Pengalaman Keliling Semarang dan Solo ala Backpacker

0
1071
Monumen Palagan Ambarawa.

Keinginan untuk melihat dunia luar, menyaksikan secara langsung peninggalan-peninggalan sejarah, mengunjungi tempat-tempat yang sedang viral, mempelajari khasanah budaya, menambah saudara, juga pengalaman-pengalaman nan penuh kenangan adalah beberapa kenikmatan yang diburu dan didapat oleh para petualang.

Hari libur yang panjang adalah waktu yang dinanti untuk melakukan petualangan ke luar kota. Ada berbagai cara untuk menikmati liburan biar maksimal. Baik jumlah tempat yang dikunjungi, dokumentasi yang didapat, serta kenyamanan selama perjalanan. Salah satu tipsnya adalah dengan menentukan terlebih dahulu tempat utama yang paling ingin dikunjungi, lalu melakukan list tempat-tempat wisata yang ada di sekitarnya dengan mempertimbangkan jarak antar destinasi dan waktu tempuh.

Namun bagi orang-orang yang tidak begitu tertib (seperti saya dan Mbak Maya), kami bisa melakukan perjalanan dengan mengunjungi tempat-tempat wisata secara acak tanpa harus mewajibkan diri mengunjungi ini, ini, dan ini. Yang penting adalah kami menikmati setiap detik yang berlalu dengan bahagia #eaaa. Nah, caranya adalah dengan mendatangi satu destinasi kemudian di sana bertanya pada penduduk setempat perihal tempat wisata terdekat dan yang sedang populer. Dengan cara seperti ini, apapun yang terjadi dalam perjalanan bisa dinikmati dan menjadi indah.

Kebun teh yang syahdu dengan gerimis.

Ceritanya, saya dan Mbak Maya akan melakukan petualangan ala backpacker selama lima hari empat malam keliling Semarang dan Solo. Kenapa memilih Semarang? Karena Semarang terletak di tengah-tengah Purwokerto dan Bojonegoro. Hehe. Semarang merupakan sejarah yang memiliki koleksi warisan masa lalu yang tersimpan di berbagai museum dan candi. Selain itu, topografi Kabupaten Semarang adalah pegunungan yang menyimpan banyak air terjun cantik yang menggoda untuk dikunjungi.

Mbak Maya naik kereta dan saya naik bus. Kami bertemu di terminal Terboyo. Karena kami ingin jalan-jalan ala backpacker jadi kami sama-sama menggendong dua tas ransel yang berukuran kecil. Awalnya kami berniat menginap di penginapan dekat terminal. Sebab dari sekian teman yang kami hubungi tidak ada yang bisa memberi tumpangan menginap. Ternyata detik-detik terakhir saya sampai terminal, Mbak May baru dikabari temannya, teman kuliah kami dulu. Akhirnya kami akan menginap di kost temannya teman kami. Dari sini kami sudah merasa bagai seorang backpacker sejati.

Lokasi kost teman itu ada di sebelah timur Terminal Terboyo, sehingga jika dari Purwokerto adalah setelah terminal. Seharusnya dari gerbang terminal kami jalan ke timur/kiri. Tapi dengan PD-nya kami malah jalan ke kanan. Karena saya berasal dari arah yang berlawanan dengan Purwokerto! Setelah berjalan cukup jauh kami baru sadar!

Halaman Candi Ceto yang sedang diguyur hujan.

Jarak dari gerbang terminal Terboyo dengan gerbang perumahan kost kawan tempat kami akan menginap sebenarnya hanya sepelemparan batu saja. Karena kami sudah capek berjalan gara-gara salah arah tadi, maka kami memutuskan naik bus. Begitu duduk di dalam bus, kami langsung mengobrol dengan penumpang lainnya. Lalu kami diberi penjelasan oleh seorang nenek kalau tempat yang kami tuju itu sangat dekat, sehingga sebaiknya kami jalan kaki, tidak perlu naik bus ini. Kami jadi galau dan belum bisa membuat keputusan. Dan karena bus tidak segera jalan sehingga kelelahan kami sudah hilang, maka kami putuskan untuk jalan saja! Huahaha. Jadi di bus itu kami hanya numpang duduk saja.

