untuk pergi dan pulang seharga Rp 500.000 yang berkapasitas sebanyak 15 orang. Ini merupakan pengalaman pertama saya dengan menggunakan kapal kecil. Tentu saja keseimbangannya terguncang ketika dihempas ombak. Ibarat senam jantung selama tiga jam perjalanan dari dermaga hingga Pulau Gili Labak. Bagaimana tidak, setiap hempasannya, kapal ini selalu bergoyang ke kiri dan ke kanan.

Satu jam perjalanan, kami sangat panik ketika diguyur hujan membuat beberapa kali teriakan yang sangat kencang, apalagi ketika air masuk ke lubang kapal, kepanikan terbendung dengan suara keras dengan untaian ucapan doa kelesamatan. “Every could has a silver lightning” begitulah pepatah yang tepat setelah hati merasa lega akibat hujan sudah reda dan terlihat semakin dekat dengan Pulau Gili Labak.

Kayu yang terdampar di bibir pantai Gili Labak.

Setibanya di Pulau Gili Labak, betapa terkejutnya saya melihat beningnya pantai yang biasanya hanya bisa melihat dari layar televisi saja, kini saya bisa bercengkerama secara langsung. Sesuai dengan rencana awal, kami ingin sekali snorkling untuk melihat biota dasar pantai Gili Labak, sehingga dengan penuh semangat kami menyewa peralatan snorkling dengan harga Rp 35.000 per unit (snorkling + jaket pelampung). Untuk menghemat pengeluaran, kami memutuskan untuk menyewa 5 unit saja digunakan secara bergantian.

Kesan yang pertama mendapatkan pengalaman ini sungguh luar biasa, banyak sekali terumbuh karang yang masih tergar dan kokoh serta ikan-ikan yang biasanya saya hanya lihat di layar televisi, kini saya berinteraksi di dasar pantai yang terlestarikan. Setelah 30 menit berlalu di bibir pantai, saya mencoba untuk mengelilingi Pulau Gili Labak mengingat snorkling yang disewa digunakan untuk bergantian.

Nilai-nilai adat setempat yang harus kita taati yaitu dilarang untuk memotong/melewati tengah pulau jika tidak ingin hilang. Menurut cerita warga setempat ada dua orang pengunjung yang hendak menjelajahi keindahan pulau ini, namun karena penasaran dengan adanya aturan tersebut, mereka menghiraukannya, sehingga terjadilah sesuatu yang tidak diinginkan. Dari cerita tersebut kita sebagai pendatang harus menaati segala hukum bentuk adat setempat.

Pesona Sumenep.

Kemudian saya bersama lima rekan yang sudah snorkling mengelilingi pulau dengan semangat menahan panasnya terik matahari yang sangat menyengat siang itu. Tentu hal tersebut tak menyurutkan semangat berpetualang kami terutama dalam mencari angle terbaik dengan berpose manis didepan kamera.

Setelah puas mengelilingi pulau akhirnya gantian giliran kami menunggu delapan teman kami yang baru memulai penjelajahan mengelilingi pulau. Untuk menunggu mereka, kami menikmati segarnya es kelapa muda yang tentu menyiram kehausan tenggorokan kami. Hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 14:30 tibalah saatnya kami kembali ke kapal dengan perasaan gembira dan lelah.

Jika dikalkulasi biaya yang kami keluarkan yaitu sebagai berikut:

  • BBM  = Rp 40.000 pulang pergi untuk 2 orang
  • Kapal = Rp 500.000 pulang pergi untuk 14 orang
  • Sewa snorkling 6 set = Rp 35.000 x 5 unit = Rp 175.000
  • Penginapan (Gratis karena numpang di rumah teman)
  • Konsumsi selama perjalanan = Rp 630.000 untuk 14 orang

Total perjalanan hemat kami Rp 1.345.000 atau kurang lebih iuran Rp 100.000 per orang.

Tentu ini sangat hemat bagi budget traveling kelas mahasiswa seperti kami dengan menyusun itinerary terbaru secara mandiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.