Perpaduan Bentang Alam dan Budaya yang Menawan di Candi Jedong Mojokerto

0
461
Gerbang pertama dan lanskap Kota Mojokerto dari jauh.

Saya selalu penasaran dengan wilayah Kabupaten Mojokerto yang memiliki aneka candi di berbagai pelosok daerahnya. Rasa penasaran ini membuat saya rela bersusah payah menaiki motor dari Malang menuju kota yang dulunya dijadikan pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit tersebut. Salah satu wilayah yang memiliki aneka situs bersejarah yang cukup banyak adalah Kecamatan Ngoro. Wilayah tersebut lebih dikenal sebagai Ngoro Industri.

Ngoro berada di kaki Gunung Penanggungan dan merupakan salah satu pusat industri terbesar di Jawa Timur bahkan di Indonesia. Saking banyaknya pabrik yang tumbuh subur di wilayah ini, maka saya sempat ragu benarkah ada banyak situs bersejarah pula yang tercecer di sana. Ketika saya masuk ke wilayah Kabupaten Mojokerto, justru rasa pesimis itu yang kian berkelebat lantaran pabrik yang saya temui sangat banyak. Terlebih, kala motor saya melewati kota Kecamatan Ngoro.

Saya ingin ke sebuah candi bernama Candi Jedong. Berdasarkan lokasi di Google Map, saya harus melewati kawasan industri terlebih dahulu. Jalanan khas pabrik dengan lalu lalang kendaraan berat juga meneguhkan bahwa daerah ini sangatlah penting. Padahal, kontur jalan yang saya ikuti semakin menanjak karena tepat berada di kaki Gunung Penanggungan.

Barulah, saat pabrik-pabrik itu mulai berganti perkampungan, saya bisa bernafas lega. Keberadaan candi biasanya tak jauh dari pemukiman penduduk. Nyatanya, walau demikian, masih butuh waktu sekira 15 menit dari awal pemukiman untuk sampai bisa ke candi ini. Saya bersorak ketika melihat sebuah gerbang hijau dengan sebuah bangunan candi di dalamnya.

Gapura kedua dengan lanskap yang menarik.

Selepas memarkirkan motor dan membayar harga parkir sebesar 3.000 rupiah, saya pun masuk. Apa yang saya yakini ternyata salah. Candi Jedong ini ternyata bukanlah sebuah candi. Bangunan ini merupakan sebuah gapura desa merdeka pada masa Kerajaan Majapahit dulu. Untuk itulah, para arekeolog lebih sering menyebutnya sebagai Gapura Jedong.

Hanya ada dua gapura yang berada di sisi barat kawasan cagar budaya ini yang masih utuh. Keduanya dikelilingi tembok besar dari batu bata khas masa Kerajaan Majapahit. Gapura pertama memiliki tinggi sekitar 12 meter sedangkan gapura kedua tingginya hanya separuhnya, yakni 6 meter. Keduanya diduga berasal dari batu andesit yang kerap ditemui pada candi yang dibangun pada abad ke-14 Masehi.

Bersantai di atas tembok Gapura Jedong.

Saya menelisik lebih dalam mengenai kisah pembangunan gapura ini. Ternyata, wilayah yang kini menjadi daerah Ngoro Industri – tempat candi ini berdiri – adalah wilayah independen yang boleh mengatur wilayahnya sendiri dan tidak perlu membayar upeti atau pajak kepada pemerintah Kerajaan Majapahit. Untuk itulah, gerbang besar itu dibangun sebagai tanda bahwa daerah ini berstatus sebagai Desa Pardikan atau desa merdeka. Wah, saya baru tahu kalau dulu ada aturan semacam ini.

Terlepas dari jejak sejarahnya, menikmati segarnya udara di Gerbang Jedong ini sangatlah mengasyikkan. Mengingat letaknya yang berada di kaki Gunung Penanggungan dan juga menjadi salah satu titik awal pendakian gunung tersebut, saya bisa merasakan kesegaran itu. Saya juga bisa menaiki bukit yang masih berada di dalam komplekas candi dan mendapatkan pemandangan indah. Lanskap wilayah Ngoro dan Mojokerto dengan cukup jelas.

Air dari Gunung Penanggungan.

Pemandangan indah itu semakin paripurna dengan hadirnya taman cantik yang mengelilingi gapura. Walau keberadaan desa pardikan itu sudah tiada dan berganti menjadi cagar budaya, namun keindahannya tetap terjaga. Beberapa pengunjung juga duduk-duduk di atas tembok yang mengelilingi candi. Jika ingin merasakan kesegaran lain, ada beberapa pancuran air yang mengalirkan air sumber dari mata air Gunung Penanggungan.

Saya semakin yakin bahwa Mojokerto adalah kota yang cukup asyik untuk dijelajahi. Perpaduan bentang alam dan budayanya menjadi salah satu kekuatan daerah ini untuk menggaet wisatawan untuk hadir. Menikmati alam sekaligus belajar kisah masa lalu yang dimiliki bangsa ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.