Pengalaman Mendaki Gunung Merbabu saat Musim Hujan

0
64
Keindahan Gunung Merbabu via Selo.

Gunung Merbabu adalah salah satu gunung paling ikonik di Jawa Tengah. Gunung ini dianggap sebagai salah satu gunung wajib bagi pendaki di Indonesia. Bahkan beberapa pendaki yang ingin mendaki Gunung Kilimanjaro atau gunung tinggi dunia lain berlatih di Merbabu. Dengan ketinggian 3.145 meter diatas permukaan laut, gunung ini selalu menjadi target bagi para pendaki, terutama yang berasal dari Jawa Tengah.

Saya mendaki Gunung Merbabu pada tanggal 7 Februari 2020, tepat ketika puncak musim hujan. Yang menarik, sebelum mendaki saya lebih dulu melihat video di media sosial tentang Pos 2 Merbabu yang banjir dan dialiri air yang sangat deras. Jujur, saya takut dan khawatir dengan kondisi itu. Tetapi entah mengapa saya merasa yakin untuk tetap mendaki dan sepertinya memang semesta merestuinya.

Berangkat dari Yogyakarta pukul 11.00, saya menempuh perjalanan 50 kilometer dengan menggunakan sepeda motor. Untuk pendakian kali ini saya bersama seorang teman dari Bandung bernama Yosep. Kebetulan cuaca sepanjang jalan menuju basecamp Merbabu cerah sekali, bahkan sinar matahari begitu terik menyengat. Sekitar pukul 13.00 kami sampai di Selo, yaitu sebuah kecamatan yang terletak di kaki Gunung Merbabu juga Gunung Merapi. Sesampainya di sana, kami bergegas menuju basecamp untuk melakukan pendaftaran. Kami mulai mendaki pada pukul 15.00 karena ada pengecekan sampah dan kelengkapan pendakian oleh petugas basecamp terlebih dahulu.

Jalur terjal dan licin.

Setelah keluar dari basecamp pendakian, tiba-tiba hujan turun sangat deras. Kabut tebal juga muncul beriringan dengan hujan. Kami langsung sigap memakai perlengkapan seperti jas hujan, rain cover untuk tas kecil, dan plastik anti air untuk perlengkapan di dalam tas. Hari pun semakin sore. Kami pikir semakin cepat semakin baik agar tidak kesulitan ketika mendaki malam hari dengan tubuh yang sudah basah. Perjalanan pun dimulai disertai hujan yang sangat deras.

Basecamp – Pos 1 Dok Malang  

Satu sampai dua jam pertama adalah momen yang sangat berat, khususnya untuk saya. Rasanya jalan kaki 10 menit saja sangat berat. Hujan dan keringat bercampur, sehingga baju bagian luar saya sudah basah sekali. Mungkin fisik yang buruk dan hujan deras menambah berat pendakian kali ini. Tetapi ritme yang santai, obrolan, dan candaan selama pendakian membuat suasana mendaki jadi menyenangkan. Sekitar 2 jam berjalan, saya pun sampai di Pos 1 Dok Malang. Beruntung hujan berhenti ketika kami sampai di sana.

Pos 1 – Pos 2 Pandean 

Setelah istirahat kurang lebih 15 menit, saya melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya. Perlahan saya mulai bisa menyesuaikan diri dengan jalur dan ritme berjalan. Kami juga sudah mulai bisa berjalan tanpa istirahat. Walaupun jalurnya semakin terjal, setelah beradaptasi membuat pendakian terasa lebih nyaman dari sebelumnya. Berjalan selama 40 menit, kami pun sampai di Pos 2. Kurang lebih kami sampai pada pukul 18.00.

