Perlukah Membeli JR Pass Untuk Jalan-Jalan Di Jepang?

0
1491
Shibuya crossing, Tokyo.

Jujur saja, tiga kali saya berkunjung ke Jepang, baru di trip terakhir saya beli JR Pass. Mungkin ada yang penasaran, kok jalan-jalan ke Jepang nggak pakai beli JR Pass? Atau mungkin bahkan ada yang bertanya, apa itu JR Pass? Yuk kita kenal lebih lanjut mengenai JR Pass ini.

JR Pass adalah singkatan dari Japan Rail Pass, yang merupakan tiket terusan untuk sebagian besar kereta atau bus yang dioperasikan oleh Japan Railways Group. Japan Railways Group (biasanya disingkat JR Group) adalah semacam PT KAI di Jepang, cuma bedanya JR Group bukan seluruhnya milik Pemerintah. Jaringan kereta JR Group memang yang luas dan cukup merata, sehingga punya tiket terusan akan mempermudah kita untuk naik turun kereta milik JR Group ini.

Apa sih, bentuknya JR Pass? Bentuknya ya kartu biasa. Cara pakainya juga mudah, yaitu cukup ditunjukkan ke petugasnya saat melewati gate masuk area keberangkatan. JR Pass hanya bisa dibeli di luar Jepang, dan diperuntukkan untuk turis. Jadi, warga Indonesia yang kuliah atau bekerja di Jepang tidak bisa menggunakan JR Pass. JR Pass bisa dibeli di banyak agen travel, bahkan juga dibeli secara online. Nah, saya tidak akan banyak berbusa-busa menjelaskan lebih lanjut tentang JR Pass, karena sudah ada banyak di internet. Biasanya yang jualan bisa lebih mampu menjelaskan apa itu JR Pass. Saya lebih ingin bercerita pengalaman saya menggunakan JR Pass, dan juga alasan mengapa perlu atau tidak perlu beli JR Pass.

Keuntungan Membeli JR Pass

Penasaran mau nyobain shinkansen?
  1. Membuat perjalanan lebih fleksibel
    Waktu saya solo backpacking ke Nara – Osaka – Kyoto – Tokyo selama lima hari, menggunakan JR Pass sangat mempermudah saya untuk mengganti itinerary, bahkan di hari H. Contohnya, waktu  saya berangkat dari Osaka ke Nara, sebetulnya saya tidak berminat mengunjungi kuil Horyuji karena letaknya jauh dari pusat kota Nara. Akan tetapi, di perjalanan, saya menemukan keterangan mengenai kuil Horyuji. Ya sudah, tinggal memampatkan jadwal, dan di sore harinya saya berhasil naik kereta menuju ke kuil Horyuji, yang merupakan salah satu bangunan kayu tertua di Jepang. Salah satu faktor penting yang membuat saya berani menyisipkan jadwal kunjungan ke kuil ini adalah… tidak ada lagi tambahan biaya transportasi yang signifikan. Kan tiket keretanya sudah tiket terusan, jadi bisa pindah kereta seenak hati tanpa harus bayar lagi.
  2. Mempercepat perjalanan dengan naik shinkansen
    JR Pass juga bisa dipakai untuk naik kereta cepat atau shinkansen (dengan beberapa pengecualian). Kalau kita punya rencana jalan-jalan di kota-kota yang berbeda, naik shinkansen itu sangat menghemat waktu. Contohnya, saya menginap di Osaka, dan mau ke Tokyo. Naik shinkansen dari Osaka (saya menginapnya di dekat stasiun Shin-Osaka) ke Tokyo cuma menghabiskan waktu 3 jam. Udah gitu, bisa duduk dan relatif sepi. Kalau naik kereta lokal (semacam commuter line di Jakarta), ya sekitar sembilan jam perjalanan. Plus, harus transfer di beberapa stasiun, ramai, dan berdiri pula.
  3. Tidak perlu beli tiket satuan
    Mesin penjual tiket di stasiun umumnya diatur menggunakan bahasa Jepang. Kalau mau pakai bahasa Inggris, ya kita harus ubah bahasanya ke bahasa Inggris. Tapi walaupun pakai bahasa Inggris, kadang membingungkan juga lho. Kalau kita punya tiket terusan, paling tidak kita tidak perlu pusing-pusing menggunakan vending mechine penjual tiket kereta.

