Peresean, Tradisi Peringatan Maulid Nabi di Bayan

4
148
Para pepadu siap-siap untuk bertanding.

Hah… ciri khas tradisi Bayan mirip kebudayaan masyarakat Bali?

Bayan merupakan sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Kecamatan ini bisa di tempuh dengan jarak sekitar 41 km dari ibukotanya. Ibukota kabupaten ini terletak di Desa Anyar. Sesuai dengan namanya kecamatan ini terletak paling utara berdekatan dengan Lombok Timur.

Jika mengacu pada data Wikipedia, Bayan memiliki luas wilayah sekitar 366,10 km2 dengan kepadatan penduduk mencapai 131 jiwa/km2, dengan desa/kelurahan sebanyak 9.

Terkait kecamatan Bayan, sebenarnya ada banyak sekali ikon-ikon atau daya tarik dari kecamatan ini, mulai dari budaya, adat-istiadat, pariwisata, ekonomi, dan agamanya. Namun kali ini salah satu yang membuat saya begitu tertarik untuk mengulasnya ialah budaya yang ada di kecamatan tersebut.

Sebenarnya Bayan ialah sebuah kecamatan yang ada di pulau Lombok. Di daerah Bayan ini, merupakan patok dari suku sasak terutama yang berkaitan dengan tradisi maupun adat budaya yang ada di Lombok. Karena selain perayaan maupun tata caranya yang masih sangat kental juga masyarakat setempat masih percaya dan meyakini tradisi-tradisi yang dibawa oleh sesepuh maupun nenek moyangnya, salah satunya ialah perayaan peringatan maulid nabi Muhammad SAW yang kini masih dilestarikan dan dijaga kesakralannya.

proses pemilihan petarung.

Memang, di Pulau Lombok, bukan hanya Bayan yang memiliki tradisi maupun adat budaya yang masih terjaga dan dilestarikan. Jika melihat di kabupaten-kabupaten lain juga masih ada sebenarnya seperti yang ada di Kabupaten Lombok Tengah yang ada di Desa Sade. Kabupaten Lombok Barat yang ada di Gunung Sari, dan Mataram yang ada di Dasan Agung. Namun itu semua saya rasa tidak sekental yang ada di Bayan. Ritual-ritual adat pun masih terjaga di sana dan masih ekses dilakukan dengan mitos-mitos maupun legenda yang masih kental dipercaya. Untuk lebih dalam mengenal tradisi di Kecamatan Bayan ini, saya hendak menceritakan langkah awal untuk bisa menyaksikan perayaan tersebut.

Berangkat dari Mataram pukul 07.15, saya dan teman-teman pergi ke sana menggunakan sepeda motor. Sebenarnya kami pergi ke sana bertujuh, namun kedua teman kami pergi duluan karena sudah janji dengan tuan rumah yang ada di sana (Bayan). Tuan rumah itu namanya Adi, ia juga merupakan teman akrab kami yang berasal dari Bayan. Akhirnya, kami pun berangkat ke sana berlima dan sampai di sana sekitar jam 09.30, jadi kurang lebih perjalanan kami menempuh jarak sekitar 2 jam dari Mataram ke Bayan.

Sesampainya di sana, kami merasa kelelahan karena berkendara selama dua jam tanpa henti. Karena ruas jalan yang tidak sebesar bypass dan lika-liku jalan yang cukup menantang, membuat kami merasa pegal dan ingin tergeletak sesampai di sana. Namun itu semua tidak kami rasakan karena begitu sampai di sana kami langsung disuguhi jamuan makanan oleh tuan rumah. Kami pun makan bersama di sana.

proesesi ritual adat yang dipandu oleh pemangku adat Bayan.

Setelah usai mencicipi jamuan tersebut, kami tidak langsung istirahat, karena saking penasaran kami dengan adat budaya yang ada di sana, Adi mengajak kami bertujuh pergi ke suatu tempat di mana kami bisa melihat bahkan mengadu nyali di sana. Karena malam itu juga Peresean sedang dilaksanakan. Tempat itu ada di sebuah desa kalau tidak salah namanya Desa Loloan. Di desa ini terdapat masjid kuno bekas peninggalan wali, entah nama wali tersebut saya juga tidak begitu hafal. Di sanalah perayaan penyambutan Maulid Nabi dilakukan dengan agenda tradisi Peresean malam.

Namun sebelum itu, ada satu hal yang harus teman-teman tahu, bahwasanya untuk bisa masuk ke area masjid kuno tersebut tidak boleh sembarangan menggunakan pakaian. Oleh sebab itu, kami terpaksa mengganti pakaian kami. Setelah selesai gonta-ganti baju, kami pun berangkat ke sana malam-malam menggunakan sepeda motor.

Sesampainya di sana, di sepanjang jalanan tersebut, orang-orang sudah kelihatan ramai memenuhi area perayaan, dan kami pun memarkirkan motor yang kami bawa di pinggir jalan, setelah itu kami diajak masuk ke area masjid kuno tersebut oleh Adi. Kami kaget, saat itu terdengar alunan musik seperti orang Bali yang sedang melakukan sembahyang di pura. Lantas aku reflek nanya ke dia.

“Biasa, itu suara gong pengiring peresean,” jelasnya, “di sini jangan heran Li, memang bagi orang awam yang baru pertama kali masuk Bayan, selalu bertanya kenapa seperti adat Bali. Tetapi itu hal biasa.” katanya.

