Pengalaman Eksplorasi di Taman Hutan Rakyat Ir. Juanda

0
336
Gerbang Letjen Mashudi THR Ir. Juanda.

Akhir bulan Oktober 2019 ini saya mendapat tugas mengikuti sebuah pelatihan di Bandung. Tepatnya di daerah Dago yang dekat dengan Lembang. Tempat yang sepengetahuan saya merupakan daerah puncak dan menjadi tujuan akhir pekan warga ibukota Jakarta. Artinya, pasti banyak tujuan wisata di dekat tempat saya menginap.

Saya tiba di stasiun Bandung pukul 04.11 WIB pagi hari. Saya tidak langsung ke penginapan. Saya sengaja menunggu hari terang agar bisa menyaksikan pemandangan di Kota Bandung. Maklum, pengalaman pertama berkunjung ke Bandung. Hehe. Setelah hari terang, saya naik taksi menuju penginapan. Atas rekomendasi bapak sopir taksi inilah saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Taman Hutan Rakyat (Tahura) Ir. Juanda.

Taman Hutan Rakyat (Tahura) Ir. Juanda  dikenal juga dengan sebutan THR Juanda, berada di Jalan Ir. H. Juanda No.99, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Bandung, Jawa Barat. Tahura ini dibangun pada tanggal 14 Januari 1985 dan memiliki luas 526,98 hektare (1302,2 ekar; 5,2698 km2). Untuk tiba di Tahura Ir. Juanda, bila dari stasiun atau terminal Bandung bisa naik angkutan umum hingga di terminal Dago. Dilanjutkan naik ojek hingga tiba di lokasi. Tiket masuknya hanya Rp15.000/orang.

Ada berbagai objek wisata yang dapat dinikmati sekaligus di kompleks Tahura Ir. Juanda ini. Setidaknya ada sembilan objek wisata. Pertama dimulai dari museum Ir. Juanda. Lalu Goa Jepang, Goa Belanda, Curug Koleang, Curug Kidang, Curug Omas Maribaya, Batu Batik, Penangkaran Rusa, dan Tebing Keraton yang fenomenal. Akses jalannya sudah berupa jalan aspal hingga Gua Belanda. Dan untuk mencapai objek wisata yang paling jauh yakni Tebing Keraton, jangan khawatir, ada jasa ojek yang siap mengantar Sobat Travelblog hingga tiba di tujuan.

Selain objek wisata di atas, di kompleks Tahura ini ada area bermain, fasilitas outbond, dan area perkemahan. Juga ada cafe dan resto Holland yang tidak hanya menyediakan makanan tetapi juga memfasilitasi spot-spot instagenik dengan tema negeri kincir angin alias negara Belanda.

Fasilitas umum seperti toilet dan mushola juga dalam keadaan baik. Ada dua mushola di kompleks Tahura ini. Dan yang satu, mushola berdinding kaca sehingga terasa seperti rumah kaca. Warung-warung makan juga berjejeran, siap mengamankan perut kita dari kelaparan.

Daftar Objek Wisata di Tahura.

Saya tiba di loket sekitar pukul setengah delapan. Begitu datang, langsung disambut dengan tarian sunyi pohon pinus diterpa angin yang aromanya sangat khas. Beberapa pengunjung juga sudah datang. Ada juga pengunjung yang sedang melakukan pengambilan gambar untuk acara pernikahan.

Hawa di sini sangat sejuk. Oksigen pasti melimpah ruah. Suara-suara hewan yang bernyanyi juga terdengar riuh renyah di telinga. Banyak bangku yang bisa diduduki. Suasana ini nyaman dan pas bagi saya yang semalaman tidur di kereta dari Jawa Timur hingga Bandung.

Ada tiga pintu masuk ke Tahura. Paling enak masuk melalui Pintu Masuk II atau Gerbang Letjen Mashudi. Dari pintu ini kita bisa langsung menuju tempat persewaan sepeda guna memperlancar eksplorasi kita.

Saat saya tiba di tempat persewaan sepeda, ternyata petugas belum datang. Ternyata bapak petugas ada perlu menyervis, sehingga baru datang pukul 10.00 WIB. Jadi tepat dua jam saya menunggu dengan penuh kesabaran sambil ditemani secangkir kopi dan sebiji gorengan. Untunglah suasana di sana sangat nyaman sehingga saya pun bisa menunggu dengan rileks.

Setelah mendapat pinjaman sepeda, segera saya kayuh menuju tujuan yang pertama: Goa Jepang. Saat di pertigaan saya bertemu lalu bergabung dengan rombongan mahasiswa yang terdiri dari lima orang, Kang Riki dan kawan-kawan. Kami berenam berjalan bersama menuju Goa Jepang.

Pintu Masuk Goa Jepang.

Untuk berkeliling di Goa Jepang ada jasa pemandu yang siap menemani sambil berbagi kisah sejarah yang terjadi di Goa Jepang. Tarif pemandu Rp30.000. Sayangnya bapak pemandu lebih banyak menggunakan Bahasa Sunda sehinga saya sama sekali tidak mengerti apa yang beliau sampaikan. Namun begitu, tetap menyenangkan.

Usai dari Goa Jepang kami lanjut ke Goa Belanda. Saya naik sepeda sementara lima kawan baru saya berjalan kaki bersama bapak pemandu. Di Gua Belanda juga ada sewa jasa pemandu dengan tarif yang sama, Rp30.000 per rombongan sekali masuk. Nah meskipun kami menggunakan orang yang sama dengan yang tadi di Goa Jepang, tetap saja ongkosnya dihitung dua ya Sobat.

Goa Jepang dan Goa Belanda sama-sama goa buatan, jadi tidak akan ketemu dengan batu stalagtit atau stalagmit. Di dalam gua gelap gulita (jadi harus menyewa senter) namun terasa sangat sejuk. Perbedaan mendasar Goa Jepang dengan Goa Belanda adalah dinding dan lantainya. Di Goa Jepang, lantai dan dindingnya polos asli dari gunung yang dikeruk tidak dilapisi apapun. Sedangkan dinding Goa Belanda telah dilapisi semen dan lantainya pun sudah ditegel.

Pintu Masuk Gua Belanda.

Selesai dari Goa Belanda saya berpisah dengan kawan-kawan baru tadi dan kembali untuk mengembalikan sepeda. Jalannya sangat menanjak. Kalau tadi berangkat jalannya turun, sehingga saya tinggal duduk manis, giliran pulang saya harus menuntun sepeda. Tak masalah, setidaknya sepeda bisa menjadi teman daripada sendirian, hehe.

Terakhir, setelah mengembalikan sepeda, saya mengunjungi museum sebelum kembali ke penginapan. Ohya, sewa sepeda dihitung perjam dengan tarif Rp20.000. Kalau saya menyewa sepeda hampir dua jam namun cukup membayar Rp20.000 saja sebagai kompensasi atas kesabaran saya menunggu bapak petugas tadi. Hehehe.

Jadi, eksplorasi di Tahura Ir. Juanda kali ini tak sampai separuh objek wisata yang ada. Karena itu, saya merekomendasikan Sobat Travelblog untuk eksplorasi lebih dalam di Tahura dengan berkemah di akhir pekan sehingga cukup waktu untuk menikmati semua objek wisata yang tersedia di Tahura Ir. Juanda dengan bahagia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.