Setelah beristirahat sejenak di kost teman dan kelelahan akibat perjalanan telah sirna, kami memulai perjalanan ke Wisata Penggaron. Tapi ternyata kami salah naik bus! Wahaha. Akhirnya kami berubah haluan. Kami turun di Tembelang. Kami jalan kaki saja menikmati daerah Tembelang dan berhenti di sebuah restoran karena kelaparan. Restoran ini berada di ketinggian sehingga sangat tepat untuk menikmati malam dengan kelap kelip lampu kota. Sayangnya restoran itu pun sudah dipesan. Namun, dengan sedikit mengiba, akhirnya kami diizinkan masuk. Dan itu baru jam 4 sore! Sehingga kami masih harus menunggu dua jam lebih untuk menyaksikan landscape Semarang di waktu malam. Itu pun dengan perasaan ketar-ketir khawatir diusir. Hehehe.

Hari kedua, kami menuju Solo. Dalam perjalanan ke Solo kami mampir untuk mengunjungi tempat wisata yang searah. Kami berkunjung ke Umbul Sidomukti, Museum Palagan Ambarawa, dan Air Terjun Kali Pancur.

Monumen Palagan Ambarawa.

Kami tiba di terminal Solo menjelang magrib dan kami menginap di penginapan dekat terminal. Esok pagi usai subuh, kami melanjutkan perjalanan pada hari ketiga. Kami rencananya akan mengunjungi Air Terjun Tawangmangu, Candi Sukuh, dan Candi Ceto. Namun ternyata hujan turun sangat deras sehingga menahan kami usai dari Air Terjun Tawangmangu. Ketika perjalanan menuju Candi Ceto hari sudah sore dan tidak memungkinkan bila kami kembali ke Solo hari itu juga. Akhirnya kami justru menginap di rumah warga di dekat Candi Ceto. Waaah ini benar-benar sudah seperti backpacker betulan ya? Hehe.

Adalah Ibu Tini, yang berbaik hati memberi kami tumpangan menginap, gratis, tanpa dipungut biaya apapun. Rumah ibu Tini tepat berada di samping Kebun Teh Ngargoyoso. Dan sore itu kami menghabiskan waktu di kebun teh ditemani gerimis yang syahdu.

Esok pagi, hari keempat, kami meluncur ke Candi Ceto. Masih ditemani gerimis yang manis. Ternyata satu kompleks dengan candi Ceto, ada Candi Kethek dan pemandian Saraswati. Dan untuk menuju ke Candi Kethek dan Pemandian Saraswati, diperlukan trakcing melewati beberapa bukit. Tracking ini benar-benar melengkapi cerita perjalanan kami.

Candi Kethek.

Puas di kompleks Candi Ceto, kami kembali ke Semarang dan kami menginap di kost temannya teman kami lagi. Malam hari di Semarang, kami tidak lupa mampir di Masjid Agung. Dari menara masjid, kita bisa menyaksikan hamparan kota Semarang bagai bintang yang ditumpahkan di bumi.

Dan di hari kelima, sebelum kami naik kereta Maharani pukul 11.40 dari Stasiun Semarang Poncol, kami bertandang ke Pantai Maron dan tentu saja belum ke Semarang kalau belum ke Lawang Sewu.

Begitulah sekelumit garis besar cerita perjalanan ala backpacker yang kami lakukan. Dari sekian tempat yang telah kami kunjungi, semua meninggalkan kenangannya masing-masing yang tak terlupakan. Dan bekal yang kami bawa hanya dalam dua ransel kecil itu ternyata cukup hingga hari terakhir. Perjalanan kali telah memberi pelajaran dan kenangan yang tak akan terhapuskan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.