Perjalanan Mahasiswa Travelling Yang Berkantong Kering ke Gunung Andong

0
72
Pemandangan Merbabu dan Merapi ketika menuju puncak.

Liburan perkuliahan mulai menjelang. Kebosanan mulai meradang. Ingin travelling namun budget miring, hal yang membuat saya terpaksa berpikir keras untuk menemukan obat menghadapi rasa bosan masa liburan. Iseng membaca artikel tentang gunung di daerah Magelang, Jawa Tengah, yang pada akhirnya membuat saya kembali menjatuhkan pilihan pada Gunung Andong.

Mendaki Gunung Andong waktu itu bukan untuk yang pertama kalinya, mungkin sudah pendakian yang ke-3. Namun, pada pendakian kali ini saya mencoba untuk melakukan solo hiking atau mendaki gunung sendirian. Jalur dan ketinggian dari Andong sendiri yang hanya 1.726 mdpl membuat gunung ini tidak seberat gunung lainnya yang ada di Jawa Tengah sehingga sangat cocok bagi pemula ataupun solo hiking.

Sehari sebelum keberangkatan, saya mulai mempersiapkan barang-barang pendakian untuk satu hari saja. Saya juga mencari referensi jalur terdekat ke basecamp Gunung Andong via Sawit. Kesimpulannya, saya harus menempuh jarak 50 km dari Yogyakarta dan harus melewati Kota Magelang.

Perjalanan dimulai pukul 5 pagi dari rumah menggunakan sepeda motor. Berangkat pagi  hari tidak hanya untuk menghindari macetnya perkotaan, namun juga untuk mendapatkan suasana yang memang sudah jarang ditemui di daerah perkotaan. Pemandangan ini akan didapatkan khususnya ketika melewati daerah Sleman, Yogyakarta yang masih memiliki banyak area persawahan. Belum lagi terasanya keramahan suasana pagi di Pasar Tradisional Terminal Muntilan.

Pemandangan Merbabu dari puncak gunung Andong.

Setelah menempuh 30 menit perjalanan, saya memutuskan untuk beristirahat sejenak sekaligus mengisi bensin dan membeli beberapa logistik. Jika diakumulasikan, uang yang perlu saya keluarkan hanya Rp 30.000. Beberapa kebutuhan seperti air minum saya berusaha membawa sendiri dari rumah demi mengurangi pengeluaran sekaligus penggunaan sampah plastik.

Perjalanan saya lanjutkan dengan perlahan. Hal ini dikarenakan jalanan yang menuju Kota Magelang memang kebanyakan lurus dan sering dilewati kendaraan dari berbagai kota seperti Semarang dan daerah Jawa Tengah lainnya yang akan menuju Yogyakarta. Namun, lelah seketika dapat saya lupakan karena kanan dan kiri jalanan diisi dengan pemandangan persawahan.

Setelah 17 menit perjalanan dari Pasar Muntilan, saya memutuskan untuk mengambil beberapa gambar keramahan masyarakatnya. Saya berhenti sejenak di daerah Canguk, Magelang untuk beristirahat karena setelah dari Canguk jalanan akan mulai sedikit menanjak.

Dari Canguk saya melajukan berkendara menuju basecamp. Setelah 31 menit perjalanan, akhirnya saya sampai di basecamp dengan melewati jalanan perbukitan ditemani pemandangan persawahan dan gagahnya Gunung Merbabu.

Istirahat dengan menikmati suasana alam.

Waktu itu suasana basecamp lumayan ramai sekali oleh pendaki yang menghabiskan malam minggunya di puncak Andong. Setelah duduk santai sejenak dan melakukan registrasi pendakian dengan biaya Rp 8.000 dan parkir Rp 5000 per motor, pendakian saya mulai pukul 06.30 dengan berbekal peta pendakian. Pada saat itu Gunung Andong memiliki  jalur pendakian baru dan saya memutuskan untuk melewati jalur tersebut. Oh ya, berikut rincian pendakian jalur baru Gunung Andong via Sawit:

Basecamp-Pos 1

Dari basecamp ke Pos 1 memakan waktu 10 menit dengan menaiki beberapa tangga pada jalur pendakian. Mungkin jalur tersebut akan membuat orang yang pertama kali mendaki Gunung Andong akan kelelahan karena jumlah tangganya yang lumayan banyak.

