Pengalaman Menikmati Tujuh Wisata dalam Sehari di Karanganyar

0
825
Relief di Dinding Candi Sukuh.

Dalam kesempatan kali ini, saya akan menulis tentang pengalaman saya berlibur di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Waktu itu saya pergi bersama Dianne, kawan saya di perguruan tinggi. Dianne berangkat dari Purwokerto sementara saya dari Bojonegoro. Kami berjanji untuk jumpa di Terminal Tirtonadi atau Terminal Solo sekitar ashar.

Kami lalu melanjutkan perjalanan menuju Karangpandan dengan menaiki bus jurusan Tawangmangu. Lama perjalanan sekitar 1,5 jam dengan tarif 7.500 per orang. Setelah tiba di Karangpandan kami dijemput oleh menantu dan anak dari Pak Tarto yang merupakan caretaker villanya Mr. Edwin. Mr. Edwin adalah salah seorang kawan yang saya kenal melalui dunia tulis-menulis alias nge-blog. Sesuatu yang benar-benar tidak bisa diukur nilainya ketika saya yang sama sekali belum pernah bertemu dengan Mr. Edwin, dan dipersilahkan numpang di villa beliau. Bahkan dengan membawa teman. Dan dijemput pula. Luar biasa!

Selepas magrib kami baru tiba di villa. Villanya terletak di puncak sebuah bukit. Halamannya luas dan menghadap Gunung Lawu. Lepas isya’ saya, Dianne, Pak Tarto sekeluarga membuat api unggun di halaman.

Air Terjun Jumog.

Baru esok hari, kami seharian melakukan pembolangan. Kami memakai motor Pak Tarto untuk keliling. Jalanan berkelak-kelok dan menanjak curam. Namun pemandangan di sekitar sangat menakjubkan. Landscape khas pegunungan yang hijau memanjakan mata. Suasana damai yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Melihat kegagahan gunung Lawu, puluhan bukit yang kami lewati, hijau daun teh dan pepohonan, rumah-rumah penduduk yang terlihat bertingkat-tingkat. Juga warga yang ramah dan selalu menyapa. Ah semuanya, indah sekali.

Tujuan pertama kami ke Candi Ceto. Tiket masuk hanya Rp 3.000,- per orang. Dan setiap pengunjung diwajibkan memakai kain hitam putih dengan ‘infak’ seikhlasnya. Usai dari Candi Ceto, kami menuju air terjun Parang Ijo. Tempat ini tergolong baru. Tiket masuk juga hanya Rp 3.000,- per orang.

Wisata ketiga adalah kami menuju Candi Sukuh. Harga tiket sama. Rp 3.000,- per orang. Dan Rp 2.000,- untuk sewa kain hitam putih. Relief pada dinding Candi Sukuh menceritakan kehidupan jaman dahulu. Sayang sekali, waktu itu Candi Sukuh sedang dipugar. Namun, di Candi Sukuh yang sedang dipugar tersebut, kebetulan sedang ada pengambilan gambar sebuah film yang disutradarai Garin Nugroho. Kami hanya menonton sekilas dan bernarsis ria tanpa sempat berfoto bersama atau meminta tanda tangan Om Garin Nugroho.

116 Anak Tangga Menuju Air Terjun Jumog.

Tujuan selanjutnya atau wisata yang keempat adalah air terjun Jumog. Tiket masuk masih sama, Rp 3.000,- per orang. Untuk sampai ke air terjun Jumog perlu menuruni anak tangga sebanyak 116. Berarti untuk kembali ke atas, kami juga menaiki sebanyak 116 anak tangga. Wah lumayan berat juga ini namun bisa sekaligus menjadi olahraga. Hehe.

Jika kita ke daerah kaki Gunung Lawu yang mana di sana ada perkebunan teh, sangat tidak afdhol kalau tidak mampir ke rumah teh. Waktu itu kami bertemu pelancong dari Jakarta. Katanya, ada rumah teh yang terkenal yaitu Ndoro Donker. Maka, kami mampir ke sana.

Selain Ndoro Donker, ada satu lagi rumah teh dengan desain kuno dan nyentrik. Namanya Rumah Teh Bale Branti. Jadi usai dari Ndoro Donker, bisa mengunjungi Rumah Teh Bale Branti. Kami tidak sempat mejeng narsis di rumah teh sebab harus mengejar sunset dari kebun teh. Dan demi foto di sana, esok hari saat kami kembali mampir rumah teh hanya untuk berfoto.

Gerbang Canti Ceto.

Kami tidak berlama-lama di rumah teh. Karena kami harus mendapat sunset dari kebun teh sebagai wisata yang keenam. Di sini gratis. Tinggal pilih mau melihat dari mana. Semua spotnya instagramable. Hijau kebun teh yang meneduhkan.

Setelah puas di kebun teh dan hari menjadi gelap, kami pun pulang ke villa. Saat menuju villa ini kami kesasar sehingga kami harus berputar-putar mengelilingi beberapa perbukitan. Maka, keliling bukit di kegelapan malam adalah wisata yang ketujuh. Hehe. Kelap kelip lampu penduduk yang terlihat bagai bintang yang ditebar. Sesuatu yang akan membuat kita bersyukur.

Banyak sekali hal-hal indah (seringnya konyol) yang sulit dituliskan saat perjalanan. Sesuatu yang akan sobat rasakan jika melakukannya sendiri. Bahkan di setiap tempat wisata yang kami kunjungi menyimpan kisahnya masing-masing. Juga di setiap ruas jalan, ada episodenya tersendiri. Karena itulah perjalanan adalah kenangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.