Pesona Keindahan Pantai Goa Cina Malang

0
439
Bukit kapur yang dijadikan tempat foto.

Membicarakan pantai di Malang seakan tak ada habisnya. Garis pantai yang panjang di sisi selatan kota ini membuat banyak pantai indah bertebaran dan sangat sayang untuk tidak dikunjungi. Termasuk pula Pantai Goa Cina.

Di akhir Oktober yang amat terik, bersama keluarga, saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke pantai ini. Selepas melakukan perjalanan sekitar 2 jam dari pusat Kota Malang, saya telah sampai di Jalur Lintas Selatan (JLS) yang menghubungkan beberapa pantai di Malang. Pantai Goa Cina ini berada dekat pantai lainnya. Beberapa di antaranya adalah Pantai Watu Leter dan Pantai Bajulmati.

Gazebo untuk tempat bersantai.

Selepas membeli tiket seharga 10.000 rupiah per orang, kami pun masuk. Berhubung tahun ini merupakan puncak musim kemarau panjang, maka sinar mentari yang terik langsung saya rasakan. Panasnya mentari ini semakin kuat menghujam tubuh saya lantaran tak banyak pepohonan yang ada di sekitar jalan menuju bibir pantai.

Namun, teriknya mentari tak menghalangi niat saya untuk melakukan eksplorasi di pantai ini. Pasalnya, pantai ini cukup ramai pengunjung. Oh ya, pantai ini sendiri terdiri dari dua lokasi. Lokasi yang pertama adalah pantai yang memiliki hamparan pasir putih yang luas dengan beberapa gazebo di sekitarnya. Di sini, cuaca yang amat panas memang sangat menyengat. Ombak yang menghujam bibir pantai juga cukup dahsyat.

Pengunjung di pantai pertama.

Di pantai yang pertama ini juga terdapat beberapa bukit kapur yang sering digunakan pengunjung untuk berfoto. Meski cantik, mereka harus cukup hati-hati lantaran bukit ini cukup licin akibat terjangan ombak dari laut. Salah melangkah, bisa-bisa kaki terpeleset.

Saya hanya sebentar mengambil foto di sekitar pantai pertama ini. Panas yang semakin kuat membuat saya tidak terlalu betah. Makanya, saya segera melipir ke beberapa gazebo sembari menikmati es degan yang dijual oleh para pedagang.

Setelah melakukan salat dzhuhur, saya melanjutkan berjalan ke arah pantai yang kedua. Antara pantai pertama dan kedua ini dipisahkan oleh sebuah bukit besar. Nah, di dalam bukit tersebut terdapat sebuah goa yang diyakini sebagai goa tempat pertapaan seorang Tionghoa.

Pengunjung memadati gua cina.

Pernak-pernik khas Tionghoa segera saya temukan kala memasuki goa ini. Beberapa pengunjung nekat masuk hingga ke bagian dalam goa. Padahal, sama seperti goa-goa lainnya, hanya kegelapan yang bisa dirasakan. Untuk itu, saya segera bergegas turun dan melihat pantai kedua dari ketinggian.

Apa yang saya lakukan ternyata tak sia-sia. Di pantai kedua ini, saya melihat beberapa pulau kecil yang memagari pantai sehingga ombak yang menerjangnya tak terlalu besar. Inilah alasan mengapa banyak pengunjung yang lebih banyak menghabiskan waktu di pantai kedua ini. Selain ombaknya tak terlalu ganas dan bisa digunakan untuk anak-anak bermain, ada banyak pepohonan yang menaungi bibir pantai ini. Sengatan mentari pun tak terlalu ganas dirasakan.

Pengunjung memadati pantai kedua

Cukup lama saya berada di pantai kedua ini. Tiga pulau yang memagari pantai ini benar-benar indah. Pulau-pulau tersebut adalah Pulau Bantengan dan Pulau Nyonya. Yang membuat saya senang adalah kedua pulau itu tak hanya sekadar pulau karang tetapi ada tumbuhan yang tumbuh subur di atasnya.

Jika datang ke pantai ini, sangat disarankan untuk memakai baju yang menyerap keringat serta memakai topi dan tabir surya. Dibandingkan beberapa pantai di Malang selatan yang telah saya kunjungi sebelumnya, sengatan mentari di pantai ini menurut saya paling terasa. Jika ingin bersantai bersama keluarga, ada baiknya membawa tikar sendiri karena tak ada penyewaan tikar atau alas di pantai ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.