Pengalaman ke Gunung Ijo dan Melihat Pemandangan Sekitarnya

0
1070
Pemandangan perbukitan Menoreh.

Perjalanan itu sudah berlalu sekitar lima tahun yang lalu, namun aku masih mengingat setiap kejadian yang saat itu terjadi. Karena ada hikmah yang benar-benar membekas hingga sekarang. Jadi perjalanan kala itu dimulai dari kota Jogja menuju ke daerah Kulon Progo sekitar pukul 12.30. Aku dan temanku melewati ring road selatan Jogja. Karena sedang musim penghujan, langit Jogja tidak secerah biasanya. Awan-awan mendung menggantung di langit. Dan saat itu, perasaanku sudah tidak enak. Namun aku tidak memberitahu temanku. Aku diam di sepanjang perjalanan sambil memantau google maps dan berdoa. Perjalanan pergi kami cukup lancar. Tidak ada kendala berarti. Kami juga sempat membeli jajanan untuk kami makan di sana.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan. Posisi Gunung Ijo berada di atas Waduk Sermo. Namun tidak searah dengan Kalibiru dan Puncak Dipowono. Kami sempat berhenti di area Waduk Sermo untuk melepas lelah setelah berkendara kurang lebih 1,5 jam. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 14.00. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Ijo. Gunung Ijo merupakan puncak dari perbukitan Menoreh di Kulon Progo yang berbatasan dengan Purworejo. Perjalanan dari Waduk Sermo menuju Gunung Ijo sekitar 1 jam perjalanan. Melewati hutan dengan jalanan aspal yang masih berlubang. Sebagian jalan juga hancur hingga jalanan menjadi berpasir.

Waduk Sermo ketika berangkat.

Setiap menemui rumah warga, kami bernafas sedikit lega karena hutan yang kami lewati memang sepi dan bahkan kami hanya berpapasan dengan kendaraan lain beberapa kali. Setelah sekian lama dalam perjalanan, sampailah kami di daerah Hargotirto, kami tau nama daerah tersebut setelah bertanya pada warga sekitar karena menurut google maps, kami telah sampai pada tujuan. Kami sempat bingung karena di sekitar kami tidak ada informasi apapun tentang Gunung Ijo. Kemudian kami diarahkan oleh warga untuk menuju ke salah satu rumah warga dan bertanya di sana.

Sesampainya di rumah tersebut, bapak pemilik rumah menyambut kami dan menanyakan kami dari mana. Bapak pemilik rumah juga menjelaskan rute yang bisa kami lewati. Dan menjelaskan bahwa lokasi wisata ini memang belum dikelola sehingga tidak ada keterangan apapun. Setelah menitipkan kendaraan di rumah bapak tersebut, kami mulai mendaki. Di sebelah rumah tersebut ada sebuah tangga yang mengantarkan kami pada jalur setapak menuju ke Gunung Ijo. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak dan sampailah kami di rerumputan hijau di mana kami bisa melihat pemandangan pegunungan Menoreh dari atas situ.

Ketika kami berfoto di sana.

Kami beristirahat sebentar di sana, namun ketika kami hendak ke arah puncak, tiba-tiba kabut sudah turun. Karena takut dan kami hanya berdua, akhirnya kami mengurungkan niat dan kembali turun. Setelah sampai di rumah warga tadi, kami melihat ban belakang kami kempes, kami pun dipinjami pompa manual oleh bapak pemilik rumah. Setelah memompa kami pun kembali turun ke arah waduk Sermo lanjut ke arah Jogja.

Namun sampai di jalan raya, motor kami oleng disusul dengan suara angin yang keluar dari ban. Kami langsung menepi dan mencari bengkel terdekat, aku membiarkan temanku duluan dan aku jalan menyusul karena motor sudah tidak bisa ditumpangi. Sekitar 500 meter dari tempat ban kami meletus, kami menemukan sebuah bengkel yang masih buka, saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 17.00. Setelah dibongkar ternyata benar, ban dalam motor yang kami tumpangi meletus dan putus. Akhirnya kami mengganti ban dalam di sana.

Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan pulang. Tetapi belum jauh dari bengkel, tiba-tiba hujan turun lebat. Kami pun menepi lagi menggunakan jas hujan. Saat itu, kami hendak berteduh, namun karena sudah sore kami tetap melanjutkan perjalanan pulang kami di tengah hujan deras. Ternyata, di daerah Jogja kota tidak turun hujan. Kami mampir di Masjid Gedhe Kauman untuk shalat Maghrib sebentar sebelum kami berencana untuk makan di daerah Angkringan Kopi Joss. Setelah shalat, kami pun menuju daerah Stasiun Tugu Yogyakarta. Dalam perjalanan ke sana, aku yang di depan tidak sengaja menabrak seorang pengendara yang tiba-tiba berhenti.

Keindahan Kulon Progo dari Gunung Ijo.

Untung saja pengendara tersebut tidak terjatuh dan kami pun baik-baik saja. Setelah makan kami kembali ke rumah. Sesampainya di rumah kami baru menyadari jika kabel speedometer putus. Saat itu, kami sangat bersyukur sampai rumah dengan selamat. Beberapa kali kami tertawa mengingat kejadian yang kami alami sepanjang siang hingga malam tadi. Saat di rumah, kami pun baru mengakui jika temanku juga mengalami perasaan tidak enak sejak berangkat. Namun kami diam dan tidak saling mengingatkan.

Hikmah dari perjalanan kami yang sangat menjadi pembelajaran kami adalah jangan mengabaikan perasaan “tidak enak” apalagi saat bepergian. Bisa jadi itu sebuah firasat atau peringatan bagi kita untuk berhati-hati. Maka sejak saat itu sebelum berangkat pergi ke suatu tempat, kami selalu merasakan apapun yang kami rasa. Jika ada rasa yang sedikit tidak enak, kami pun mengurungkan niat kami untuk pergi. Semoga teman-teman dapat mengambil pelajaran dari pengalaman kami. Selalu berhati-hati ya..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.