Kondisi yang Membuat Kita Bisa Memanfaatkan JR Pass secara Maksimal

Tokyo dilihat dari Tokyo Tower.
  1. Tempat wisata yang dikunjungi dilewati jalur kereta JR Group
    Kalau mau hidup mudah, biasakan riset sebelum mulai jalan-jalan. Jadi, kalau memang perlu beli JR Pass (misalnya karena menginap di Tokyo dan mau jalan-jalan ke Kyoto), sebaiknya memang mencari tempat wisata yang dekat dengan stasiun JR. Contoh tempat yang dekat dengan jalur JR adalah kuil Fushimi Inari Taisha di Kyoto atau Imperial Palace di Tokyo.
  2. Perjalanan antar kota yang dilewati shinkansen
    JR Pass itu harganya lumayan mahal, ya. Kalau cuma dipakai untuk kereta biasa, rugi. Setelah saya hitung-hitung, beli JR Pass itu menguntungkan kalau kita minimal sekali naik shinkansen dari Tokyo ke Osaka, pulang pergi. Kalau tidak, ya paling tidak bolak-balik naik shinkansen Osaka – Kyoto beberapa hari. Kalau harus naik shinkansen ke tempat yang lebih jauh lagi, lebih menguntungkan lagi. Kalau kita beli JR Pass tapi nggak dipakai untuk naik shinkansen, rugi. Soalnya, harga total tiket kereta selama perjalanan kalau beli satuan mungkin jauh lebih murah dibandingkan harga JR Pass.

Perjalanan yang Tidak Memerlukan JR Pass

  1. Area yang dikunjungi tidak dilewati jalur kereta JR Group
    Tadi kan saya menulis tentang keuntungan membeli JR Pass. Nah, keuntungan itu ada catatannya lho. JR Pass hanya berguna kalau kita memang akan menuju ke tempat yang dijangkau oleh jaringan JR Group. Perlu saya jelaskan bahwa di Jepang ada banyak perusahaan kereta. Tidak seperti Indonesia dimana semua rel kereta api pasti milik PT KAI, di Jepang ada banyak jalur kereta milih swasta. Bahkan, di luar pulau Honshu (pulau terbesar di Jepang), seringkali jalur kereta swasta lebih banyak menjangkau tempat wisata dibandingkan jalur JR Group.Sewaktu saya jalan-jalan di Matsuyama, pulau Shikoku, kemana-mana saya naik trem di atas jalur kereta Iyotetsu. Sudah pasti saya tidak pakai JR Pass di sini. Waktu saya jalan-jalan ke Furano, pulau Hokkaido, hampir semua tempat wisata hanya bisa dijangkau oleh bis lokal. Di sini juga tidak ada gunanya beli JR Pass. Tidak terpakai.Umumnya ya, kalau kita pergi ke tempat lain di luar area Tokyo, Kyoto, Osaka, Nara, dan Kobe, beli JR Pass agak-agak rugi. Soalnya ke tempat wisatanya pasti harus pakai jalur kereta lain atau naik bus lokal.
  2. Berminat mencoba kereta tercepat di Jepang, yaitu shinkansen Nozomi
    Saya pernah berkunjung ke Fukuoka, pulau Kyushu. Dari sana, saya memang berencana untuk naik kereta shinkansen tercepat dan terjauh di Jepang, yaitu kereta Nozomi dengan jalur Fukuoka – Tokyo (jarak sekitar 1100 km ditempuh selama 5 jam). Tapi kereta Nozomi tidak dapat dinaiki dengan JR Pass. Jadi, kalau memang minatnya mencoba kereta jarak jauh (banget) seperti Nozomi, rugi beli JR Pass. Langsung beli tiketnya saja di stasiun. Untuk jalan-jalan di dalam kota, beli tiket harian saja.
  3. Hanya jalan-jalan di daerah Tokyo dan sekitarnya
    Ketika beberapa tahun yang lalu saya berkunjung ke Tokyo dan menginap di tempat adik saya, saya juga tidak membeli JR Pass. Soalnya, adik saya tinggal di tempat yang hanya dijangkau oleh jalur kereta Tobu Urban Park Line, jadi nggak bisa pakai JR Pass. Terus, jalan ke mana-mana naik Metro. Soalnya, jaringan kereta Metro di dalam kota Tokyo lebih merata dibandingkan jalur JR Group. Dan, ada beberapa tempat wisata, seperti Tokyo SkyTree, yang lebih baik kalau dikunjungi dengan jalur kereta Tobu.Ini trik penting untuk yang mau jalan-jalan ke Jepang tapi hanya mau muter-muter di Tokyo. Lebih baik punya kartu Pasmo atau Suica. Kartu Pasmo atau Suica adalah kartu pembayaran tiket kereta dan bus di Tokyo. Seperti Ezlink di Singapura. Belinya di stasiun, di vending machine. Kalau bingung, mendingan ke bagian Information di bandara dan tanya gimana caranya membeli kartu Pasmo atau Suica. Kelebihan punya kartu Pasmo atau Suica adalah, kita tidak perlu bolak balik beli tiket kereta. Cukup top up, dan kalau mau masuk stasiun tinggal tap di gate. Kartu Pasmo dan Suica diterima di jalur kereta manapun juga, jadi tidak ada kendala untuk pindah ke jalur milik perusahaan kereta swasta lain.

Nah, buat yang mau jalan-jalan ke Jepang, sebaiknya pikirkan baik-baik, perlu JR Pass atau tidak. Jangan sampai, sudah beli tapi tidak terlalu berguna. Nggak ada salahnya, riset sedikit supaya paling tidak balik modal. Hehehe…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.