Pengalaman Open Trip dengan Jeep ke Bromo

0
1573
Pasir Berbisik.

Perjalananku ke Bromo waktu itu bertepatan setelah kejadian terbakarnya Padang Savana dan Bukit Teletubbies. Waktu itu sempat ragu untuk berangkat, karena masih takut akan situasi di sana. Namun, pada akhirnya aku dan temanku tetap memutuskan untuk berangkat ke Bromo, karena kami telah membayar DP untuk open trip ke Bromo kala itu.

Dari Surabaya ke Malang aku dan temanku menaiki kereta lokal dengan tiket seharga Rp. 12.000. Kereta yang kami tumpangi berangkat dari Stasiun Gubeng pada pukul 19:50, kemudian sampai Stasiun Malang sekitar pukul 22:28. Sesampainya di Stasiun Malang, kami bergegas menuju meeting point pada sebuah restoran di Kawi Malang. Sesuai jadwal, kami akan berangkat menuju Bromo pada pukul 00:00. Sembari menunggu, kami pergi ke mini market terdekat mencari bekal untuk perjalanan kami.

Tak berapa lama, sebuah Jeep Hardtop menjemput kami. Awalnya kami mengira hanya kami berdua saja yang mengikuti open trip itu. Namun, ternyata ada 4 orang lain yang juga ikut, jadilah perjalanan menuju Bromo pada dini hari itu cukup membuat tegang, karena jalan yang curam dan terjal serta berkelok-kelok membuat kami terkoyak-koyak di atas mobil.

Kemudian ada momen di mana kabut menutupi seluruh kaca depan mobil yang kami naiki. Aku yang saat itu belum bisa tidur pun hanya terdiam sambil beberapa kali melirik sopir yang mengendarai mobil ini. Berdoa untuk keselamatan kami semua terus aku lakukan selama perjalanan. Berbeda denganku, bapak sopir malah terlihat biasa saja. Mungkin karena sudah terbiasa membawa wisatawan ke daerah Bromo setiap malam.

Berfoto Bersama Jeep yang Ditumpangi.

Ketika sudah sampai di daerah Bromo, kami diarahkan ke daerah Bukit Kingkong, di bukit inilah biasanya wisatawan menyaksikan sunrise dengan background Gunung Bromo. Kala itu masih pukul 03:00 dini hari. Angin gunung yang bertiup membawa butir-butir debu yang berterbangan menerpa kami. Saat itu suhu yang dingin ditambah dengan angin yang kencang membuat kami merasa kedinginan walaupun kami sudah memakai jaket cukup tebal.

Jangan khawatir, jika kamu masih merasa kedinginan, di sana terdapat warga lokal yang menyewakan mantel tebal seharga Rp. 20.000. Tak hanya mantel, mereka juga menjual sarung tangan serta kaos kaki dan juga kacamata. Selain itu sambil menunggu matahari terbit kamu bisa mampir di warung-warung milik warga dan memesan sesuatu yang dapat menghangatkan badan.

Di sana tak hanya warga lokal saja yang berwisata ke Bromo, namun beberapa wisatawan asing juga tertarik mengunjungi Bromo. Beruntungnya, aku kala itu adalah sempat ditraktir minuman hangat dan gorengan oleh teman seperjalanan kami yang bertemu di pada saat di meeting point tadi. Awalnya kami hanya berkenalan kemudian memutuskan untuk mampir dulu ke warung tersebut sembari menunggu matahari terbit.

Setelah itu kami menuju tempat untuk melihat matahari terbit. Tidak ku sangka ternyata di sana sudah banyak yang siap dengan kameranya masing-masing untuk mengabadikan matahari terbit di Bromo. Beberapa orang sedang sibuk memasangkan kamera pada tripod yang sudah dipersiapkannya, ada juga yang masih mencari posisi untuk mendapatkan momen matahari terbit yang tepat.

Pasir Berbisik.

Berbeda dengan yang lain, aku tidak mengabadikan apapun ketika matahari terbit, aku cukup senang menyaksikannya dengan mataku sendiri. Seusai momen matahari terbit, langit berubah menjadi cerah. Kami sempat berfoto dengan background Gunung Bromo di atas Bukit Kingkong.

Kemudian setelah itu kami kembali menemui sopir kami di parkiran Jeep di pinggir jalan. Kami akan menuju ke bawah ke daerah Pasir Berbisik dan Gunung Bromo. Seperti yang bisa kalian bayangkan, debu pasir ikut berterbangan karena deru mobil. Tiba di Pasir Berbisik, kami berfoto sebentar kemudian melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo. Saat itu matahari sudah meninggi dan cuaca terasa sangat panas. Aku mengurungkan niatku untuk mendaki ke Gunung Bromo karena aku tidak kuat dengan panas yang terasa.

Sembari menunggu yang lain, aku mengeksplor sekitar gunung dan beberapa kali mengobrol dengan wisatawan lain mengenai Padang Savana yang terbakar. Setelah semua kembali, kami melanjutkan perjalanan pulang melewati Padang Savana yang terbakar. Sebelumnya, kami ditawari untuk berfoto di Padang Savana tapi kami tidak ingin karena cuaca yang sudah cukup terik. Selain itu, kami juga merasa sedih dengan apa yang terjadi saat itu. Sejauh mata memandang, padang rumput yang gersang berubah menghitam, karena hangus terbakar hampir 70%.

Hal yang aku dapat dari perjalanan kala itu adalah pengalaman dan juga pembelajaran tentang bagaimana hubungan dengan manusia dan alam tercipta. Mendapat teman baru, belajar dari pengalaman orang lain, serta menyadari bahwa manusia tidak ada apa-apanya dibandingkan kebesaran semesta yang diciptakan-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.