Pesona Mistis Telaga Ngebel Ponorogo

0
779
Sensasi mengendarai speedboat di telaga.

Telaga lain yang pesonanya tidak kalah dengan Telaga Sarangan di Magetan adalah Telaga Ngebel. Jika kebetulan sedang berkunjung ke Madiun atau Ponorogo, kalian bisa sekalian berkunjung ke telaga ini, karena lokasinya berada di perbatasan antara Madiun dan Ponorogo. Lebih tepatnya, telaga ini terletak kurang lebih 30 km dari pusat kota Ponorogo. Oleh karena itu, terdapat dua rute untuk sampai ke telaga ini, yaitu melalui jalur Ponorogo atau jalur Delopo, Madiun.

Perjalanan menuju telaga ini cukup berliku. Bahkan, hingga mendekati telaga, kondisi jalan semakin menyempit sehingga pengunjung yang datang ke sini menggunakan kendaraan pribadi, baik motor ataupun mobil harus berhati-hati. Sesampainya di telaga, pengunjung akan disambut dengan ketenangan dan keindahan dari pesona Telaga Ngebel. Udara sejuk langsung menerpa tubuh pengunjung.

Keindahan alam di Telaga Ngebel.

Waktu terbaik untuk berkunjung ke Telaga Ngebel adalah pagi hari. Pengunjung akan mendapatkan momen matahari terlihat merangkak naik dari balik bukit. Sore hari juga bagus karena permukaan telaga akan berwarna keemasan tertimpa sinar matahari yang akan tenggelam. Jika memilih pergi sore hari, sebaiknya saat musim kemarau. Jika musim hujan, sore hari menjadi waktu yang mengkhawatirkan karena cuaca yang tiba-tiba menjadi mendung kemudian hujan.

Untuk masuk ke telaga ini, pengunjung akan dikenai biaya tiket. Harganya sangat terjangkau untuk semua kalangan. Cukup dengan Rp 10.000 saja, pengunjung sudah bisa menikmati semua keindahan di telaga. Harga itu hanya berlaku untuk hari Senin-Jumat, sedangkan hari Sabtu-Minggu, harga tiket masuknya naik sebesar 50%, yaitu Rp 15.000. Harga ini hanya untuk tiket masuk. Jika pengunjung ingin mencoba sensasi wahana air, pengunjung harus merogoh kocek kembali, tetapi tidak terlalu dalam karena biayanya sangat terjangkau.

Wahana di Telaga Ngebel.

Wahana air di Telaga Ngebel yang bisa dicoba sangat beragam. Ada wahana yang bisa memacu adrenalin pengunjung, yaitu perahu motor. Harga sewa wahana ini memang paling mahal dibandingkan wahana yang lain. Biayanya adalah Rp 50.000, tetapi harga itu bisa dinaiki oleh 3-4 orang sehingga pengunjung bisa membayar dengan patungan. Selain itu, wahana lain yang bisa dicoba adalah bus air. Bus ini akan mengantar pengunjung untuk mengelilingi telaga. Harganya pun sangat murah, hanya Rp 5.000 per orang, pengunjung sudah diajak melihat pemandangan telaga lebih dekat. Sayangnya, bus ini tidak akan berangkat jika belum penuh. Jadi, pengunjung harus bersabar untuk menunggu penumpang lainnya. Akan tetapi, jika pengunjung sudah datang bergerombol, pengunjung sudah bisa langsung naik dengan teman-teman satu gerombolnya.

Wahana air jenis lain yang bisa dicoba adalah bebek air. Bebek itu lebih tepat dinaiki bersama dengan pasangan kekasih, karena bentuknya sangat sesuai untuk dikayuh bersama mengarungi telaga. Hanya dengan Rp 10.000, pengunjung sudah bisa menyewanya. Nah, jika memang tidak menyukai wahana air, pengunjung bisa naik kuda mengelilingi telaga dengan harga Rp 30.000.

Seperti wisata-wisata pada umumnya, tak lengkap rasanya jika tidak diakhiri dengan menyantap kuliner yang terdapat di sekitar telaga. Banyak warung yang menyediakan aneka makanan dan minuman. Saat musim durian, pengunjung akan dimanjakan dengan banyaknya penjual yang menjajakan durian. Aromanya sudah langsung memenuhi telaga.

Merah putih di telaga.

Sebenarnya, telaga ini memiliki mitos yang tidak bisa dianggap sepele oleh masyarakat sekitar. Mitos itu bekembang dan dipercaya oleh semua orang. Katanya, Telaga Ngebel terbentuk oleh air yang keluar dari lubang lidi yang sudah dicabut. Di telaga ini, juga hidup naga yang dikenal masyarakat dengan sebutan “Baru Klinting”. Meskipun ia seekor naga, ia dikenal sebagai naga yang baik hati dan mulia karena tidak pernah mengganggu manusia.

Naga itu merupakan jelmaan seorang Patih Kerajaan Bantaran Angin yang sedang bertapa di gua. Sayangnya, seorang warga membawanya ke desa. Saat semua warga sudah berkumpul, mereka pun memutuskan untuk memasak ular naga itu dan menjadikannya santapan yang lezat. Warga memang sedang kelaparan. Keajaiban pun terjadi. Ular itu berubah menjadi seorang anak kecil saat akan dipotong oleh warga. Anak itu malah mengadakan perlombaan di antara warga. Ia menancapkan lidi dan meminta warga untuk berlomba mencabutnya. Semua orang pun mencoba, tetapi tidak ada yang berhasil. Ia pun mencabutnya sendiri. Keluarlah air yang terus-menerus tiada henti hingga membentuk telaga. Telaga inilah yang dikenal sebagai Telaga Ngebel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.