Keindahan kabut dan pemandangan dalam jalur pendakian.
Pos 2 – Pos 3 Watu Tulis 

Hari semakin gelap, kami pun beristirahat sejenak di Pos 2. Ternyata cukup banyak pendaki yang membuka tenda di pos ini. Walaupun beberapa hari sebelumnya ada aliran air deras di pos ini, tidak terlalu berpengaruh banyak bagi para pendaki. Kami berjalan menuju Pos 3 dalam kondisi gelap. Jalur di pos ini menantang karena memiliki banyak lubang dan cukup licin. Kami beberapa kali tergelincir, tapi untungnya tidak sampai cedera.

Memang di jalur ini cukup banyak pendaki yang cedera. Kebanyakan akibat tergelincir lalu jatuh ke dalam lubang sehingga kakinya kram atau bahkan sampai bengkak. Setelah kurang lebih berjalan selama 30 menit, tiba-tiba hujan deras turun lagi. Jalur yang licin dan penuh jebakan  itu menjadi semakin sulit lagi. Akhirnya kami pun sampai di Pos 3 setelah melewati jalur yang sulit dalam gelap malam.

Berkemah di Pos 3 Watu Tulis – Sabana 1

Pukul 19.00 kami sampai dan ternyata hujan semakin deras dengan kabut menutupi pandangan. Kami bergegas mendirikan tenda dengan tangan yang mulai mati rasa. Lalu semua barang dan logistik kami masukan ke dalam tenda. Secepatnya kami mengeringkan diri dan memasak air panas. Setelah suasana nyaman dan kondusif, kami memasak perbekalan untuk kami bawa menuju Kenteng Songo, puncak tertinggi Gunung Merbabu. Ingat ya, perbekalan makanan dan minuman dalam perjalanan menuju puncak sangatlah penting!

Itulah cerita pendakian kami dari basecamp sampai ke Kenteng Songo. Pendakian kali ini sangat spesial karena dilakukan ketika puncak musim hujan. Tetapi filosofi pendakian gunung bukanlah puncak gunung semata, melainkan nilai-nilai berharga selama proses perjuangan menuju titik tertinggi sebuah gunung. Terima kasih Gunung Merbabu atas pelajaran berharga dalam pendakian kali ini! Kami pun memutuskan untuk beristirahat agar bisa melanjutkan pendakian esok hari. Badan saya sudah lelah sekali sehingga tidur dan rebahan dalam tenda rasanya sangat nikmat.

Kami bangun pukul 06.00 ketika matahari mulai nampak dan menghangatkan. Udara pagi itu dingin sekali dan angin juga cukup kencang, tapi kami memutuskan bergegas menuju Sabana 1. Selama perjalanan, mata saya dimanjakan dengan keindahan Gunung Merapi. Kebetulan ada sedikit erupsi kecil pagi itu, luar biasa indah! Setelah berjalan selama 1 jam lebih, kami pun sampai di Sabana 1.

Puncak Kenteng Songo.
Sabana 1 – Sabana 2 – Puncak Kenteng Songo

Waktu sudah menunjukan pukul 07.00 dan kami ingin cepat sampai di Sabana 2 agar perjalanan ke puncak juga semakin dekat. Melalui jalur yang penuh bunga edelweiss, kami pun sampai di Sabana 2. Jaraknya ternyata tidak terlalu jauh tapi cukup menguras tenaga  karena jalurnya lumayan menanjak. Kami lalu beristirahat ketika sampai di sana.

Jalur paling menguras tenaga adalah jalur dari Sabana 2 menuju puncak. Setelah berjalan kurang lebih 2 jam, kami dihadapkan dengan tanjakan terjal menuju puncak. Kejadian di Pos 1 terulang kembali. Kami selalu istirahat ketika berjalan selama 5 menit. Rasanya badan ini lemas sekali sampai kadang kami merangkak dan berjalan dengan sangat lambat. Tetapi, setelah berjalan lama, akhirnya kami bisa menikmati puncak Gunung Merbabu.

Dari semua proses itu, saya belajar bahwa yang lebih penting adalah proses. Bukan puncak dan titik tertinggi. Proses lebih penting dibanding ambisi, hal ini terbukti dalam pendakian ini. Terima kasih Gunung Merbabu atas semua pelajaran dalam pendakian ini!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.