Pos 1-Pos 2

Dari Pos 1 menuju Pos 2 jalan masih lumayan landai namun mulai berkelok dengan jumlah pepohonan yang masih banyak sehingga menyebabkan cahaya matahari tidak terlalu menyengat. Perjalanan saya nikmati dengan santai karena pemandangan disamping kiri jalur cocok sekali untuk didokumentasikan. Untuk sampai ke Pos 2 dari Pos 1 mengabiskan waktu 15 menit.

Pos 2-Pos 3

Dari Pos 2 menuju Pos 3 inilah mental sayadiuji. Bahkan tidak hanya mental saja yang diuji, namun juga kesiapan alat yang digunakan karena, walaupun jarak antar pos cukup dekat, tapi jalur tersebut sangat terjal. Belum lagi tanah pada Gunung Andong yang baru saja terkena kabut pagi menjadi lebih licin. Saran saya bagi yang pertama kali akan mendaki gunung atau mengajak anak-anak ke Andong, baiknya melewati jalur utama atau jalur lama. Perjalanan tersebut saya lewati dengan kurun waktu 10 menit.

Pos 3-Puncak

Dari Pos 3 saya langsung menuju puncak tanpa istirahat. Jalur menuju puncak memberikan pemandangan persawahan dan Gunung Merbabu yang sayang untuk dilewatkan. Pemandangan tersebut pun dapat dilihat dengan jelas tanpa terhalang pepohonan, ditambah dengan awan-awan yang sekilas lewat. Untuk sampai ke puncak, saya menghabiskan waktu cukup 10 menit saja.

Pemandangan Merbabu dan Merapi ketika menuju puncak.

Sesampainya di puncak, saya langsung mencari tanah lapang untuk duduk dan minum kopi sambil mendengarkan lagu ciptaan Fiersa Besari. Katanya sih agar lebih afdhol. Yang sangat disayangkan, waktu itu saya lupa membawa penutup wajah karena di puncak ternyata sangat berdebu.

Setelah minum kopi, saya mulai pergi untuk berfoto di sekitar Gunung Andong yang terkenal dengan sebutan satu gunung dengan lima puncak. Tulisan “Selamat Datang di Puncak Gunung Andong” menjadi spot menarik untuk berfoto. Namun, harus mengantri terlebih dahulu untuk bisa berfoto di sana. Setelah itu, saya packing dan memutuskan untuk turun menuju basecamp.

Saya tidak pernah bosan untuk kembali lagi travelling ke Gunung Andong karena keramahan masyarakatnya yang berbeda dari tempat-tempat yang pernah saya kunjungi. Selain itu, pemandangan Gunung Andong yang luar biasa karena di gunung tersebut hampir semua gunung di Jawa Tengah terlihat dari puncak Andong. Makanya, gunung ini mendapat julukan satu gunung bonus lima puncka. Pokoknya, Andong sangat cocok bagi kalian yang ingin mencari pengalaman mendaki sendiri dengan budget terbatas namun perjalanannya tetap berkualitas.

Gunung Andong juga ramah bagi pengunjung sehingga kalian bisa mengajak anak-anak liburan. Namun, bila membawa anak-anak, saya sarankan untuk melalui jalur lama karena jalurnya cukup landai.

Mungkin itu dulu yang dapat saya bagi kepada kalian. Jangan takut melangkah untuk berpetualang karena kita masih berada di Indonesia. Jangan lupa juga untuk buang sampahmu ke tempatnya agar tidak mengotori negeri ini. Salam!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.