Para pepadu siap-siap untuk bertanding.

Setelah puas melihat tradisi dan adat budaya tersebut, saya dan teman-teman kegirangan ingin merasakan bagaimana feel bertarung dan dikelilingi oleh pepadu-pepadu dan orang-orang di sana (Barisan lingkaran). Di sisi lain, kami takut badan kami kena oleh rotan yang digunakan untuk memukul tersebut.

Akhirnya kami pun memilih berdiskusi bersama Adi dan temannya yang satu terkait proses tradisi peringatan perayaan maulid Nabi Muhammad SAW, yaitu dengan agenda Peresean di malam harinya. Di sela-sela itu, Adi menceritakan banyak hal tentang kenapa tradisi peresean ini dilakukan di area masjid kuno dan menggunakan kain selendang atau capuq (ikat kepala).

Adi mengatakan bahwa, “Ya ini merupakan tradisi yang terus dijaga dan dilestarikan oleh nenek moyang kita khususnya yang ada di Kecamatan Bayan. Sejauh ini, memang banyak orang bahkan reporter yang selalu mempertanyakan tradisi ini karena tampilannya yang seperti kebudayaan masyarakat Bali. Namun itu semua tidak mereka dapatkan secara keseluruhan, pengalaman awal memang banyak wartawan, peneliti, dan budayawan melakukan penelitian terkait budaya ini, namun mereka malah salah menilai tentang hal tersebut. Sehingga, jarang sekali orang baru yang ke sini mendapatkan informasi yang aktual dan mendalam, melainkan hanya sebatas permukaannya saja”.

Pada dasarnya, peringatan Maulid Nabi yang ada di Bayan ini berbeda dengan peringatan Maulid Nabi yang ada di kecamatan maupun kabupaten yang lain. Di sana, masyarakat memiliki perhitungan untuk menentukan kapan kegiatan itu dilakukan, tujuan dari kegiatan tersebut yaitu untuk bisa mengerti arti dari bersedekah kepada sesama yang lebih membutuhkan. Untuk menambah kesakralannya, kegiatan itu juga didampingi dengan pembacaan Al-Quran, dengan menambahkan aroma wangi-wangian, dan pembacaan mantra yang dipimpin pemangku adat di sana. Dari kesakralan itu mereka bisa menjadi lebih khusyuk untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta, dengan harapan-harapan yang ingin disampaikan.

proses pemilihan petarung (2).

Lalu, dengan proses peringatannya yang begitu, tidak sedikit orang yang mendefinisikan bahwa peringatan perayaan maulid Nabi Muhammad SAW ini bertolak belakang dengan konsep Islam. Dalam sesi diskusi ringan saya dengan Adi, ia menjelaskan, “Sebenarnya ini yang mau kita tepis (luruskan) bahwa pemahaman orang luar terkait budaya ini. Sebenarnya saya juga, meskipun orang sini, tidak begitu tahu banyak terkait kenapa tradisi perayaan Maulid Nabi ini dilakukan di area masjid menggunakan pakaian seperti masyarakat Bali. Karena selain dirahasiakan, juga sensitif. Kalau pun mau cari tahu informasi-informasi seperti itu, kalian tidak akan pernah mendapatkan yang benar-benar dari pemangku di sini, kecuali kalau kalian sudah lama tinggal di sini. Bahkan sekelas Tuan Guru saja tidak banyak berkomentar terkait tradisi ini. Apalagi sebelum memulai acara diselingi dengan sedikit minuman. Tetapi ini adalah budaya nenek moyang kita yang harus kita jaga dan lestarikan.” ungkapnya.

Memang jika mengacu pada sejarah, tentu ada kaitannya dengan proses penyebaran Islam yang dilakukan oleh para wali terdahulu, seperti Sunan Kalijaga. Ia menyebarluaskan agama islam melalui wayangnya. Kaitannya dengan tradisi peringatan Maulid Nabi di Bayan ini juga tidak terlepas dari hal tersebut. Peresean yang dilakukan di area masjid kuno ini merupakan suatu cara nenek moyang kita supaya menarik minat orang untuk menyebarluaskan agama Islam itu dan juga mau berkunjung ke sini, ke masjid kuno. Dengan begitu orang lain akan tertarik dan mau berkunjung.

Memang jika kita lebih diperdalam lagi tradisi-tradisi yang ada di Lombok ini, tentu masih menyimpan banyak misteri-misteri yang unik untuk diulas. Namun setidaknya, saya sebagai penulis melalui tulisan ini, saya ingin memberikan suatu kontribusi pemikiran yang dapat memahamkan kita semua melalui tradisi yang ada di Bayan untuk mengantisipasi kesalah pemahaman pembaca maupun peneliti terkait budaya tersebut. Agar lebih jelasnya lagi jangan sampai tradisi ini disalahartikan kemudian disebarluaskan melalui tulisan-tulisan sehingga keanekaragaman nya menjadi tercemar dan dilupakan oleh pemiliknya.

Semoga tulisan ini dapat menjadi sebuah inspirasi untuk kita semua dalam memaknai dan mengerti sebuah arti dari pentingnya kebudayaan. Dan juga tidak terlalu cepat mendefinisikan hal-hal yang sensitif untuk disebarluaskan jika data yang dikumpulkan masih kurang.

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.