Perpustakaan Terbesar di Banten dan Legenda Cinta Rakyat Banten pada Masa Kolonial

0
165
Tampak dari depan.

Setiap kali saya berkunjung ke Alun-Alun Rangkasbitung, saya tidak pernah sama sekali mendapati tempat ini hening penghuni. Alun Alun Rangkasbitung selalu menjadi sorotan utama bagi siapa pun yang berkunjung ke sini. Apalagi dilengkapi dengan Perpustakaan Terbesar di Banten, Museum Multatuli, Kantor Bupati, dan juga Masjid Agung Al A’raaf yang menawan. Tidak lupa lapangan yang megah di tengah-tengah bangunan yang setiap tahunnya digunakan untuk melaksanakan sholat Idul Fitri. Membuat siapa pun yang berkunjung ke sini selalu ingin berlama lama dan enggan pulang.

Bagi penggemar literasi baca tulis yang berdomisili di Banten, belum sah rasanya jika belum bersaba ke perpustakaan terbesar di Provinsi Banten ini. Perpustakaan ini dinamakan Perpustakaan Saidjah Adinda yang bersandingan dengan Museum Multatuli, yang terletak di sisi timur Alun-Alun Rangkasbitung.

Bukan tanpa alasan perpustakaan ini dinamakan Perpustakaan Saidjah Adinda. Justru di sinilah keistimewaan legenda rakyat Banten pada masa kolonial berada. Mendengar nama Saidjah Adinda dan Multatuli membuat saya ingin mengulas artefak yang cukup berkesan bagi rakyat Banten. Dalam dunia sejarah, nama Multatuli sudah tak lagi asing. Multatuli adalah nama pena dari Eduard Douwes Dekker dengan karya populernya yang berjudul Max Havelaar. Multatuli sempat menjadi Asisten Bupati Lebak pada Masa Kolonial. Ia pernah menulis surat untuk pemerintahan Hindia-Belanda, sebab perlakuan mereka yang tidak adil dan sewenang wenangnya terhadap rakyat Indonesia. Ia berani menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap sistem feodalisme para petinggi yang melahirkan kesengsaraan bagi rakyat Lebak. Sehingga ia banyak mendapat hati dari rakyat dan petinggi-petinggi Lebak saat itu.

Penampakan air conditioner menambah kenyamanan pengunjung.

Dalam Max Havelaar, dipaparkan cerita cinta yang memilukan Saidjah dan Adinda di buku ini. Saidjah bukan berasal dari Bahasa Arab yakni Sayyidah yang artinya ‘nyonya’, melainkan Saidjah anak laki-laki dari seorang petani di daerah Lebak. Mungkin banyak yang berpikir bahwa nama Saidjah Adinda berarti Nyonya Adinda, namun sebenarnya bukan.

Saidjah dilukiskan sebagai laki-laki berikat kepala biru, bercelana pendek dan telanjang dada. Keluarga Saidjah adalah minoritas yang kerap kali ditindas dan seringkali mendapatkan perlakuan yang tidak layak dari pemerintah kolonial. Saidjah adalah kekasih hati dari Adinda. Singkat cerita, Saidjah pergi ke Kota Batavia sekedar mencari pekerjaan selama 3 tahun, tak lain untuk membeli kerbau dan bisa meminang Adinda. Ironinya, takdir berkata lain. Dikarenakan keluarga Adinda tidak mampu membayar pajak pada pemerintah kolonial, Adinda dan keluarganya pergi meninggalkan Lebak dan menetap di Lampung. Mendengar kenyataan pahit ini, Saidjah langsung mencari Adinda ke Lampung. Menyebrangi lautan melintasi Gunung Krakatau dan menjejaki tanah Lampung demi sekedar melepas rindu pada sang pujaan hati. Sesampainya di Lampung, bukan madu yang ia temukan, melainkan racun yang ia telan. Saidjah mendapati Adinda mati dibunuh oleh tentara Belanda. Tak mampu Saidja merasakan kepedihan, ia mengamuk dan melawan tentara kompeni, namun akhirnya juga ia mati karena tertusuk bayonet. Dalam novel ini pula disebutkan salah satu puisi tentang Saidjah untuk Adinda. Salah satunya adalah:

“Jika matahari kesasar jalan. Dan bulan lupa mana Timur mana Barat. Jika waktu itu belum juga datang Adinda. Maka turunlah malaikat dengan sayap kemilau. Ke atas bumi mencari apa yang tinggal. Maka mayatku terkapar di sini di bawah ketapang. Jiwaku alangkah berdukacita…. Adinda!”

Perpustakaan Umum lantai 2 Bidang Cerpen dan Puisi.

Itulah sepenggal kisah Saidjah dan Adinda yang namanya diabadikan menjadi nama perpusatakaan di sini. Perpustakaan Saijah Adinda memiliki 3 lantai, dengan dilengkapi air conditioner yang menambah kenyamanan pembaca. Di lantai pertama terdapat ruangan terbuka berupa area parkir, teras yang cukup luas, kantin, serta mushola. Di lantai kedua terdapat perpustakaan umum, perpustakaan anak, dan terdapat ruangan kecil yang berisi bangku dan meja untuk belajar. Tidak luas namun bersih dan rapi. Membuat pengunjung nyaman untuk sekedar membaca buku di sini. Sebelum memasuki perpustakaan, pengunjung diwajibkan untuk mengisi identitas diri di komputer.

Di lantai ketiga terdapat Gedung Dinas Kearsipan Kabupaten Lebak, gunanya tentulah sebagai tempat untuk menyimpan arsip-arsip penting. Perpustakaan ini dibuka gratis di setiap harinya, namun dengan perbedaan waktu dibukanya saja. Setiap hari Senin-Jumat dibuka dari jam 08.00-15.00 WIB. Hari Sabtu dan Minggu dibuka dari jam 09.00-15.00 WIB. Hari Minggu bertepatan dengan Car Free Day, dibuka dari jam 06.00-08.30 WIB. Dan istirahat pada jam 11.45-12.45 WIB dan tutup pada hari libiur nasional.

Perpustakaan Saidjah Adinda ini diresmikan oleh Bupati Kabupaten Lebak, Hj. Iti Octavia Jayabaya pada tanggal 27 Desember 2017. Perpustakaan Saidjah Adinda ini telah dilengkapi oleh sekitar 15.000 judul buku sebelum diresmikan. Buku-buku tersusun rapi berdasar bidangnya masing-masing, seperti Sastra Indonesia, Biografi, Sejarah Asia, hingga buku buku tentang kuliner. Banyak pula para pencinta perpustakaan yang berkunjung untuk sekedar berdiskusi di sini.

Bentuk Perpustakaan Saidjah Adinda ini dibuat dengan desain artistik kekinian namun sarat akan makna dan budaya. Tampak depan Perpustakaan ini dibuat arsitektur seperti leuit atau tempat menyimpan lumbung padi. Maknanya adalah bahwa perpustakaan ini menyimpan ribuan pengetahuan dan agar menjadi sumber informasi yang luas bagi masyarakat Lebak untuk ke depannya.

Jadi untuk kalian pegiat literasi, tunggu kapan lagi? Mari berkunjung kemari!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.